[Flashfiction] Cinta Tiga Dara

Prompt 62

sumber

“Aku senang akhirnya kita semua berdamai,” Mitha memecah kesunyian. Nita dan Sitta menghela napas panjang lalu mengangguk setuju.

Sitta mengibaskan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. “Semoga hal ini tidak terjadi lagi,” bisiknya. Dia menggeser posisi duduk hingga wajahnya menghadap dua saudara kembarnya. “Maafkan aku,” lanjutnya lirih.

Nita yang duduk di tengah merangkulkan dua lengannya. “Jangan pernah lagi kita bermusuhan gara-gara cowok.”

Dua saudaranya mengangguk sepakat. Lalu yang ada hanya hening. Perempuan-perempuan cantik itu duduk diam di tepi dinding pembatas antara jalan dengan lembah terjal berbatu di sebelahnya. Tak ada yang bersuara untuk beberapa lama.

“Jadi, bagaimana dengan Hans?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta Tiga Dara”

[Flashfiction] Sirih Tanya

Belum sempat Malia menjalankan motornya, Vira sudah menyerbu ke arahnya.

“Uh, untung kau belum pergi ngantor! Lia, nanti sore temani aku ya?”

Malia mengernyit. “Kemana?”

“Rumah Mbah Ellen. Mau minta sirih tanya. Kelakuan Mas Rian makin mencurigakan. Dia jadi manis banget sama aku. Sebelum ngantor pake cium kening segala. Pulang kantor langsung peluk-peluk. Biasanya? Nggak pernah! Dia pasti selingkuh! Aku harus tahu, siapa perempuan itu!”

“Jangan nuduh gitu, Mbak. Kan justru bagus kalau Mas Rian mesra sama mbak?”

“Alaaah, pokoknya mencurigakan! Temani ya!” desak Vira. Malia mengangguk terpaksa.

**********

Vira duduk bersandar di tubuh Rian yang sedang menonton siaran berita sambil sesekali menyesap teh melati favoritnya.

“Udah ngantuk, Mas?”

“Belum!”

“Ngantuk dong. Aku udah nih.”

Rian menatap mata istrinya. Vira ‘pengen’? Vira hanya diam. Rian juga diam. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Iya deh.”

Rian mematikan TV dan beranjak ke kamar tidur. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sirih Tanya”

[Berani Cerita #17] Jebakan Detektif

detektif remaja

sumber

Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga.

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi lalu membuka sebuah jendela kelas 9-H yang telah rusak.

Ruang kelas sepi. Seluruh siswa tengah berada di ruang laboratorium. Roni mendekati lemari kayu kokoh yang terkunci di sudut ruangan.

“Kali ini pasti pas!”

Roni mengeluarkan sebuah kunci dari saku. Dia membuka lemari, menarik sebuah laci dan membongkar isinya. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #17] Jebakan Detektif”