[Flashfiction] Elegi Senja

Prompt 78 Ryan

foto : koleksi Febriyan Lukito

Kauucapkan sebuah permintaan. Lelaki berwajah bijak di balik meja tinggi mengangguk. Kata dia,”Baiklah.” Senyummu mengembang getir.

***

Senja itu di atap gedung yang kau diami selama sepuluh tahun ini telah tertata rapi sebuah meja bundar. Sebotol wine, dua gelas tinggi, dan dua potong tart telah siap. Angin berdesir mengirimkan dingin. Kautertatih melangkah menuju salah satu kursi. Meski telah berlalu sepuluh tahun, lubang bekas peluru di kakimu masih saja mendatangkan ngilu.

Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Elegi Senja”

#FFRabu – Kaki-kaki

demi ucok

sumber

Dulu, ada sepasang kaki di atas kepalaku. Kaki-kaki ibuku. Ke mana pun aku pergi, mereka mengikuti. Sering sekali aku merasa terganggu. Kurasakan kaki-kaki itu membelenggu hidupku. Teman-temanku sering mengeluh.

“Kau selalu tak bisa diajak hepi.”

Aku cuma bisa diam. Saat kaki-kaki di kepalaku mengetukkan jemari, aku wajib patuh.

Lanjutkan membaca “#FFRabu – Kaki-kaki”

#FFRabu – Bangun!

bangun-tidur

sumber

Ayolah, lakukan lebih baik lagi!

Aku diam menunggu. Bosan. Sedari tadi tak ada hal menarik yang membuatku tergugah.

Fokus!

Sepertinya kali ini dia benar-benar berusaha. Serangkaian imaji menghujaniku. Cantik, seksi, dan muda. Aku menatapnya saksama : gerakan tubuhnya yang menggoda, kibas lembut rambutnya, leher jenjang, kaki panjang, paha menantang…

Teruskan.

Lanjutkan membaca “#FFRabu – Bangun!”

#FFRabu – Lipstik Kesayangan

lipstik 2

sumber : oriflame.co.id

Nuri terengah. Bibirnya yang merah mengilap gemetaran.

Aku akan mati! jerit benaknya. Tangan Nuri mendekap perut; sumber penderitaannya. Sebilah pisau telah merobek kulit. Penikamnya sudah menghilang membawa uang dan perhiasan Nuri.

Sambil berbaring di lantai, tangan Nuri menjangkau laci.

Pensil! Pulpen! Apa saja! Aku harus menulis nama bangsat itu!

Lanjutkan membaca “#FFRabu – Lipstik Kesayangan”

[Cerita Pendek] Venganza

foto: blog.lib.umn.edu
foto: blog.lib.umn.edu

Rumah peristirahatan Los Cabos milik Juan Pablo yang berjuluk el Mata atau Si Pembunuh tampak semarak. Sebuah pesta kecil diadakan untuk memeriahkan acara ulang tahun Maria Luisa, putri kesayangan si Tuan Besar. Tahun ini usia si gadis mungil menginjak enam tahun. Kedua orang tuanya mengundang kolega dan kerabat dekat beserta anak-anak mereka untuk menikmati pesta. Para orang tua duduk santai di tepi kolam renang, mengobrol sambil menyesap segelas martini. Pelayan berseragam rapi hilir mudik membawa kue dan minuman di atas nampan perak, siap memenuhi semua permintaan tamu.

Aku menatap ke sekeliling. Rumah bergaya mediterania ini sangat indah; bertingkat dua berkelir putih dan terletak persis di tepi Danau Chapala, San Juan, Meksiko. Pagar putih berjajar melindungi rumpun-rumpun mawar putih yang mekar sempurna. Pepohonan cemara yang ditanam memanjang di tepi luar halaman menambah keasrian.

Di halaman berumput yang dipangkas rapi, gadis mungil berbaju cinderella berwarna pink dengan tiara palsu di kepala tengah berlarian bersama teman-teman sebayanya. Sesekali bocah manis itu menjerit senang saat berhasil menangkap temannya. Dari atas panggung tempat si tua Javier mengadakan pertunjukan sulap dan pantomim aku mengamati ketika seorang perempuan berusia 30-an berdiri dari kursinya. Itu Ferra Santos, istri el Mata. Tangannya melambai ke arah Maria Luisa.

“Dulce Maria, berhenti dahulu. Saatnya memukul pinata, Sayang,” perempuan berbaju terusan berwarna merah cerah dan topi jerami lebar berseru lembut. Maria Luisa berhenti berlari dan mendekati ibunya.

“Sekarang, Mama?” mata bulatnya bertanya. Ferra mengangguk.

Ferra menatap ke arahku. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Venganza”