[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta

foto : kayuagungradio.com
foto : kayuagungradio.com

“Jadi istri itu harus bisa masak.Biarpun bekerja, perempuan harus menyiapkan sendiri makanan untuk suaminya. Memangnya mau suaminya makan masakan warung melulu?”

Nana mengingat-ingat kalimat lembut tapi menusuk yang diucapkan Rahmi, mertua perempuannya seminggu lalu kala mertuanya itu mengunjungi rumahnya – rumah Nana dan Ridho – sebulan setelah bulan madu usai. Mertuanya melirik sinis pada meja makan yang dipenuhi masakan yang dibeli dari warung makan.

“Memangnya kamu nggak sayang sama perut suamimu, Na?” sindir Rahmi. Nana menundukkan kepala. Dia berharap Ridho ada di sini untuk membelanya. Sayang sekali, Ridho sedang mengobrol dengan ayahnya.

“Ridho itu sukanya semur daging, sayur lodeh, sama sambal terasi. Kamu bisa masak itu semua?”

“Belum, Ma.” Nana pasrah. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta”

[Flashfiction] Rumah Kenangan

foto : inforumah.net
foto : inforumah.net

“It’s always good to come home”

Robin menatap tulisan yang tertera di mug putih yang dipajang di sebuah toko pecah belah. Bergegas ia masuk dan membeli setengah lusin benda itu. Sambil sesekali meneliti sebuah foto, Robin terus berburu barang-barang.

Satu demi satu benda peralatan rumah tangga memenuhi troli. Robin mendorong barang belanjaannya menuju kasir. Setelah membayar, dia mengambil sebuah mug dan mematahkan pegangannya. Dibandingkannya dengan gambar mug yang ada di dalam foto. Dia mengangguk puas.

“Cukuplah untuk hari ini,” gumamnya sambil memberi tanda centang pada selembar foto. Robin membalik-balik beberapa foto. “Giliran ruang tamu mulai besok.”

Robin membuka pintu belakang mobil dan meletakkan barang belanjaan. Segera setelah itu dia berlalu.

**********
Di rumah yang baru selesai dibangun sebulan lalu, Robin duduk sendiri di dapur ditemani secangkir kopi. Robin memegang cangkir kopi sambil mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan. Sesekali ditelitinya selembar foto ruangan dapur yang tergeletak di meja. Ada perbedaan kecil.

“Ah, penata ruang kurang teliti!” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Rumah Kenangan”