[Cerita Misteri] Perjanjian dengan Iblis

Taeyang_Big_Bang-_Teaser_Foto_Misterius

Nurma terbaring lemah di lantai. Seluruh tubuhnya terasa perih. Nurma merasa ingin segera mati.

Krauss….krauss…

Suara itu sungguh membuatnya merinding. Dalam nyeri yang teramat sakit, pikirannya kembali ke masa sepuluh tahun lalu. Saat semua hal ini dimulai.

“Saya ingin kaya, mbah. Saya bosan hidup miskin!”

Mbah Roso menatap tajam perempuan sederhana di depannya. Nurma cukup manis dan tubuhnya sintal.

“Hmmm..Kau tahu kalau syaratnya berat, kan?”

Nurma mengangguk.

“Jika lalai, kau harus membayar dengan tubuhmu.”

Nurma menghela napas.

“Bersedia, mbah!” Nurma menjawab mantap. “Demi kekayaan,” sambungnya dalam hati.

Mbah Roso menyerahkan bungkusan kain mori. “Tanam di sudut kamar setelah ditetesi darahmu. Puasa mutih selama empat puluh hari. Setelah itu bongkar tanah tempat kau tanam kain ini. Makhluk gaib akan memberi kekayaan. Ulangi lagi setiap kau menginginkan harta.”

Nurma manggut-manggut. “Ada syarat lain, mbah?”

“Tiap malam purnama, sembelih ayam cemani. Siram darahnya di atas kuburan kain mori ini.”

“Nggak pakai ini, mbah?” Nurma memberi isyarat dengan tubuhnya.

Mbah Roso tersenyum ganjil. “Semua ada waktunya.” Lanjutkan membaca “[Cerita Misteri] Perjanjian dengan Iblis”

[Cerita Misteri] Pelangkah Jasad

kucing hitam

Sore sebentar lagi berakhir. Sisa-sisa sinar matahari menyemburat di lengkung langit, menghasilkan siluet magis yang menggentarkan hati. Alam mulai hening menyambut malam. Kesunyian siap bertahta di atas cakrawala sebuah desa sederhana.

Namun sunyi lebih dahulu hadir di sebuah rumah beratap rumbia dan berdinding tepas yang terletak di pinggir sungai. Rumah Mbah Ramlah. Beberapa orang duduk diam di kamar milik perempuan berusia nyaris seabad  yang menderita sakit sejak seminggu lalu.

“Sudah ndak ada harapan. Tinggal menunggu waktu saja.” Seorang mantri yang duduk di samping ranjang berbisik lirih.

“Pak…”

Mantri menolehkan pandangan pada seorang gadis yang bersimbah air mata. “Kamu sabar ya, Ning. Doakan mbahmu jalannya lancar. Diampuni dosa-dosanya sama Gusti Allah.”

Ningsih menggigit bibirnya kuat-kuat. “Mbah jangan mati! Nanti Ningsih sama siapa, Mbah?”

Seorang tetangga memeluk Ningsih. Tangannya mengusap rambut Ningsih yang tersedu. “Sabar ya nduk, sabar.”

Dari arah ranjang terdengar suara seperti orang mengorok. Mulut Mbah Ramlah membuka. Matanya mendelik-delik dan tubuhnya bergetar. Lanjutkan membaca “[Cerita Misteri] Pelangkah Jasad”

[Cerita Misteri] Kembali Dari Kematian

voodoo doll

“Mathani, kau yakin?”

Aku memandangi tubuh kurus Ma di tempat tidur. Perempuan yang melahirkanku tampak menderita karena kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dokter di rumah sakit sudah menyerah.  Paling lama seminggu, kata mereka. Aku menghela napas.

Bokor, laksanakan saja. Semoga ini yang terbaik.”

Dukun tua bernama Sefu yang bermakna Pedang dalam bahasa Swahili hanya mengangguk.

“Besok kita mulai. Kuatkan hatimu mulai sekarang.”

***

Tiket pesawat London, Inggris – Kempton Park, Afrika Selatan sudah di tangan. Minggu depan aku akan pulang. Dadaku dipenuhi bayangan kebahagiaan.

***

Bokor Sefu menyiapkan ramuan di sebuah mangkuk tanah liat. Ramuan Bufo Bufo. Aku bergidik menyaksikan jemari kurus itu meletakkan  dengan hati-hati seekor katak Bouga beracun di sebuah wadah berisi seekor ular laut. Kedua binatang beracun itu saling memagut, lalu mati. Bokor menumbuk bangkai keduanya dalam sebuah lumpang kecil hingga halus, menambahkan beberapa ekor lipan, tarantula, biji tcha-tcha, daun pohon jambu monyet dan daun pohon bresillet.

Setelah selesai, Bokor menyerahkan adonan ramuan beracun itu padaku.

“Kuburkan selama dua hari,” perintahnya singkat. Lanjutkan membaca “[Cerita Misteri] Kembali Dari Kematian”

[Cerita Misteri] Kotak Musik Merah Jambu

kotak musik merah jambuKotak musik itu berbunyi lagi!

Tengah malam yang hening. Sangat hening. Jangkrik dan binatang malam lainnya pun seolah enggan bersuara. Manda menajamkan telinga dan membuka mata lebar-lebar. Perlahan rasa takut merayapi hatinya. Ini kedua kalinya kotak berwarna merah jambu dengan figur seorang penari berdiri di tengahnya itu berbunyi. Ketika kotak itu bersuara pada tengah malam kemarin, Manda berpikir mungkin ia lupa menekan tombol off di bagian bawah kotak. Dan tadi pagi sebelum menyimpan kotak itu di bagian bawah lemari pakaian, ia sudah memastikan bahwa kotak itu dalam keadaan mati.

Dan sekarang kotak musik itu berbunyi lagi!

Hati Manda semakin gelisah. Dalam ketakutan ia memutuskan untuk mematikan suara itu. Perlahan ia turun dari ranjang dan melangkah hati-hati menuju lemari. Suara itu terdengar kian jelas. Wajah Manda kian pias. Dikuatkannya hati untuk membuka pintu lemari. Terdengar derit menyayat ketika pintu terbuka perlahan. Suara kotak musik mendadak berhenti.

“Kembalikan.”

Suara lirih yang menakutkan terdengar dari arah kiri Manda. Bulu kuduknya langsung meremang. Meski hatinya menolak untuk menoleh, tanpa disadari kepala Manda justru bergerak ke arah datangnya suara. Wajah Manda kian pasi. Di sudut kiri itu, sesosok perempuan duduk sambil memeluk lutut. Pakaiannya sobek di sana-sini penuh darah. Wajahnya rusak dengan rambut panjang yang acak-acakan menutupi sebagian wajah. Bibir rusak itu kembali berbisik, “Kembalikan.”

Manda berjuang keras mengalihkan pandangannya dari sosok itu. Ketika pandangannya kembali ke kotak musik, ia melihat boneka penari di tengah kotak tengah menangis. Menangis darah!

Kesadaran diri Manda perlahan lenyap. Lanjutkan membaca “[Cerita Misteri] Kotak Musik Merah Jambu”

[Flashfiction] Mawar Darah

mawar

Nek Narti gelisah. Taman mawar di depannya tampak menyedihkan. Bunga-bunga merah itu layu, tangkainya runduk menatap tanah.

Tangan keriput perempuan tua itu menjamah sekuntum mawar yang sebagian kelopaknya telah luruh. Kelopak yang tersisa berwarna pucat.

“Kuharap Danar berhasil atau mawar darah kesayangan Mbah Garang akan mati.”

Nek Narti ketakutan membayangkan kemurkaan Mbah Garang. Itu artinya petaka buat mereka. Ia akan kehilangan kesaktiannya, dan Danar….. ah… Ia bergidik.

“Nek! Dapat!”

Danar memanggul sesuatu yang terus bergerak di dalam karung. Nek Narti mengintip ke dalam. Wajahnya berseri.

“Segera, Danar!”

Danar mengeluarkan gadis remaja dari dalam karung. Pisaunya teracung. Darah tumpah membasahi kelopak mawar. Perlahan, tangkainya menegak. Mawar darah kembali segar.

Nek Narti tersenyum puas.