[Cerita Pendek] Menentang Naluri

foto : 4shared
foto : 4shared

“Paa, ayo cepetan!”

Dari dalam kamar bisa kudengar suara nyaring istriku memanggil dari teras. Sudah menjadi kebiasaannya untuk berteriak jika sedang terburu-buru. Padahal kamar kami dengan teras hanya berjarak sekitar dua meter karena letaknya paling depan.

“Iya, Maaa,” aku balas berteriak. Kusambar jaket kulit berwarna cokelat dari dalam lemari. Menyisir rambut sekadarnya lalu bergegas keluar.

“Papa, lelet banget sih?” omelnya ketika melihatku muncul di ambang pintu. “Ntar kita telat kan nggak enak,” tegasnya. “Tuh, rambutnya masih berantakan lagi!” sambungnya kesal.

Aku hanya nyengir, mengunci pintu depan lalu menuju mobil. “Ini kan bukan acara resmi, Ma,” aku membela diri. “Bahkan semestinya kita nggak usah ikut aja. Nanti Mama nggak tahan.”

Sambil menutup pintu mobil istriku menyahut singkat,”Tahan, kok.” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Menentang Naluri”

[Cerita Pendek] Siasat Dara

foto : bamruno.blogdetik.com
foto : bamruno.blogdetik.com

Kau di mana? Cepatlah datang!

***

Temaram senja membangkitkan suasana romantis. Semburat sisa-sisa cahaya surya membentuk mosaik indah di angkasa. Suara debur ombak dan kesiur angin menambah kesyahduan. Di dalam kamar sebuah pondok yang terletak terpisah dari pondok-pondok lain, aku dan Rama duduk berdekapan di ranjang. Sedikit rasa gundah kusimpan di balik senyuman.

“Ah, aku masih kangen, Hun. Jangan pulang malam ini, yah?” Rama mengajuk. Jemarinya mengelus bahuku.

Aku tersenyum. “Aku juga maunya nggak pulang, Say. Tapi apa istrimu, eh siapa namanya? Tara? Apa dia nggak nanyain kamu nanti? Lagian besok suamiku sudah pulang.”

“Tary,” Rama mengoreksi. “Ah, kalau soal dia, tenang aja.” Ia tersenyum yakin. “Nah, tinggal gimana cara kamu ngasih alasan ke suamimu. Bilang ada reuni kek, ketemu rekan bisnis, atau apa sajalah,” usulnya.

Aku cuma manggut-manggut.

Suara piano intro lagu Someone Like You milik Adele mengalun dari ponselku. Aku menggeliat dari pelukan Rama dan bangkit meraih ponsel dari atas meja di seberang ranjang. Sebelum mengambil ponsel kulirik paras tampan Rama yang berubah waspada. Kuabaikan pertanyaan di matanya. Kubaca pesan yang tertera.

Akhirnya!
Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Siasat Dara”

[Flashfiction] Sang Mantan

foto : internet
foto : internet

Sore yang menyenangkan di sebuah kafe yang nyaman. Ditemani secangkir cappucino panas yang kuseruput perlahan aku duduk menanti Cindy datang. Sebenarnya aku sudah menawarkan diri untuk menjemputnya dari tempat arisan, tapi dia menolak.

“Biar teman arisanku yang antar, Mas,” begitu katanya. Aku menurut saja.

Kulirik jam di pergelangan tangan. Cindy sudah terlambat lima menit dari waktu yang dijanjikan. Ah, tak mengapa. Namanya juga perempuan, jika sedang asyik bergosip dengan sesamanya pasti lupa waktu.

“Randiiiiii.”

Dari pintu masuk seorang perempuan berseru sambil melambaikan tangan. Dua perempuan di belakangnya ikut melambai. Bergegas mereka berjalan ke arahku. Aku ingin kabur, tapi terlambat. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sang Mantan”

[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat

foto : uniknya.com
foto : uniknya.com

“Nek, aduh akika susah jalannya niih. Banyak pecahan batu,” Tammy menggerutu pelan. Lelaki gemulai bergaun merah menyala yang dipanggil ‘nek’ menempelkan telunjuknya di bibir.

“Ssst, yeyy jangan berisik deh. Mau itu petugas trantib nemuin kita?” Mantili mengintip ke luar jendela. Berkas-berkas sinar senter tampak berkelebat. Derum mobil terdengar meningkahi. Sebuah berkas sinar tepat lurus mengarah ke jendela. Sigap Mantili menunduk.

“Ssst, pindah! Pindah!” Mantili berbisik pada Tammy. Tammy yang sedang berjongkok di pojok mendelik. Matanya bertanya, “Kemana?”

Mantili tak menjawab. Masih dengan menunduk dia bergerak makin ke belakang bangunan tua yang telah lama ditinggalkan ini. Tammy mengikuti sambil menenteng high heels.

“Capcus!” Mantili berdesis. Tammy cuek.

“Eh, kita di mana nih?” bisik Mantili ketika mereka sampai di sebuah ruangan. Tammy cemberut. “Akika mana tahu? Yeyy yang bawa kita ke mari.” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat”

[Flashfiction] Timun Mas & Raksasa Sakit Hati

foto : folktalesnusantara.blogspot.com
foto : folktalesnusantara.blogspot.com

Jaka dan istrinya Dara duduk di beranda rumahnya dengan perasaan gelisah bukan kepalang. Janji tujuh belas tahun silam harus ditunaikan. Jaka menatap wajah jelita istrinya.

“Bagaimana ini, Bu?” keluhnya.

Dara menunduk. “Raksasa itu akan datang mengambil Timun Mas. Lalu pasti dia akan marah besar.”

Jaka meremas rambutnya. Bingung.

“Semua ini salahmu, Pak!” tiba-tiba Dara menuding.

Jaka tergeragap. “Ta..tapi…”

“Nggak sengaja?” Dara meradang.” Sudah kubilang, jangan terlalu banyak minum tuak. Nanti….”

Belum usai Dara mengomel, dia menyadari sesuatu. Kendi air yang diletakkan di atas meja bergetar. Awalnya hanya getaran kecil lama kelamaan berubah kian besar.

Raksasa! Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Timun Mas & Raksasa Sakit Hati”