[Flashfiction] Dokumen Terlarang

perpustakaansumber

“Buka pintunya!” perintah Sergei dingin. Ujung pistolnya menekan tengkuk Sofia. Perempuan muda itu tak punya pilihan. Dia mengarahkan mata kirinya ke arah mesin pemindai retina yang dipasang di kanan pintu. Terdengar bunyi mekanis saat seberkas sinar menelusuri mata Sofia. Suara perintah dari mesin terdengar.

“Tunjukkan tanda pengenal.”

Sofia mengeluarkan benda tipis seukuran kartu identitas dan menempelkannya ke bidang kecil di bawah mesin pemindai.

“Diterima.”

“Buka,” perintah Sergei. Sofia mendorong pintu itu hingga terpentang lebar. Terlihat sebuah ruangan dengan rak besar yang dipenuhi buku di sisi kiri dan kanan. Separuh sisi lain di tutupi rak kecil, menyisakan jalur kecil menuju ruangan berikutnya. Sergei memaksa Sofia terus berjalan, melewati sebuah sofa hijau tua yang terlihat nyaman. Sofia ingat, itu sofa favorit kakeknya, Josef. Ketika mereka telah memasuki ruangan berikutnya, keduanya tercekat. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Dokumen Terlarang”

[Cerita Pendek] Venganza

foto: blog.lib.umn.edu
foto: blog.lib.umn.edu

Rumah peristirahatan Los Cabos milik Juan Pablo yang berjuluk el Mata atau Si Pembunuh tampak semarak. Sebuah pesta kecil diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun Maria Luisa, putri kesayangan si Tuan Besar. Tahun ini usia si gadis mungil menginjak enam tahun. Kedua orang tuanya mengundang kolega dan kerabat dekat beserta anak-anak mereka untuk menikmati pesta. Para orang tua duduk santai di tepi kolam renang, mengobrol sambil menyesap segelas martini. Pelayan berseragam rapi hilir mudik membawa kue dan minuman di atas nampan perak, siap memenuhi semua permintaan tamu.

Aku menatap ke sekeliling. Rumah bergaya mediterania ini sangat indah; bertingkat dua berkelir putih dan terletak persis di tepi Danau Chapala, San Juan, Meksiko. Pagar putih berjajar melindungi rumpun-rumpun mawar putih yang mekar sempurna. Pepohonan cemara yang ditanam memanjang di tepi luar halaman menambah keasrian.

Di halaman berumput yang dipangkas rapi, gadis mungil berbaju cinderella berwarna pink dengan tiara palsu di kepala tengah berlarian bersama teman-teman sebayanya. Sesekali bocah manis itu menjerit senang saat berhasil menangkap temannya. Dari atas panggung tempat si tua Javier mengadakan pertunjukan sulap dan pantomim aku mengamati ketika seorang perempuan berusia 30-an berdiri dari kursinya. Itu Ferra Santos, istri el Mata. Tangannya melambai ke arah Maria Luisa.

“Dulce Maria, berhenti dahulu. Saatnya memukul pinata, Sayang,” perempuan berbaju terusan berwarna merah cerah dan topi jerami lebar berseru lembut. Maria Luisa berhenti berlari dan mendekati ibunya.

“Sekarang, Mama?” mata bulatnya bertanya. Ferra mengangguk.

Ferra menatap ke arahku. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Venganza”