[Flashfiction] Elegi Pagi

ilustrasi-vita

sumber

Aku berjingkat merapat di tembok. Sigap merunduk ketika sorot sinar senter menerangi. Setelah tak terdengar suara langkah, aku kembali bergerak menuju pintu besi  dengan gembok besar terpasang.

Tapi kini gembok itu terbuka. “Terima kasih, Martina,” gumamku. Terbayang kembali wajah teduhnya siang tadi.

“Jangan lupa,” pesannya singkat. Tangannya menggenggam jemariku, dan berlalu tanpa menoleh lagi. Di tanganku ada beberapa lembar uang.

Derit pintu terdengar samar saat kubuka. Martina pasti sudah meminyaki engsel-engselnya. Kebebasan untukku terbentang dalam kegelapan malam.

**

Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Elegi Pagi”