[Flashfiction] Panggung Kematian

foto : prahoro.blogspot.com
foto : prahoro.blogspot.com

Menur merapikan sampur hijau di lehernya. Dia mematut diri di depan cermin; kemben merah dan stagen membalut tubuh langsingnya. Penata gamelan memberi isyarat, Menur mengangguk mantap. Sejurus kemudian dia telah ada di panggung. Tubuhnya bergerak gemulai seirama kendang. Menur ada di dunianya.

“Aku mencintai pekerjaanku. Aku ingin kelak mati di panggung, ” ucap Menur suatu ketika.

Beberapa lelaki naik ke atas panggung. Menur mengalungkan sampur pada yang tertampan, mengajaknya menari. Menur tersenyum, juga pria gagah itu. Tapi senyumnya berbeda makna. Sebilah pisau dia cabut dari balik kemeja, menghunjamkannya ke perut Menur.

“Aku tak suka kau menggoda Mas Damar. Dia milikku!”

diikutsertakan dalam #FF100Kata

Cerfet #MFF : Gerimis Kala Senja

foto : qelasilyas.wordpress.com
foto : qelasilyas.wordpress.com

cerita sebelumnya:
– BAGIAN PERTAMA
– BAGIAN KEDUA

Ratih mendekap buku harian usang di dadanya penuh perasaan . Sesekali dihelanya napas panjang dan dalam. Alya menanti dengan sabar. Pasti yang akan diceritakan ibunya adalah sebuah kisah yang sangat membekas dalam hatinya.

“Bu, jika menceritakan kisah ini justru mengembalikan luka di hati Ibu, lebih baik tidak usah saja.”

Alya menatap mata Ibunya yang mulai berkaca. Ratih menggeleng, mengusir butiran bening di pelupuk. “Tak apa, Al. Ibu cuma perlu waktu untuk menguatkan diri.”

Ratih tersenyum. “Kejadian itu sudah sangat lama berlalu. Nyaris tak ada istimewanya kisah cinta kami berdua. Bertemu pertama kali saat magang di sebuah perusahaan setamat kuliah. Lalu tanpa disadari cinta sudah tumbuh. Kami begitu bahagia saat itu. Sampai ketika kakekmu mengetahui hubungan kami. ”

Air muka Ratih mendadak keruh. Lanjutkan membaca “Cerfet #MFF : Gerimis Kala Senja”