[FF 250 Kata] Dua Kali Keliru

wpid-salah-pahamromcomdl7jan-20150106_084018-jpg

“Eh?”

Jantung Lena berdegup kencang. Di belakang gudang sekolah dilihatnya dua lelaki duduk berdampingan.

“ Itu Randy sama Viko! Ngapain berduaan di situ? Kayaknya lagi serius!” bisiknya heran. Sekolah masih sepi. Kelas siang baru akan dimulai setengah jam lagi.

“Aduh, mereka lagi ngomongin apaan, sih?” Lena mencoba menguping. Tapi nihil hasil.

Lena berjingkat memutari gudang dari arah berlawanan. Dari samping ruang guru dia berharap bisa mendengar lebih jelas. Samar suara Randy terdengar. Lena mengintip.

“…. aku suka sama kamu.” Tangan Randy meraih jemari Viko dan memegangnya erat. Pandangan Randy lurus ke mata Viko. Viko tersipu. Hati Lena gusar bukan kepalang. Viko yang dia taksir, ternyata …

Lanjutkan membaca “[FF 250 Kata] Dua Kali Keliru”

[Flashfiction] How I Met Your Father

foto : littleflocks.wordpress.com
foto : littleflocks.wordpress.com

Sore ini begitu damai. Sepoi angin membelai tubuh yang sedang melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Tapi teras rumah Dokter Kania justru ramai oleh celoteh dua remaja putri yang sedang berbincang seru dengan sang bunda.

“Serius, Ma?” Kinan, putri pertama Kania membelalakkan mata. Kinar adiknya menatap takjub.

Kania mengangguk mantap. “Ularnya besaaar. Tapi Mama nggak takut. Mama ambil kayu lalu Mama lempar. Syukurlah dia pergi.”

Decak kagum memenuhi udara. “Mama pemberani banget.” Kinar geleng-geleng kepala.

“Namanya juga desa terpencil ya, Ma,” sahut Kinan. Kania tersenyum.

“Tapi itu belum seberapa. Ada pengalaman lain yang lebih ‘seru’.” Kania memberi tanda petik di udara sambil mengerling. Kedua putrinya penasaran.

Kania mendekatkan wajahnya pada Kinar dan Kinan lalu berbisik. ““Tentang cowok.”

Dua putri cantiknya langsung histeris. “Ayo, Ma, cerita!” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] How I Met Your Father”

[Berani Cerita #17] Jebakan Detektif

detektif remaja

sumber

Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga.

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi lalu membuka sebuah jendela kelas 9-H yang telah rusak.

Ruang kelas sepi. Seluruh siswa tengah berada di ruang laboratorium. Roni mendekati lemari kayu kokoh yang terkunci di sudut ruangan.

“Kali ini pasti pas!”

Roni mengeluarkan sebuah kunci dari saku. Dia membuka lemari, menarik sebuah laci dan membongkar isinya. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #17] Jebakan Detektif”

[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat

jam dua

Menjelang sore langit sedikit mendung. Angkasa tampak digelayuti gumpalan awan kehitaman. Angin berhembus kencang. Beberapa helai daun mangga yang tumbuh lebat di samping rumah kontrakan baru aku dan temanku berguguran ke tanah. Kurapatkan jaket sekedar menghalau dingin. Temanku yang kusuruh membeli gado-gado belum juga kembali.

“Ngeteh ajalah,” gumamku. Bergegas aku ke dapur. Saat sedang menyeduh teh, kudengar suara gedoran dari pintu.

Siapa sih, nggak sopan amat?

Aku beranjak malas ke depan rumah. Dari kaca jendela kulihat dua sosok berdiri, seorang lelaki dan seorang perempuan. Kubuka selot pintu.

“Cari sia— heiiii!”

Ucapanku terpotong sebab si lelaki lebih dulu merenggut kerah bajuku. Tatapan matanya menusuk.

“Nama lo Ari kan? Ngaku!” Sentaknya kasar. Wajahnya yang dihiasi bekas luka memanjang tampak seram.

Sia-sia aku meronta. Badan kecilku tak mampu menggoyahkan si tinggi besar. Aku melirik ke perempuan cantik yang masih berdiri di luar pintu. Matanya sembab memerah.

“Lo ikut merkosa adek gue, kan?” tuduhnya lagi.

“Sembarangan! Gue nggak kenal sama dia!” suaraku meninggi. Tuduhan ini keterlaluan! Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat”

[Cerita Pendek] Mantan Penasaran

foto : internet
foto : internet

Kesibukanku mengetik sebuah proposal kegiatan yayasan terhenti sejenak ketika sebuah pesan singkat singgah di ponselku. Kulirik nama pengirimnya. Rado. Ah, kenapa dia mengirim sms? Ada sesuatu yang penting?

“Hai, apa kabar? 🙂  ”

Cuma bertanya kabar? Kuketikkan sebuah balasan. Proposal yang sedang kukerjakan sudah hampir selesai. Tinggal mengedit beberapa kesalahan ketik saja.

“Aku baik. Kamu gimana kabar, Do?” Sekedar basa-basi kutanyakan juga kabarnya.

“Aku baik juga. Jadi, tahun baruan kemarin ke mana?

“Di rumah aja.”

“Lho, nggak jadi ke Sabang? Kemarin kan kamu nanya-nanya soal itu?”

“Itu kan pas mau ke sana bulan Desember kemarin. Ngapain ah pergi lagi. Pasti di sana rame banget.”

“Iya juga sih. Lagian bakalan berat kan ninggalin dia sendirian. Hehe.

Aku mengernyitkan dahi. Siapa yang Rado maksud dengan ‘dia’?

“Maksudmu?”

“Hehe..ya pacar lah. Mana tau kaan. 🙂 ”

“Oh..”

Untung saat ini aku sedang menggunakan paket promo dari sebuah operator seluler. Jadi tak ada masalah bagiku mengirim sms singkat sampai berpuluh-puluh kali dalam sehari.

“Pasti udah ada kan? Kamu kan cakep gitu.”

Oh…please deh. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Mantan Penasaran”