[Flashfiction] Rindu Melintas Batas

foto : ciricara.com
foto : ciricara.com

“Sayang, diamlah anak manis,”

Dengan sebuah boneka kelinci mungil berwarna putih aku berusaha membujuk bayi lelaki menggemaskan yang sedang menangis keras di atas ranjang. Pipi bayiku memerah, mulut mungilnya yang tanpa gigi terbuka lebar. Meski sedang menangis, dia tampak begitu menggemaskan. Akhirnya kujatuhkan boneka kelinci ke lantai setelah gagal kugunakan untuk membujuk.

Kuambil sebuah kerincingan dari laci kecil di samping lemari. Kugoyang-goyang benda plastik itu sehingga suara ‘cringg’ dari bulatan kaleng di dalamnya terdengar berulang kali. Kupasang tampang lucu untuk menghiburnya. Sejenak sepasang mata sejernih berlian itu menatap tak berkedip. Tangisnya terhenti. Tapi hanya sebentar sebelum jeritan yang akhirnya kumengerti sebagai pertanda lapar terdengar lebih membahana.

Setelah paham keinginan bayi manis berusia empat bulan ini aku mengambil tempat di sampingnya. Berbaring nyaman lalu melepaskan kancing baju, mengeluarkan sebelah payudara. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Rindu Melintas Batas”

[Flashfiction] 25 Januari

foto : pixar
foto : pixar

Angin siang hari di 25 Januari yang panas meniup lewat jendela, meriapkan rambutku hingga menutupi mata. Aku masih bisu, pandanganku lurus mengabaikan Mama yang sedang menatapku.

“Maria,” tegurnya pelan, “tolong katakan sesuatu.”

Aku hanya mendengus. “Mama, aku tidak setuju. Tak akan pernah!”

Manik mata Mama membasah. “Mama hanya ingin berbahagia sebelum Mama mati.”

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan ke arah Mama. Pelan kusingkap rambut keabuan yang menutupi dahinya. “Mama masih ingat bekas luka ini?”

“Ohh…” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] 25 Januari”

Cerfet #MFF : Labirin Rasa

foto : mobavatar.com
foto : mobavatar.com

bagian ke tiga belas

CERITA SEBELUMNYA

SATU | DUA | TIGA | EMPAT | LIMA | ENAM | TUJUH | DELAPAN | SEMBILAN | SEPULUH | SEBELAS | DUA BELAS

Dio menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Meski pikirannya sedang kalut, dia tak ingin menambah masalah dengan mengebut. Jalanan di depannya tampak senyap, hanya ada beberapa mobil yang silih berganti mendahului mobilnya. Dio mengusap wajahnya yang berkeringat meski di luar hujan dan AC mobil telah dinyalakan. Urusan cinta ini sungguh pelik. Dio menghela napas panjang.

Dio seperti tersadar saat menyadari bahwa mobilnya berhenti di depan sebuah rumah berhalaman luas yang ditumbuhi beberapa pohon buah di sisi kiri dan kanannya. Rumah itu memiliki teras lebar yang diisi dengan satu set kursi rotan, serta sebuah kursi malas. Rumah yang dulu menghadiahinya banyak kenangan manis, juga pahit. Rumah milik Malinda, ibu Ratih.

“Ah…” keluh Dio. “Mengapa aku bisa sampai ke sini?” Lanjutkan membaca “Cerfet #MFF : Labirin Rasa”

[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta

foto : kayuagungradio.com
foto : kayuagungradio.com

“Jadi istri itu harus bisa masak.Biarpun bekerja, perempuan harus menyiapkan sendiri makanan untuk suaminya. Memangnya mau suaminya makan masakan warung melulu?”

Nana mengingat-ingat kalimat lembut tapi menusuk yang diucapkan Rahmi, mertua perempuannya seminggu lalu kala mertuanya itu mengunjungi rumahnya – rumah Nana dan Ridho – sebulan setelah bulan madu usai. Mertuanya melirik sinis pada meja makan yang dipenuhi masakan yang dibeli dari warung makan.

“Memangnya kamu nggak sayang sama perut suamimu, Na?” sindir Rahmi. Nana menundukkan kepala. Dia berharap Ridho ada di sini untuk membelanya. Sayang sekali, Ridho sedang mengobrol dengan ayahnya.

“Ridho itu sukanya semur daging, sayur lodeh, sama sambal terasi. Kamu bisa masak itu semua?”

“Belum, Ma.” Nana pasrah. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita # 21] Kolak Pisang Rasa Cinta”

[Flashfiction] Cinta Sejati

foto : tatacinta.com
foto : tatacinta.com

Siapakah pemilik sejatinya cinta?

Satu pertanyaan yang sama. Ribuan suara. Semua berdengung serempak di dalam kepala. Melly meremas rambut panjangnya. Matanya nanar menatap langit-langit kamar.

Tentu saja Tuhan!

Melly memejam. Satu wajah tampan terbayang di pelupuk. Melly tersenyum. Ah, wajah itu. Menerbitkan cercah senyum meski tak melihatnya langsung. Menimbulkan rasa sayang meski tangan tak bisa bertautan. Sebab sepasang tangan lain telanjur jadi pautan.

Jadi, salah siapa jika cinta di hati tumbuh untuk lelaki yang tak bisa dimiliki? Salah Tuhan?

Melly mengusap airmata yang tiba-tiba menderas di pipinya. Batin ini tersiksa, keluhnya. Kenapa aku tak bisa mencintai lelaki lain? Melly menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mencoba mengusir penat yang membebat benak. Usahanya sia-sia. Melly menyerah. Dia memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta Sejati”