[Flashfiction] How I Met Your Father

foto : littleflocks.wordpress.com
foto : littleflocks.wordpress.com

Sore ini begitu damai. Sepoi angin membelai tubuh yang sedang melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Tapi teras rumah Dokter Kania justru ramai oleh celoteh dua remaja putri yang sedang berbincang seru dengan sang bunda.

“Serius, Ma?” Kinan, putri pertama Kania membelalakkan mata. Kinar adiknya menatap takjub.

Kania mengangguk mantap. “Ularnya besaaar. Tapi Mama nggak takut. Mama ambil kayu lalu Mama lempar. Syukurlah dia pergi.”

Decak kagum memenuhi udara. “Mama pemberani banget.” Kinar geleng-geleng kepala.

“Namanya juga desa terpencil ya, Ma,” sahut Kinan. Kania tersenyum.

“Tapi itu belum seberapa. Ada pengalaman lain yang lebih ‘seru’.” Kania memberi tanda petik di udara sambil mengerling. Kedua putrinya penasaran.

Kania mendekatkan wajahnya pada Kinar dan Kinan lalu berbisik. ““Tentang cowok.”

Dua putri cantiknya langsung histeris. “Ayo, Ma, cerita!” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] How I Met Your Father”

[Flashfiction] Kapok!

agung hercules
“Cut!”

Sutradara berteriak keras. “Agus! Saya udah bilang, kamu itu jatuhnya mesti real! Mesti terlihat beneran! Masak gitu aja nggak bisa sih?”

Agus, lelaki bertubuh kekar dengan gumpalan otot bertonjolan di lengan mengangguk lemah. Tubuhnya terasa ngilu akibat adegan jatuh berkali-kali. Tapi dia tak berani mengeluh.

Maharani, artis cantik yang berperan sebagai putri jutawan yang diculik oleh preman yang diperankan Agus mendekat. Senyuman manis terkembang. Dari bibir mungilnya meluncur kalimat menusuk hati.

“Kalo akting yang bener ya, Mas. Jangan ngerugiin orang kayak gini dong. Sudah hampir pagi nih!”

Maharani mengalihkan pandangannya pada sutradara, memberi isyarat dengan jari. Sutradara mengangguk.

“Oke, scene 45, take 7. Action!” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Kapok!”

[Flashfiction] Menuju Ovum

foto : bisnisonlinenews.blogspot.com
foto : bisnisonlinenews.blogspot.com

Ledakan besar! Sebuah semburan dahsyat! Kami beramai-ramai melompat, berlari cepat seolah jarak bisa dilipat. Di kanan kiri kulihat teman-temanku saling berlomba. Gerakan mereka begitu gesit. Tangkas! Sebentar saja aku sudah tertinggal.

“Hei, ayo bergegas!”

Kutolehkan pandangan pada teman yang menegurku sambil berusaha berlari secepat-cepatnya. Tapi cacat kecil di ekornya membuat larinya sedikit tersendat. Kulirik ekorku, bentuknya juga tak sempurna. Sebagian besar kawan lain memiliki ekor sempurna sehingga mereka lebih kuat dan mampu berlari secepat kilat.

“Hosh..hosh..” sebentar kemudian kudengar napasnya mulai sesak. Dia berhenti, aku menjajari langkahnya.

“Sudahlah, tak usah dipaksakan. Kita tak akan sampai duluan. Biarkan saja mereka yang mendapat gadis cantik bertubuh bulat itu,” kataku pada si kawan.

Dia mengangguk. Berdua kami berjalan santai menyusuri lorong panjang. Sebagian besar temanku sudah tak kelihatan.

“Apa kau tahu dimana kita sekarang?”

Si Kawan mengendus-endus. Sniff…sniff…

“Aku tak tahu. Di sini tak wangi, juga tak bau.”

“Wangi? Bau?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Menuju Ovum”

[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta

foto : kayuagungradio.com
foto : kayuagungradio.com

“Jadi istri itu harus bisa masak.Biarpun bekerja, perempuan harus menyiapkan sendiri makanan untuk suaminya. Memangnya mau suaminya makan masakan warung melulu?”

Nana mengingat-ingat kalimat lembut tapi menusuk yang diucapkan Rahmi, mertua perempuannya seminggu lalu kala mertuanya itu mengunjungi rumahnya – rumah Nana dan Ridho – sebulan setelah bulan madu usai. Mertuanya melirik sinis pada meja makan yang dipenuhi masakan yang dibeli dari warung makan.

“Memangnya kamu nggak sayang sama perut suamimu, Na?” sindir Rahmi. Nana menundukkan kepala. Dia berharap Ridho ada di sini untuk membelanya. Sayang sekali, Ridho sedang mengobrol dengan ayahnya.

“Ridho itu sukanya semur daging, sayur lodeh, sama sambal terasi. Kamu bisa masak itu semua?”

“Belum, Ma.” Nana pasrah. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta”

[Flashfiction] Sirih Tanya

Belum sempat Malia menjalankan motornya, Vira sudah menyerbu ke arahnya.

“Uh, untung kau belum pergi ngantor! Lia, nanti sore temani aku ya?”

Malia mengernyit. “Kemana?”

“Rumah Mbah Ellen. Mau minta sirih tanya. Kelakuan Mas Rian makin mencurigakan. Dia jadi manis banget sama aku. Sebelum ngantor pake cium kening segala. Pulang kantor langsung peluk-peluk. Biasanya? Nggak pernah! Dia pasti selingkuh! Aku harus tahu, siapa perempuan itu!”

“Jangan nuduh gitu, Mbak. Kan justru bagus kalau Mas Rian mesra sama mbak?”

“Alaaah, pokoknya mencurigakan! Temani ya!” desak Vira. Malia mengangguk terpaksa.

**********

Vira duduk bersandar di tubuh Rian yang sedang menonton siaran berita sambil sesekali menyesap teh melati favoritnya.

“Udah ngantuk, Mas?”

“Belum!”

“Ngantuk dong. Aku udah nih.”

Rian menatap mata istrinya. Vira ‘pengen’? Vira hanya diam. Rian juga diam. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Iya deh.”

Rian mematikan TV dan beranjak ke kamar tidur. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sirih Tanya”