[Flashfiction] Melepas Bintang

sumber : http://alisina.org/blog/2010/11/10/shooting-stars-used-as-missiles-to-hit-the-jinns/
sumber : http://alisina.org/blog/2010/11/10/shooting-stars-used-as-missiles-to-hit-the-jinns/

Hendra mengelus rambut istrinya dengan penuh sayang. Jemarinya menelusuri garis yang membelah rambut panjang keperakan itu menjadi dua bagian. Lalu jejari itu turun membelai pipi pucat wanita yang telah tiga puluh tahun mendampinginya. Wanita yang kini terbaring tanpa daya di ranjang rumah sakit. Tubuh kurusnya ringkih, digerus sel-sel kanker.

“Frida, Sayangku,” Hendra berbisik lirih. Diciumnya ubun-ubun kekasihnya itu. Tangannya merentangkan sebuah peluk. Frida menggeliat, merasakan kehadiran suaminya.

“Mas.” Suara itu begitu pelan. Hendra nyaris tak bisa mendengar bisikan itu jika tak mendekatkan telinganya.

Kelopak mata yang lelah itu membuka separuh. Terlihat sayu dan lelah. Frida memaksakan seulas senyum di bibirnya yang kering. Hanya agar hati suaminya tak semakin luka. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Melepas Bintang”

[Flashfiction] Janis dan Bintang Jatuh

sumber : http://alisina.org/blog/2010/11/10/shooting-stars-used-as-missiles-to-hit-the-jinns/
sumber : http://alisina.org/blog/2010/11/10/shooting-stars-used-as-missiles-to-hit-the-jinns/

“Saat bintang berpijar di langit malam, sebutlah satu permintaan. Peri-peri langit akan mendengarnya lalu mengabulkan.”

“Siapa sih yang buat kutipan kayak begitu?” Janis bertanya heran. Kei yang duduk di sebelahnya mengedik.

“Anonim.” Kei menjatuhkan majalah remaja di tangannya ke lantai.

“Kalimat bullshit,” Janis berujar singkat.

“Nggak percaya?” tanya Kei sambil merogoh laci di samping ranjang. Ketika sebuah wafer berhasil ditemukan, dia berseru riang “aha!”.

“Aku nggak perlu bintang jatuh buat dapatin yang aku pengen,” jawab Janis mantap.

“Termasuk cintanya Mas Bayu?” Kei melirik temannya yang tiba-tiba mematung. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Janis dan Bintang Jatuh”