[Flashfiction] Pernikahan Cino Buto

beri cincin

Pranggg!!

Satu piring berantakan ketika menghantam dinding. Di hadapanku Bang Rahman berdiri tegang. Wajahnya memerah, napasnya mendengus. Dia berjalan mendekatiku, menudingkan telunjuk.

“Apa? Mau apa?” tantangku. Rambutku yang awut-awutan kubiarkan meriap sebagian di dahi. Mataku menatap tak berkedip matanya.

“Kau! Perempuan paling keras kepala! Nggak mau nurut!”

“Oh, ya!? Lalu kau, bang? Laki-laki  baik begitu?” Aku mencibir. Membuang muka. Bang Rahman kian emosi, tangannya terangkat.

“Mau tampar aku? Berani, bang?”

Plakkkk….

Tangan besar Bang Rahman menghantam pipiku. Aku terperangah. Lelaki ini berani menamparku! Emosiku tak tertahankan.

“Berani ya kau, bang! Berani ya, kau! “ Aku merangsek ke depan, mencengkeram rambutnya. Mencakarinya. Bang Rahman refleks mendorong tubuhku hingga terjengkang.

“Ceraikan aku! Ceraikan!” Aku menjerit sejadi-jadinya. Dari mulutku berhamburan kata-kata makian. Pandanganku tertuju pada cincin kawin di jari manisku. Kurenggut paksa benda itu, kulemparkan ke wajah Bang Rahman.

“Ambil ini cincin jelek punyamu!”

Bang Rahman terdiam. Ia menunduk menjumput cincin emas dari lantai. Dipandanginya benda itu sambil menghela napas.

“Aku ceraikan kau.” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Pernikahan Cino Buto”