[Flashfiction] Bapak

foto milik Mbak Orin
foto milik Mbak Orin

“Bapak, apa kabarmu?”

Ingin sekali aku menanyakan hal itu saat kita bertemu. Aku akan raih tanganmu yang mengeriput, membawanya ke dahi sebagai tanda hormatku. Tapi aku belum mampu, tidak untuk saat ini. Sepuluh tahun berlalu begitu saja sejak terakhir kita bertemu. Sepuluh tahun yang terasa seolah baru kemarin.

“Bapak, bagaimana kesehatanmu?”

Masihkah sesak napas menghantui hari-harimu? Dulu saat aku masih bersamamu, aku akan bergegas mencari jeruk nipis di dapur, mencampur air perasannya dengan secangkir air hangat dan gula batu. Lalu kau meminumnya perlahan, berbaring di dipan sambil kupijat kaki kurusmu.

“Bapak, apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu?”

Aku tak tahu apakah Bapak tahu penyebab kejadian sepuluh tahun lalu itu. Sungguh aku tak mengerti mengapa ada segerombolan orang yang mengepung rumah kita, berteriak kasar, memaki dan menghancurkan barang-barang sederhana yang kita punya. Jika Bapak memang tahu, tolong beritahu aku.

“Apakah Bapak terluka pada malam itu?”

Saat kita bertemu, akan aku periksa dahimu. Mungkin ada bekas luka di situ. Sebab malam itu kulihat seorang penyerbu memukulkan kayu yang ia pegang ke dahimu. Kau terhuyung, jatuh terduduk memegangi dahimu yang mengucurkan darah. Aku meraung saat itu, Pak. Aku menyerbu ke arahmu. Tapi mereka telah lebih dulu menyeretmu menjauh. Mengabaikan jeritanku. Kepedihanku.

“Kemana saja Bapak selama ini?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Bapak”