[Flashfiction] Rumah Kenangan

foto : inforumah.net
foto : inforumah.net

“It’s always good to come home”

Robin menatap tulisan yang tertera di mug putih yang dipajang di sebuah toko pecah belah. Bergegas ia masuk dan membeli setengah lusin benda itu. Sambil sesekali meneliti sebuah foto, Robin terus berburu barang-barang.

Satu demi satu benda peralatan rumah tangga memenuhi troli. Robin mendorong barang belanjaannya menuju kasir. Setelah membayar, dia mengambil sebuah mug dan mematahkan pegangannya. Dibandingkannya dengan gambar mug yang ada di dalam foto. Dia mengangguk puas.

“Cukuplah untuk hari ini,” gumamnya sambil memberi tanda centang pada selembar foto. Robin membalik-balik beberapa foto. “Giliran ruang tamu mulai besok.”

Robin membuka pintu belakang mobil dan meletakkan barang belanjaan. Segera setelah itu dia berlalu.

**********
Di rumah yang baru selesai dibangun sebulan lalu, Robin duduk sendiri di dapur ditemani secangkir kopi. Robin memegang cangkir kopi sambil mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan. Sesekali ditelitinya selembar foto ruangan dapur yang tergeletak di meja. Ada perbedaan kecil.

“Ah, penata ruang kurang teliti!” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Rumah Kenangan”

[Cerita Pendek] Seandainya Kita Tak Pernah Bertemu

seandainya 2

“Ssst..lihat tuh Mbak Emma. Pasti mau bikin hal yang sama kayak kemarin-kemarin.”

“Iya, yah. Kasihan juga ngelihat dia kayak gitu terus. Sejak pindah ke mari, kelakuannya makin aneh. Banyak yang ngeliat dia ngomong sendiri di kuburan. Aku dengar sih, gara-gara kejadian di tempat asalnya dulu.”

“Kejadian apa sih?”

“Kau belum pernah dengar?”

“Kalau aku tahu, pastilah aku enggak nanya ke kamu.”

“Jadi, yang kudengar itu ceritanya seperti ini….”

**********

Kubereskan barang-barang yang menumpuk di depan toko kelontong. Seorang pekerja membantuku mengangkati kardus-kardus ke dalam toko. Senja telah jatuh ke ufuk barat. Sia-sia jemari cahaya mencakari langit, berusaha mempertahankan sinarnya di seluruh alam. Kegelapan perlahan mengambil alih kekuasaan. Huft, ini kotak air mineral terakhir yang mesti diangkat.

“Dudi, tolong yang ini letakkan di bagian paling luar. Berat. Biar besok tidak terlalu repot memindahkannya.” Dudi pekerja kami mengangguk.

“Sudah semua, Mbak. Saya pulang dulu ya.” Aku mengiyakan. Dudi beranjak menuju sepeda motor yang ia parkir di sebelah kiri toko, menyalakan mesin dan segera berlalu. Tepat ketika aku akan menutup pintu toko, seseorang tiba di depanku.

“Maaf, Mas. Kami sudah mau tutup. Sebentar lagi maghrib.”

“Sebentar saja ya, Mbak. Perlu banget nih.”

Kualihkan pandangan ke belakang. Ayah menatapku  sambil menggeleng. Aku tahu maksudnya. Ayah seolah berkata, ” Biarkan dia masuk, Emma. Mungkin dia akan jadi pelanggan tetap toko kita.” Hufft…aku mengalah. Memberikan ruang bagi lelaki itu untuk masuk. Kututup seluruh pintu toko, hanya menyisakan sebuah celah untuk lelaki itu keluar nanti.

Lelaki itu rupanya tak memerlukan waktu lama. Dalam lima menit, beberapa barang telah ia pilih dan ia bawa ke meja kasir. Saat aku akan masuk ke bagian dalam toko kami yang sekaligus merupakan rumah tinggal, ayah memanggil.

“Emma, tolong layani Mas ini. Ayah perlu ke kamar mandi sekarang. Tinggal membayar saja, kok.”

“Iya, Yah.” Kulangkahkan kaki menuju meja kasir. Sebuah senyuman kusiapkan. Tidak susah. Senyuman standar semacam ini sudah kulatih setiap hari. Selelah apapun keadaanku, aku harus ramah kepada pembeli. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Seandainya Kita Tak Pernah Bertemu”

[Cerita Pendek] Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga

pintu surgaPukul 11.30 malam. Langit malam begitu hitam. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kelambu awan. Keheningan terasa begitu mencekam jiwa. Di luar rumah tua dan kosong tempat mereka bersembunyi hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara katak yang ribut menanti hujan. Rumah itu sendiri terletak di ujung sebuah jalan kecil, di dalam gang yang tak terlalu lebar. Rumah terdekat berjarak sekitar 50 meter dari rumah itu. Rumah kosong itu dihiasi sesemakan rimbun dan sebatang pohon mangga besar dan rindang yang menambah kesan seram. Beberapa papan di dinding sebelah kanan dan kiri tampak rapuh. Namun bagian depan rumah masih utuh, dengan pintu dan jendela yang tampak kokoh.

“Gimana keadaan di luar, Danar?” Rana berbisik. Ia mengenakan kaus biru, sweater hitam dan celana jeans warna biru muda. Di depannya hanya ada sebatang lilin yang menyala redup, sesekali siur angin meliukkan nyala lilin. Ada dua nasi bungkus di dekat mereka, teronggok begitu saja sebab tampaknya tak ada yang merasa lapar. Ruangan tempat mereka duduk dulunya adalah kamar yang cukup luas, terletak agak di belakang rumah. Lantai ruangan sudah dibersihkan sekadarnya dengan kain bekas yang ada di lemari usang di kamar samping.

“Ga ada orang, Mbak.” Lelaki muda yang mengintip dari jendela menyahut pelan. Wajah remajanya tampak kuyu. Keletihan yang begitu dalam membayang di bola matanya.

“Danar.” Panggil Rana pelan. Remaja itu menoleh. “Duduklah di sini.” Ia menurut.

“Ya, Mbak?”

“Kau mencintaiku?”

“Mbak! Kenapa masih tanya seperti itu? Jelas aku mencintaimu!” Danar mendadak gusar.

“Tenanglah, Sayang, jangan marah. Aku hanya ingin memastikan. Aku menyesal sekali telah membuat keadaanmu jadi seperti sekarang ini. Semestinya saat ini kamu menyiapkan diri untuk mulai kuliah, jalan bareng teman-teman kamu, menikmati dunia remaja. Tapi–” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga”

[Cerita Pendek] Warisan Luka

lukaPagi baru saja lahir. Semburat cahaya matahari mengintip dari sela-sela daun dan dahan pohon mangga di depan sebuah rumah sederhana bercat biru muda. Cericit dan kepak merpati terdengar dari kandang mungil yang dijunjung tinggi oleh sebuah tonggak di dekat pagar samping rumah. Penghuni rumah itu, seorang perempuan muda dan ibunya telah bangun bahkan sejak sebelum ayam jantan berkokok. Setelah menunaikan ibadah, mereka bergegas melakukan tugas sehari-hari. Si gadis yang berusia awal 20-an tampak sigap menyapu seisi rumah, sementara si ibu tetap tampak gesit mengganti gorden di ruang tamu meskipun usianya sudah menjelang 50 tahun.

“Bu, boleh nanti aku petik beberapa batang mawar dari taman di depan? Kurasa harumnya bisa membuat ruangan ini jadi lebih nyaman.” Aisha bertanya sambil terus mengepel lantai ruang tamu.

“Tentu, Aish. Tamu harus kita buat senyaman mungkin, bukan? Ia tersenyum

“Iya, Bu. Kuharap mereka betah di rumah kita.”

Aisha tentu berharap tamu mereka akan terkesan saat datang ke rumah mereka. Ini adalah kedatangan pertama papa dan mama Mas Zein. Kesan baik harus mereka dapatkan saat berada di sini. Ini penting buat kelancaran hubungan mereka.

“Jam berapa nanti malam mereka akan datang, Aish?”

Aisha mendongak, kemudian berdiri untuk membetulkan ikatan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Tubuh semampainya hanya dibalut kaus longgar dan celana jins pendek.

“Jam 7.00, Bu.”

“Ah, iya. Lupa!” Ibu menepuk dahi. “Nanti kita akan masak menu yang disukai mereka..apa namanya itu? Duh, lupa lagi!”

Aisha tertawa perlahan. “Gurame asam manis, Bu.”

“Ya ya ya. Itu dia. Nah, cepat lah kita bersihkan rumah ini, lalu kita belanja ke pasar.”

Aisha tak menyahut, hanya tangannya yang bekerja lebih cepat. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Warisan Luka”

[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya 2

selamanya

sumber

Dian membuka matanya perlahan. Cahaya lampu di atas kepalanya terasa begitu menyilaukan. Segera ia tutup matanya sambil berusaha mengingat-ingat, sedang di mana dia sekarang. Dian berusaha bangkit dari ranjang, tetapi sakit yang teramat nyeri memaksanya tidur kembali. Sakit itu berasal dari pinggangnya, begitu menusuk. Ia raba pinggang sebelah kanan, ada perban besar membalut sekujur pinggangnya. Dian mengaduh pelan. Matanya menyusuri sekeliling ruangan kosong. Di mana ini?

Lalu sedikit demi sedikit, sebuah ingatan datang. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang berada di depan makam Reza, lalu suara gemerisik yang datang tiba-tiba,  nyeri hebat yang seketika menghantam kepalanya, disusul rasa sakit di pinggang, sesuatu yang mengalir membasahi kemejanya, kelebatan orang-orang yang berteriak, lalu…ia tak ingat lagi.

“Aduh..”

Usahanya untuk mengingat ternyata membuat rasa sakit itu datang lagi. Dian memejamkan matanya. Kenangan tentang Reza berkelebat seperti slide film, frame demi frame silih berganti. Cerita bahagia, duka, pertengkaran, ketakutan, perasaan putus asa. Semua mengaduk perasaan. Tak terasa matanya membasah.

Terdengar suara pintu dibuka, dan langkah kaki mendekat. Harum bunga menyerbak dari tubuh orang yang baru datang itu. Dian membuka matanya. Seorang perempuan muda membawa nampan berisi obat sedang berdiri di sampingnya. Dengan cekatan perempuan itu memeriksa infus di tangan kiri Dian. Dian bahkan tak menyadari ada infus di tangannya.

“Suster…”

Perempuan itu menoleh. Senyum manis mengembang dari bibirnya yang penuh, dengan sapuan tipis pemerah bibir.

“Selamat pagi, Mas Dian. Sudah bangun?” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya 2”