[Cerita Pendek] Mantan Penasaran

foto : internet
foto : internet

Kesibukanku mengetik sebuah proposal kegiatan yayasan terhenti sejenak ketika sebuah pesan singkat singgah di ponselku. Kulirik nama pengirimnya. Rado. Ah, kenapa dia mengirim sms? Ada sesuatu yang penting?

“Hai, apa kabar? 🙂  ”

Cuma bertanya kabar? Kuketikkan sebuah balasan. Proposal yang sedang kukerjakan sudah hampir selesai. Tinggal mengedit beberapa kesalahan ketik saja.

“Aku baik. Kamu gimana kabar, Do?” Sekedar basa-basi kutanyakan juga kabarnya.

“Aku baik juga. Jadi, tahun baruan kemarin ke mana?

“Di rumah aja.”

“Lho, nggak jadi ke Sabang? Kemarin kan kamu nanya-nanya soal itu?”

“Itu kan pas mau ke sana bulan Desember kemarin. Ngapain ah pergi lagi. Pasti di sana rame banget.”

“Iya juga sih. Lagian bakalan berat kan ninggalin dia sendirian. Hehe.

Aku mengernyitkan dahi. Siapa yang Rado maksud dengan ‘dia’?

“Maksudmu?”

“Hehe..ya pacar lah. Mana tau kaan. 🙂 ”

“Oh..”

Untung saat ini aku sedang menggunakan paket promo dari sebuah operator seluler. Jadi tak ada masalah bagiku mengirim sms singkat sampai berpuluh-puluh kali dalam sehari.

“Pasti udah ada kan? Kamu kan cakep gitu.”

Oh…please deh. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Mantan Penasaran”

[Cerita Pendek] Cerpen Tentang Cinta

menulis cerpen“Gue pengen nulis cerpen tentang cinta!”

Yudha membalikkan badannya. Pandangannya menyelidik. “Maksud lo?”

Aku menarik sebuah kursi mendekat ke mejanya. “Untuk tugas bahasa minggu ini, gue pengen ngebuat cerpen tentang cinta.”

Dahi Yudha mengerut. Matanya bertanya, “Lalu?”

“Tentang dua orang yang saling mencintai, lengkap dengan hambatan-hambatan yang dialami oleh mereka.”

Mulut Yudha membulat. Oooo. Lalu badannya kembali berpaling. Cuek.

Sial!

******

“Sudah jadi? Sini gue baca dulu.”

Aku memang sengaja meminta pendapat Yudha sebelum mengumpulkan tugas bahasa minggu ini. Pendapat dia selalu objektif. Dia tidak segan memberi kritik bila menurutnya jelek, pun pujian jika bagus. Aku harap-harap cemas menunggu komentarnya.

“Mau dengar pendapat gue?” Yudha bangkit dari kursi di sudut ruangan kelas tempat dia membaca. Aku mengangguk kuat-kuat. Memang itu yang kutunggu.

“Cerpen lo ngebosenin.” Yudha meletakkan kertas berisi cerpenku ke atas meja. Aku terperangah. Begitu burukkah? Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Cerpen Tentang Cinta”

[Cerita Pendek] Senyum Adinda

senyum adinda. 2 jpg

Senyum masih belum juga hadir di wajah Adinda. Remaja tanggung berambut ikal dan panjang itu terus cemberut.

“Bu Nurul pasti sengaja deh nunjuk aku jadi penjaga stand sekolah,” tangannya memuntir ujung rambut, kebiasannya ketika sedang kesal. Mira yang duduk bersamanya hanya mengangkat bahu.

“Iya, coba aja bayangin, aku udah bilang enggak mau, eh Bu Nurul tetap aja maksa.”

“Mungkin supaya kamu bisa belajar, Din,” sahut Mira.

“Belajar apaan? Yang ada capek tahu! Aku kan….”

Ucapan Adinda terputus. Seorang ibu-ibu dengan dandanan meriah sudah berdiri di depan mereka. Tangannya menunjuk ke sebuah hiasan rambut yang terbuat dari anyaman pita.

“Oh, harganya murah kok, Bu. Lima ribu aja,” jawab Mira sambil tersenyum ramah.

“Ih, mahal amat! Tiga ribu deh,” ia mencoba menawar.

“Wah, maaf Bu. Kalau tiga ribu, enggak ada untungnya. Empat ribu lima ratus deh.” Senyum Mira masih mengembang. Adinda yang sejak tadi memperhatikan semakin cemberut.

“Alaahh…barang beginian aja kok mahal. Yang buat pun cuma anak-anak, modelnya juga biasa aja.”

“Ibu, itu….”

Adinda lekas menukas. Hatinya terlanjur panas. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Senyum Adinda”

[Flashfiction] Sabotase

Dara mengangsurkan surat bersampul biru muda  ke tangan Arda. Senyumnya merekah.

“Bacanya setelah pesawatku berangkat, ya.”

Arda mengangguk. Menatap langkah Dara dan kakaknya Dira yang bergegas menuju ruang tunggu bandara.

********

Ponsel Dara bergetar. Arda? Kok sudah menelepon?

“Hai, Arda. Cepet banget nelponnya. Ada apa?”

“Dara, aku mengerti isi surat kamu. Aku janji ga akan ganggu kamu lagi. Semoga kalian berdua bahagia. Selamat tinggal.”

“Arda! Kamu ngomong apa sih? Aku —”

Tuuuuuutttttt…

“Kenapa si Arda?”

“Entahlah, Kak. Dia bilang selamat tinggal ke aku.”

“Mungkin dia emang ga suka sama kamu.”

“Tapi….perhatiannya selama ini?”

Dira mengangkat bahu. Tangannya merogoh tas kecilnya. Selembar kertas biru muda ia remas.

“Sebentar, kakak mau buang sampah dulu.”

********