[Cerita Hati] Rezeki Pelupa

pelupaBeberapa hari lalu aku sempat kegirangan ketika sedang ‘membongkar’ lemari pakaian, dari lipatan pakaian yang paling bawah jatuh segulung uang berwana merah. Seratus ribuan! Bergegas kuambil dan kubuka gulungan itu. Ada dua lembar uang bergambar para proklamator. Alhamdulillaaah.

Namun tak urung ‘penemuan’ itu membuat hatiku bertanya-tanya. Itu uang yang mana ya? Bukaaan, bukan maksudnya uangku banyak sekali sampai bingung itu uang yang mana (amiiin… :p ) tapi aku sama sekali nggak ingat kapan aku menyimpan uang di situ. Lama kupikir tapi nggak juga teringat. Ya sudahlah.

Kalau kuingat-ingat sudah beberapa kali aku menemukan ‘harta karun’ serupa itu di banyak tempat lain. Di saku celana yang sudah dicuci, di dalam kantong belakang tas kerja, di bawah taplak meja, atau bahkan di bawah kasur! Apa memang secara nggak sadar aku suka menyimpan uang di tempat-tempat nggak lazim ya? Hehe. Lanjutkan membaca “[Cerita Hati] Rezeki Pelupa”

[Flashfiction] Apa Kabar, Mama?

menelepon mama

“Hai, sayang.” Melalui speaker ponsel, suara lembut istriku menyapa Rania, bocah kecil kami.

“Mama apa kabar?” Mata indah Rania berbinar.

“Mama baik-baik saja, sayang.”

“Mama kapan pulang? Nia kangen!” Gadis kecil itu sedikit mengajuk. Ia menoleh ke arahku. “Pa, Mama belum sembuh ya?”

“Eh, Nia kok tanya Papa? Tuh, kan sedang ngobrol sama Mama.” Rania mengalihkan perhatiannya.

“…….segera pulang, kok.”

“Ma, tadi di sekolah gambar Nia dapat nilai 90!”

“…….jadi anak yang baik ya.”

“Trus, Ma, kata Bu Guru..” kalimat Rania terhenti. Mendengarkan.

“……sudah dulu ya, sayang.”

Klik.

“Pa, Mama kok ngobrolnya nggak nyambung ya?”

Aku terdiam. Rania semakin besar. Sebentar lagi rekaman suara almarhumah istriku takkan bisa menutupi kenyataan pahit ini.

[Flashfiction] Anakku Matahari

Terik. Angin mati.

Matahari seolah sejengkal jarak dari kepala. Marwan mengelap lelehan keringat di wajah. Napasnya mengembus keras.

Marwan melirik pria tambun yang duduk santai di becaknya. Sebersit iri menyelimuti hati. Ah, nasib tiap orang berbeda, yang penting kerja keras. Marwan menenangkan batinnya.

“Stop bang.”

Baru saja lelaki itu turun seorang bocah lucu menyongsong. “Papaaaaa.”

Lelaki itu segera memeluk si bocah lalu tertawa riang. Marwan memandangi mereka, lalu sebuncah rindu menyeruak di dada. Gegas ia mengayuh becak. Pulang.

Di rumah sederhananya ia temukan matahari ke dua dalam hidupnya. Bocah mungil di kursi itu tidak menyongsongnya. Ia hanya menatap tanpa perhatian, tertawa ganjil dan meneteskan liur. Marwan menatap penuh cinta.

“Anakku sayang.”

[Cerita Hati] Doppelganger

Suka nonton serial How I Met Your Mother? Pernah menyaksikan salah satu episode yang judulnya ‘Doppelganger” (kalo ga salah. Kalo salah, ya maapin yaa, hehe) ? Di episode itu diceritakan tentang beberapa tokoh yang bertemu dengan orang lain yang berwajah amat mirip dengan mereka. Robin, Ted, Lily, Marshall akhirnya bertemu dengan ‘kembaran’ masing-masing. Lalu dengan prolog semacam ini apa aku mau bilang kalau aku ketemu dengan orang yang mirip dengan aku? Hehehe..aku belum seberuntung itu. Sampai sekarang sih masih belum ketemu dengan orang yang mirip. Kalo yang agak mirip sih banyak, yah, sebut saja kayak ……………… *mau nyebut nama artis tapi lupa namanya *dikeplak *gak tau diri. 😀

Oke…kembali ke topik. Jadi aku tadi ngeliat seseorang yang mirip dengan (mantan) kawan dekat. Oke…abaikan saja kata dalam kurung. Itu cerita lain. Intinya, orang itu mirip banget dengan dia. Kalo nyebut satu-dua ciri fisik gpp ya. Oke, bentuk mukanya mirip, bibirnya mirip, giginya yang agak berantakan (maaf) juga mirip. Pakai kacamata juga, trus punya gaya bicara nyaris sama. Sampai-sampai terbetik di pikiran untuk sms si (mantan) kawan dan bertanya : Kamu punya adik lain ya?

Ah, ga jadi aja, kami kan masih ‘musuhan’.

😀

[Cerita Hati] Salaman

Seberapa sering dalam sehari kamu menyalami orang lain? Jawaban pasti beragam. Bisa sekali (salam pada orang tua saat berangkat kerja atau sekolah atau saat pamit pergi), lebih dari sekali (pejabat yang mesti menyalami bawahan?), atau nggak sama sekali? Ya, sekali lagi ditegaskan, jawabannya pasti beragam. Lalu bagaimanakah sikap tubuh kita saat bersalaman? Menatap langsung ke mata yang disalami? Sambil sedikit membungkuk jika orang yang disalami lebih tua atau lebih tinggi jabatannya? Atau malah sekedar menjulurkan tangan sambil mata dan pikiran mengembara entah ke mana?

Yang sering saya alami -biasanya saat selesai shalat jamaah- adalah disalami tanpa dilihat. Wow! Gimana maksudnya tuh? Yah, cuma tangan yang disodorkan sementara orangnya sedang menatap ke arah lain, atau malah sedang ngobrol dengan orang lain. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Kalo saya bilang sih, terserah masing-masing aja. Kalo saya lagi males mikir, ya disalami juga. Kadang sambil balas tak melihat, biar impas. -ooops :D. Kalo sedang iseng, saya biarin aja itu tangan mengambang tanpa sambutan. Atau saya genggam tangannya dan nggak dilepas sampai orang itu benar-benar melihat ke saya. Hehe

Ah…apa susahnya sih menjabat tangan orang sambil memandang orangnya langsung, apalagi sambil tersenyum. Apalagi kalau senyumnya manis.

Ah… 🙂