[Berani Cerita #33] Demi Burung

foto : weheartit.com
foto : weheartit.com

Darma melonjak kegirangan melihat Delia, ibunya membuka dompet dan menarik beberapa lembaran biru. Sejenak Darma tertegun menangkap sinar resah di mata ibunya, tapi perasaan itu seketika sirna ketika penjaga toko menyerahkan sangkar mungil dengan burung kenari cantik berwarna kuning dan hijau cerah berlompatan riang sambil berkicau riuh di dalamnya.

“Burungnya cantiiiikk,” serunya riang. Delia menggandeng tangan Darma keluar dari toko sambil berkata panjang lebar.

“Kalau kamu nggak ngancem mau nangis sambil guling-guling, ibu nggak bakal beliin burung mahal itu.”

Perhatian Darma tak sedikitpun tertuju pada ibunya. Dia masih asyik memandangi burung dalam sangkar.

“Karena burung ini harganya mahal, ibu akan mengurangi uang jajan kamu setiap hari, lalu…. lalu….”

Delia terus mengoceh sepanjang jalan hingga kemudian berhenti bicara saat tiba di pinggir jalan untuk menghentikan becak. Darma sudah sejak tadi tak memperhatikan. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #33] Demi Burung”

[Cerita Anak] Ploppi si Penakut

ploppi

Ploppi merenung lebih lama. Sudah satu jam ia hanya duduk di pinggir kolam. Apakah hal yang ditakutkannya akan terlaksana hari ini? Ploppi menggeleng, ia tidak tahu. Ia masih ingat teriakan ibunya tadi pagi, memarahi.

“Kamu sudah besar! Apalagi yang kamu takutkan? Apa kamu tidak malu dengan teman-temanmu?”

Ploppi hanya diam menunduk. Ploppi menyeka setetes air mata yang keluar perlahan. Ia tak boleh menangis. Semua yang melihat akan mentertawakannya. Apalagi jika Koda temannya yang sering mengganggunya itu yang melihat, bisa dibayangkan apa yang akan dikatakannya.

“Lihat! Ploppi masih sama penakutnya seperti saat bayi! Hahahahaha.”

Ugh! Memikirkannya saja sudah membuat Ploppi kesal.

Tiba-tiba sebuah suara besar mengagetkannya. “Apalagi yang kau tunggu, ha? Cepat melompat! Kau pasti bisa!” Itu suara Ayah. Dan tangan besarnya sudah mendorong tubuh Ploppi jatuh ke kolam.

Byurrrrr….

Ploppi megap-megap. Tangannya menggapai ke luar air kolam. Ia panik. “Aku akan tenggelam,” pikirnya. “Ayah! Tolong!” Lanjutkan membaca “[Cerita Anak] Ploppi si Penakut”

[Cerita Anak] Langit, Awan, dan Angin

bermain hujanSegumpal bocah awan gemuk terengah-engah menyusuri garis langit. Di belakangnya Tuan Angin meniup tak henti-henti. Lihat, ia menggembungkan pipinya sedemikian rupa hingga matanya menyipit, lalu mengembuskan napas ke arah awan gemuk.

“Cepatlah kau berjalan, wahai Bocah Awan. Penatnya pipiku mengembus.”

“Hei, Tuan Angin. Bukankah ini kemauanmu sendiri? Tentu kamu tahu tadi aku sedang berkumpul bersama-sama saudaraku hendak menurunkan hujan. Mengapa pula kau meniupku hingga kemari?”

“Ah, aku tahu tempat dimana air yang ada di perut tambunmu itu bisa lebih berguna. Saudara-saudaramu pasti bisa menyuburkan tanah kering di bawahnya dengan air yang mereka bawa. Diam saja lah. Dan berjalan lebih lekas.”

“Kenapa pula aku tak boleh tahu? Dan semestinya aku yang protes sebab kamu paksa berjalan cepat-cepat.”

Bocah awan menggerutu panjang pendek. Tapi ia terus menyusuri angkasa, nyaris tanpa berhenti. Bibi Langit yang melihat kelakuan mereka merasa heran. Ia pun tak tahan ingin bertanya.

“Wahai Tuan Angin, ada apa gerangan sehingga kamu meniup Bocah Awan nan gemuk ini begitu jauh dari saudara-saudaranya? Menyusuri garis tubuhku, seakan-akan tak ingin berhenti.”

“Oh, Bibi Langit, aku hanya ingin membantu seseorang saja. Tapi tak bisa kukatakan sekarang. Nanti bocah ini mengajuk pula. Biar nanti dia lihat apa yang bisa dia lakukan untuk membahagiakan makhluk Tuhan lainnya.”

Bocah Awan hanya diam mendengarkan. Tiba-tiba ia berseru. Lanjutkan membaca “[Cerita Anak] Langit, Awan, dan Angin”