[Cerita 17] Tragedi

pisau

sumber

Cahaya senja belum lagi jatuh sempurna di pelataran sebuah rumah sakit bercat biru muda. Tampak kesibukan yang biasa, orang-orang berlalu lalang atau mengobrol. Paramedis yang hilir mudik membawa pasien yang terduduk di kursi roda. Keluarga pasien mengantri untuk membeli obat. Ketenangan senja pecah ketika sebuah mobil bercat hitam memasuki halaman rumah sakit dengan tergesa. Lalu rem ditarik dengan keras hingga ban-ban berdecit keras seolah memprotes. Beberapa pasang mata menatap dengan rasa ingin tahu.  Setelah menyadari  tak ada hal luar biasa yang sedang terjadi, kepala mereka beralih kembali pada  hal-hal yang tadi sedang mereka lakukan.

Dari dalam mobil, beberapa orang keluar dengan tergesa. Seorang lelaki tampan usia 30-an dengan wajah cemas keluar sambil menggendong balita perempuan yang menangis keras. Kaki kanan bocah itu dibebat kain yang telah memerah dirembesi darah. Dari pintu depan sebelah kanan, keluar seorang lelaki muda yang berwajah mirip lelaki pertama tadi. Wajahnya pun terlihat cemas.  Bergegas mereka menuju ruang gawat darurat yang berada di sebelah kanan rumah sakit.

Seorang  dokter sigap menemui mereka. Sejenak ia mengamati keadaan bocah malang yang masih terus menangis kesakitan, namun suaranya mulai lemah dan wajahnya memucat. Tampaknya ia telah banyak kehilangan darah.
“Ikuti saya, Pak.” Kata lelaki muda berjas putih yang berjalan sigap dengan langkah-langkah panjang menuju sebuah ruangan bercat biru muda. “Silakan baringkan anaknya di ranjang, Pak.”

“Biar kubantu, Mas Randi.” Lelaki muda itu bersuara, menawarkan bantuan. Yang dipanggil Randi hanya mengangguk sekilas, lalu berusaha membaringkan putrinya perlahan seakan tidak ingin menambah rasa sakitnya. Lelaki muda tadi membantu meluruskan kaki si bocah.

Dokter membuka bebatan di kaki si bocah dengan perlahan. Terdengar jeritan dari bibir mungil itu. “Tahan sebentar ya Manis, biar om Dokter liat lukanya,” ia berusaha membujuk. “Dokter….” Randi membaca sekilas nama yang tertera di baju putih itu,” Dokter Bayu, gimana kondisi luka di kaki Maya anak saya?”

“Tampaknya lukanya cukup dalam, Pak Randi. Saya harus menjahitnya. Lalu akan kita beri dia transfusi darah untuk mengganti darah yang keluar. Boleh saya tahu apa penyebab luka ini?” Tanya dokter sambil mengenakan sarung tangan karet, lalu membersihkan kaki Maya dengan larutan aseptik. Maya kembali menjerit. Lanjutkan membaca “[Cerita 17] Tragedi”