[Cerita Hati] Melepas Ayah

pada ayah 2

Mengalir kesedihan dari mataku

Jiwa yang terluka dihempas takdir

Terpuruk jatuh menghilang asa

Berharap surya pinjamkan sinarnya

Mengalir bahagia dari mataku

Sukacita selubungi jiwa

Anugerah yang didapat

Berharap waktu hentikan langkahnya

Oh, permainan hidup yang kurasa

Beri aku tongkat untuk bertahan

Teteskan hujan pelipur dahaga

Agar selamat ke ujungnya

(13/03/2004)

Ketika merenangi kenangan, langkah terhenti pada cerita tentang dia. Tentang kasih sayangnya pada keluarga. Tanggung jawabnya yang besar pada kami semua. Tentang singkatnya masa bersama. Tentang rindu yang semerah bara lalu perihnya menguras kantung air mata.

[Cerita Pendek] Maaf Untuk Ayah

my dad“Nik, mau ke mana?”

Suara serak-serak basah Ayah menahan langkahku sejenak. Tanganku yang semula akan meraih pegangan pintu kuturunkan. Tanpa menoleh ke arahnya kuberikan jawaban, “Rapat, Yah.”

“Malam begini?” Aku sudah menduga Ayah akan menanyakan ini. “Memangnya kenapa?” Aku balik bertanya. Kulirik sekilas wajah tuanya yang tercekat, tak menyangka aku menjawab seketus itu.

“Oh, nggak kenapa-kenapa kok, Nik. Pulangnya jangan kemalaman ya.” Ia tersenyum. Ada satu dorongan dari dalam hati yang membuatku ingin membalas senyum itu, tapi kutahan sekuatnya. Tidak, aku belum memaafkan Ayah.

“Iya. Aku pamit, Yah.” Tanpa menunggu jawaban, kubuka pintu dan menutupnya segera. Kubuka pintu sedan Estillo putih milikku dan segera melaju meninggalkan rumah.

****

Lewat tengah malam ketika aku pulang, kudapati Ayah tertidur di sofa ruang tamu. Hatiku sedikit terenyuh memandangi tubuhnya yang mulai keriput sedikit merosot di sofa. Kuperhatikan sejenak lelaki yang dulu jadi kebanggaanku, pahlawan masa kecilku, tempat aku berlindung, tempat bercerita. Rambutnya yang beruban, kacamatanya sedikit merosot di hidung. Bibirnya sedikit membuka mengeluarkan suara dengkuran halus. Dadanya naik turun perlahan. Dan di dada bidang itu, ia memeluk sebuah foto dalam pigura : foto Ibu.

Ibu. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Maaf Untuk Ayah”

[Cerita Pendek] Rindu Ayah

foto : julaxalay.blogspot.com
foto : julaxalay.blogspot.com

Kamar kos, 00.15 WIB

Di ruangan 3 x 4 meter persegi ini aku dan seorang teman tinggal. Isi kamar laiknya kamar anak kos, hanya ada sebuah meja belajar serta lemari kayu yang kami letakkan di sudut, persis berhadapan dengan ranjang susun. Duduk di kursi lipat, aku sedang pusing menghadapi tumpukan kertas catatan kuliah yang akan di ujiankan besok. Kebiasaan buruk anak kuliah rupanya juga menghinggapiku ; SKS alias Sistem Kebut Semalam. Teman sekamar sedang mencuci di belakang. Entahlah mengapa ia memilih mencuci tengah malam, mungkin agar besok tidak harus mencuci pagi-pagi saat penghuni kos lainnya berebut menggunakan kamar mandi. Supaya bisa pergi bekerja lebih tenang, barangkali. Persis di depan kamar mandi, berjarak sekitar 5 meter terletak sebuah dapur kecil. Pintu dapur tidak pernah dikunci. Toh selain tidak ada barang yang terlalu berharga, letaknya juga ‘aman’ diapit bagian belakang rumah kos sebelah kiri dan kanan.

00.45 WIB

Oahemmm.. Aku menguap lebar. Rasanya mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Padahal masih ada sekian lembar catatan yang belum kubaca. Entah berapa banyak materi yang sudah terserap oleh otakku yang rasanya kian lambat saja. Aku bangkit dari kursi, menggeliat dan menguap lebar. Sejenak mataku berhenti pada sebuah foto keluarga yang sengaja kutempelkan di sisi depan lemari. Ada kami berenam di situ. Aku dan adik-adik, bunda dan…almarhum ayah. Sejenak ada rasa kangen menyeruak memandangi wajah-wajah mereka. Aku tersenyum lalu berjalan ke arah pintu. Rasanya segelas susu hangat akan jadi penutup yang manis buat malam ini.

Sedetik sebelum tanganku meraih gagang pintu, mendadak pintu terbuka kasar. Hampir saja wajahku terbentur pintu. Seketika rasa marah muncul dari dalam diriku, tapi seketika pula kuurungkan melihat siapa yang membuka pintu. Dia teman sekamarku. Hanya sedetik kami berpandangan, dia tiba-tiba memelukku erat. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Rindu Ayah”