[Flashfiction] Anakku Sayang Anakku Malang

foto : karyapuisi.com
foto : karyapuisi.com

Jantungku berdetak lebih kencang ketika bungsuku yang baru berumur tujuh tahun masuk ke dalam rumah sambil menangis. Bergegas kutinggalkan cucianku.

“Ami kenapa sayang? ” kubelai rambutnya.

“Kata teman-teman Ami udah nggak perawan, Bu,” isaknya.

Kutenangkan napas yang tiba-tiba memburu.

“Kok begitu?”

“Iya, kata mereka kalau diciumin sama cowok jadi nggak perawan lagi. Memang perawan itu apa, Bu?”tanya bocah kecilku polos. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Anakku Sayang Anakku Malang”

[Flashfiction] Anakku Matahari

Terik. Angin mati.

Matahari seolah sejengkal jarak dari kepala. Marwan mengelap lelehan keringat di wajah. Napasnya mengembus keras.

Marwan melirik pria tambun yang duduk santai di becaknya. Sebersit iri menyelimuti hati. Ah, nasib tiap orang berbeda, yang penting kerja keras. Marwan menenangkan batinnya.

“Stop bang.”

Baru saja lelaki itu turun seorang bocah lucu menyongsong. “Papaaaaa.”

Lelaki itu segera memeluk si bocah lalu tertawa riang. Marwan memandangi mereka, lalu sebuncah rindu menyeruak di dada. Gegas ia mengayuh becak. Pulang.

Di rumah sederhananya ia temukan matahari ke dua dalam hidupnya. Bocah mungil di kursi itu tidak menyongsongnya. Ia hanya menatap tanpa perhatian, tertawa ganjil dan meneteskan liur. Marwan menatap penuh cinta.

“Anakku sayang.”