Aku Benci (Jadi yang Kedua)

banner mff 2 tahun

Semuanya terbayang lagi.

Decitan ban menggigit aspal, teriakan orang-orang di trotoar, suara benturan logam dengan benda lunak, dan – yang menggiriskan- sesosok tubuh melayang di udara diiringi jerit kematian menggedor jantung. Tubuh itu menghantam aspal setelah gravitasi berhasil menariknya. Darah mengalir. Sebuah kehidupan telah pergi.

Khanza mengeratkan kelopak matanya. Tidak! Tidak!

“Khanza.” Sebuah tepukan mendarat di bahu. Khanza mengerang.

“Pergi!” Khanza meradang. Penepuknya mundur tapi tak pergi. Perempuan muda berbaju putih itu mengeluarkan selembar foto.

Lanjutkan membaca “Aku Benci (Jadi yang Kedua)”

[Flashfiction] Dendam Hitam

foto : deviantart.com
foto : deviantart.com

Suara-suara di hatiku kembali bergemuruh. Saling menimpali, saling bantah, saling menceracaukan sekian alasan. Lalu seketika hening seakan mati. Lalu ada suara lain menyeruak lirih, menelusup ke relung kalbu.

Karena di balik hitam kau akan menemukan terang.

Apa maksudnya?

Kulekatkan dua kelopak mata, memusatkan pikiran pada benak. Akankah suara itu hadir lagi untuk menjelaskan kalimatnya? Nihil. Seakan suara itu terbungkam, membiarkan akalku mengambil keputusan. Seolah tak ingin disalahkan jika yang terjadi kemudian adalah penyesalan.

Kuedarkan pandang ke sekeliling. Gelap telah purna menelan matahari. Secuil bulan terengah berusaha memancarkan sedikit cahaya yang dia punya. Tepi sungai ini diam. Suara serangga belum tiba, riak di permukaan air telah lama padam. Ingatanku terbang. Melintas jarak, menebas waktu.

“Bagaimana, Dafa?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Dendam Hitam”

[Cerita Misteri] Kotak Musik Merah Jambu

kotak musik merah jambuKotak musik itu berbunyi lagi!

Tengah malam yang hening. Sangat hening. Jangkrik dan binatang malam lainnya pun seolah enggan bersuara. Manda menajamkan telinga dan membuka mata lebar-lebar. Perlahan rasa takut merayapi hatinya. Ini kedua kalinya kotak berwarna merah jambu dengan figur seorang penari berdiri di tengahnya itu berbunyi. Ketika kotak itu bersuara pada tengah malam kemarin, Manda berpikir mungkin ia lupa menekan tombol off di bagian bawah kotak. Dan tadi pagi sebelum menyimpan kotak itu di bagian bawah lemari pakaian, ia sudah memastikan bahwa kotak itu dalam keadaan mati.

Dan sekarang kotak musik itu berbunyi lagi!

Hati Manda semakin gelisah. Dalam ketakutan ia memutuskan untuk mematikan suara itu. Perlahan ia turun dari ranjang dan melangkah hati-hati menuju lemari. Suara itu terdengar kian jelas. Wajah Manda kian pias. Dikuatkannya hati untuk membuka pintu lemari. Terdengar derit menyayat ketika pintu terbuka perlahan. Suara kotak musik mendadak berhenti.

“Kembalikan.”

Suara lirih yang menakutkan terdengar dari arah kiri Manda. Bulu kuduknya langsung meremang. Meski hatinya menolak untuk menoleh, tanpa disadari kepala Manda justru bergerak ke arah datangnya suara. Wajah Manda kian pasi. Di sudut kiri itu, sesosok perempuan duduk sambil memeluk lutut. Pakaiannya sobek di sana-sini penuh darah. Wajahnya rusak dengan rambut panjang yang acak-acakan menutupi sebagian wajah. Bibir rusak itu kembali berbisik, “Kembalikan.”

Manda berjuang keras mengalihkan pandangannya dari sosok itu. Ketika pandangannya kembali ke kotak musik, ia melihat boneka penari di tengah kotak tengah menangis. Menangis darah!

Kesadaran diri Manda perlahan lenyap. Lanjutkan membaca “[Cerita Misteri] Kotak Musik Merah Jambu”