[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat

foto : uniknya.com
foto : uniknya.com

“Nek, aduh akika susah jalannya niih. Banyak pecahan batu,” Tammy menggerutu pelan. Lelaki gemulai bergaun merah menyala yang dipanggil ‘nek’ menempelkan telunjuknya di bibir.

“Ssst, yeyy jangan berisik deh. Mau itu petugas trantib nemuin kita?” Mantili mengintip ke luar jendela. Berkas-berkas sinar senter tampak berkelebat. Derum mobil terdengar meningkahi. Sebuah berkas sinar tepat lurus mengarah ke jendela. Sigap Mantili menunduk.

“Ssst, pindah! Pindah!” Mantili berbisik pada Tammy. Tammy yang sedang berjongkok di pojok mendelik. Matanya bertanya, “Kemana?”

Mantili tak menjawab. Masih dengan menunduk dia bergerak makin ke belakang bangunan tua yang telah lama ditinggalkan ini. Tammy mengikuti sambil menenteng high heels.

“Capcus!” Mantili berdesis. Tammy cuek.

“Eh, kita di mana nih?” bisik Mantili ketika mereka sampai di sebuah ruangan. Tammy cemberut. “Akika mana tahu? Yeyy yang bawa kita ke mari.” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat”

[Flashfiction] Menuju Ovum

foto : bisnisonlinenews.blogspot.com
foto : bisnisonlinenews.blogspot.com

Ledakan besar! Sebuah semburan dahsyat! Kami beramai-ramai melompat, berlari cepat seolah jarak bisa dilipat. Di kanan kiri kulihat teman-temanku saling berlomba. Gerakan mereka begitu gesit. Tangkas! Sebentar saja aku sudah tertinggal.

“Hei, ayo bergegas!”

Kutolehkan pandangan pada teman yang menegurku sambil berusaha berlari secepat-cepatnya. Tapi cacat kecil di ekornya membuat larinya sedikit tersendat. Kulirik ekorku, bentuknya juga tak sempurna. Sebagian besar kawan lain memiliki ekor sempurna sehingga mereka lebih kuat dan mampu berlari secepat kilat.

“Hosh..hosh..” sebentar kemudian kudengar napasnya mulai sesak. Dia berhenti, aku menjajari langkahnya.

“Sudahlah, tak usah dipaksakan. Kita tak akan sampai duluan. Biarkan saja mereka yang mendapat gadis cantik bertubuh bulat itu,” kataku pada si kawan.

Dia mengangguk. Berdua kami berjalan santai menyusuri lorong panjang. Sebagian besar temanku sudah tak kelihatan.

“Apa kau tahu dimana kita sekarang?”

Si Kawan mengendus-endus. Sniff…sniff…

“Aku tak tahu. Di sini tak wangi, juga tak bau.”

“Wangi? Bau?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Menuju Ovum”