[Cerita Pendek] Dahlia

saying_goodbye2

Dahlia bergegas ke luar dari kamarnya, menyeberangi ruangan lengang berlantai kayu oak yang disikat hingga mengilat menuju ruang duduk. Bertha, pembantunya memberitahu bahwa ada telepon menunggu.

Frank!

Dahlia merasakan debaran keras menghantam dadanya. Berulang kali dia hirup hangat udara petang di akhir musim panas. Ketika debar jantungnya mereda, diangkatnya gagang telepon berbentuk corong dari kotak kayu di dinding.

“Frank?”

Suara gemerisik terdengar dari kejauhan. Lalu suara seorang lelaki merasuki pendengaran Dahlia. “Sayangku? Itu kau?

Dahlia merasa bunga-bunga mekar di dadanya. “Ini aku, Cinta. Bagaimana keadaanmu?”

Aku baik-baik saja.”

Ada jeda mengapung di udara. Begitu banyak yang ingin diutarakan Dahlia. Begitu banyak cerita yang ingin dia bagi. Tapi semua mengental di ujung lidah, tersekat di sana tak mampu cair menjadi kata-kata.

“Kapan kau pulang, Frank?” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Dahlia”

[Flashfiction] Sang Mantan

foto : internet
foto : internet

Sore yang menyenangkan di sebuah kafe yang nyaman. Ditemani secangkir cappucino panas yang kuseruput perlahan aku duduk menanti Cindy datang. Sebenarnya aku sudah menawarkan diri untuk menjemputnya dari tempat arisan, tapi dia menolak.

“Biar teman arisanku yang antar, Mas,” begitu katanya. Aku menurut saja.

Kulirik jam di pergelangan tangan. Cindy sudah terlambat lima menit dari waktu yang dijanjikan. Ah, tak mengapa. Namanya juga perempuan, jika sedang asyik bergosip dengan sesamanya pasti lupa waktu.

“Randiiiiii.”

Dari pintu masuk seorang perempuan berseru sambil melambaikan tangan. Dua perempuan di belakangnya ikut melambai. Bergegas mereka berjalan ke arahku. Aku ingin kabur, tapi terlambat. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sang Mantan”

[Cerita Pendek] Mantan Penasaran

foto : internet
foto : internet

Kesibukanku mengetik sebuah proposal kegiatan yayasan terhenti sejenak ketika sebuah pesan singkat singgah di ponselku. Kulirik nama pengirimnya. Rado. Ah, kenapa dia mengirim sms? Ada sesuatu yang penting?

“Hai, apa kabar? 🙂  ”

Cuma bertanya kabar? Kuketikkan sebuah balasan. Proposal yang sedang kukerjakan sudah hampir selesai. Tinggal mengedit beberapa kesalahan ketik saja.

“Aku baik. Kamu gimana kabar, Do?” Sekedar basa-basi kutanyakan juga kabarnya.

“Aku baik juga. Jadi, tahun baruan kemarin ke mana?

“Di rumah aja.”

“Lho, nggak jadi ke Sabang? Kemarin kan kamu nanya-nanya soal itu?”

“Itu kan pas mau ke sana bulan Desember kemarin. Ngapain ah pergi lagi. Pasti di sana rame banget.”

“Iya juga sih. Lagian bakalan berat kan ninggalin dia sendirian. Hehe.

Aku mengernyitkan dahi. Siapa yang Rado maksud dengan ‘dia’?

“Maksudmu?”

“Hehe..ya pacar lah. Mana tau kaan. 🙂 ”

“Oh..”

Untung saat ini aku sedang menggunakan paket promo dari sebuah operator seluler. Jadi tak ada masalah bagiku mengirim sms singkat sampai berpuluh-puluh kali dalam sehari.

“Pasti udah ada kan? Kamu kan cakep gitu.”

Oh…please deh. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Mantan Penasaran”