[Flashfiction] Cinta Tiga Dara

Prompt 62

sumber

“Aku senang akhirnya kita semua berdamai,” Mitha memecah kesunyian. Nita dan Sitta menghela napas panjang lalu mengangguk setuju.

Sitta mengibaskan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. “Semoga hal ini tidak terjadi lagi,” bisiknya. Dia menggeser posisi duduk hingga wajahnya menghadap dua saudara kembarnya. “Maafkan aku,” lanjutnya lirih.

Nita yang duduk di tengah merangkulkan dua lengannya. “Jangan pernah lagi kita bermusuhan gara-gara cowok.”

Dua saudaranya mengangguk sepakat. Lalu yang ada hanya hening. Perempuan-perempuan cantik itu duduk diam di tepi dinding pembatas antara jalan dengan lembah terjal berbatu di sebelahnya. Tak ada yang bersuara untuk beberapa lama.

“Jadi, bagaimana dengan Hans?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta Tiga Dara”

[Flashfiction] Ketika Takdir Berganti

Prompt 57

Lorong sekolah ini masih tampak sama seperti dua puluh tahun lalu. Letaknya di bagian belakang sekolah yang relatif sepi. Sisi kanan dikuasai deretan rak kayu tempat meletakkan aneka barang yang tak terpakai : bahan ajar kedaluarsa, buku soal siswa, perlengkapan olah raga, dan lain-lain. Di dinding kiri tergantung lemari tipis bertutup kaca: majalah dinding. Aku ingat, beberapa kali puisi buatanku mampir di dalamnya.

Aku menatap beberapa kertas di lemari kaca, menikmati beberapa puisi lama. Ketika berbalik, seseorang menyenggol bahuku.

“Eh, maaf,” meski ditabrak, aku lebih dahulu meminta maaf. Kulihat lelaki itu sedikit kesakitan memegang bahunya. Ketika wajahnya purna menghadapku, aku terkesiap.

“Pak Ronal?”

Wajah lelaki itu pun tak kalah terkejut. “Apa yang kau lakukan di sini? Nostalgia?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Ketika Takdir Berganti”

[Flashfiction] How I Met Your Father

foto : littleflocks.wordpress.com
foto : littleflocks.wordpress.com

Sore ini begitu damai. Sepoi angin membelai tubuh yang sedang melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Tapi teras rumah Dokter Kania justru ramai oleh celoteh dua remaja putri yang sedang berbincang seru dengan sang bunda.

“Serius, Ma?” Kinan, putri pertama Kania membelalakkan mata. Kinar adiknya menatap takjub.

Kania mengangguk mantap. “Ularnya besaaar. Tapi Mama nggak takut. Mama ambil kayu lalu Mama lempar. Syukurlah dia pergi.”

Decak kagum memenuhi udara. “Mama pemberani banget.” Kinar geleng-geleng kepala.

“Namanya juga desa terpencil ya, Ma,” sahut Kinan. Kania tersenyum.

“Tapi itu belum seberapa. Ada pengalaman lain yang lebih ‘seru’.” Kania memberi tanda petik di udara sambil mengerling. Kedua putrinya penasaran.

Kania mendekatkan wajahnya pada Kinar dan Kinan lalu berbisik. ““Tentang cowok.”

Dua putri cantiknya langsung histeris. “Ayo, Ma, cerita!” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] How I Met Your Father”

[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat

jam dua

Menjelang sore langit sedikit mendung. Angkasa tampak digelayuti gumpalan awan kehitaman. Angin berhembus kencang. Beberapa helai daun mangga yang tumbuh lebat di samping rumah kontrakan baru aku dan temanku berguguran ke tanah. Kurapatkan jaket sekedar menghalau dingin. Temanku yang kusuruh membeli gado-gado belum juga kembali.

“Ngeteh ajalah,” gumamku. Bergegas aku ke dapur. Saat sedang menyeduh teh, kudengar suara gedoran dari pintu.

Siapa sih, nggak sopan amat?

Aku beranjak malas ke depan rumah. Dari kaca jendela kulihat dua sosok berdiri, seorang lelaki dan seorang perempuan. Kubuka selot pintu.

“Cari sia— heiiii!”

Ucapanku terpotong sebab si lelaki lebih dulu merenggut kerah bajuku. Tatapan matanya menusuk.

“Nama lo Ari kan? Ngaku!” Sentaknya kasar. Wajahnya yang dihiasi bekas luka memanjang tampak seram.

Sia-sia aku meronta. Badan kecilku tak mampu menggoyahkan si tinggi besar. Aku melirik ke perempuan cantik yang masih berdiri di luar pintu. Matanya sembab memerah.

“Lo ikut merkosa adek gue, kan?” tuduhnya lagi.

“Sembarangan! Gue nggak kenal sama dia!” suaraku meninggi. Tuduhan ini keterlaluan! Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat”

[Flashfiction] Sahabat Terbaik Naya

bear friends

Tok tok….

Naya menoleh ke arah pintu. Tapi ia tidak segera bangkit dari ranjang. Ia masih memeluk bantal Winnie The Pooh kesayangannya. Boneka beruang itu tampak pasrah dirangkul erat oleh Naya.

“Siapa? Mira, ya?”

“Iya, Nay.” Sebuah suara menyahut.

“Masuk aja, nggak dikunci.”

Pintu terbuka perlahan. Sesosok tubuh mungil menyembul dari baliknya. Gadis mungil berambut sebahu dengan kacamata berwarna putih bertengger di hidungnya yang mungil. Sebuah senyuman mengembang hangat.

“Kamu apa kabar, Nay?” Mira memeluk tubuh Naya. Naya balas memeluk.

“Baik.” Naya menjawab singkat, lalu menundukkan kepala.

“Ada apa?”

Naya diam.

Mira menunggu dengan sabar.

“Miko ngerjain aku, Mir.” Akhirnya Naya menjawab. Lirih.

“Maksudnya?”

“Iya, dia sengaja nyuruh sepupunya buat ngejebak aku. Kamu kenal Derry?”

Mira menggeleng. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sahabat Terbaik Naya”