[Flashfiction] Belum Saatnya, Sayang

mati suri

Dadaku berdebar kencang. Sebentar lagi kami akan kembali bertemu. Aku dan Ibu. Sudah berapa lama ya? 10 tahun! Waktu yang sangat lama buatku.

Ibu, aku rindu. Kalimat itu yang pertama kali akan aku sampaikan pada Ibu. Lalu akan kupeluk tubuhnya erat-erat. Aku yakin Ibu akan balas memeluk, mengusap rambutku, atau mencium keningku.

“Kenapa kamu datang sekarang, Sayang?”

“Ibu…ibu tak senang aku datang?” Mataku mendadak nanar. Salahkah aku yang terlalu rindu lalu ingin segera bertemu?

“Ibu tak suka kamu di sini, Sayang. Pulanglah.”

Butiran bening menuruni pipiku. Hatiku hancur.

********

“Dokter! Napasnya berhenti!”

“Siapkan defibrilator!”

Alat pengejut jantung menyentuh dadaku. Tubuhku terlonjak. Berkali-kali.

“Dokter, aku tak ingin bangun. Aku ingin selamanya bersama ibu.”

[Flashfiction] Tertipu

tertipuLangit semakin gelap. Aku masih sabar menunggu. Antrean di depanku lumayan panjang sementara aku berdiri di barisan paling belakang. Dalam hati aku berdoa, semoga masih ada roti untukku.

Aku tak pernah menyangka hidup bisa berbalik 180 derajat seperti ini. Kekayaanku seolah lenyap tanpa bekas ketika resesi besar melanda negeri ini. Mendadak aku jatuh miskin.

Keasyikanku mengenang masa lalu terputus ketika kulihat seorang lelaki muda yang kaki kirinya buntung mendekatiku.

“Boleh aku duluan, Pak?” Matanya mengiba.

Aku mengangguk. Kasihan.

*******

Langkahku gontai. Saat tiba giliranku, petugas berkata pendek. “Sudah habis. Pemuda itu mendapat roti terakhir.”

Ketika duduk di taman kota kulihat lagi pemuda itu. Kali ini kaki kirinya sempurna. Darahku naik ke ubun-ubun.

[Flashfiction] Tunggu Aku di Bandaramu

bandara

Kutekan pedal gas dalam-dalam. Klakson terus kubunyikan. Mobil di depanku akhirnya menepi. Entah menyadari aku sedang buru-buru atau ia tak tahan kuklakson terus-terusan. Saat kulewati, kulihat jari tengahnya teracung. Ah, peduli amat!

“Aku pergi, Mas. Jika kau mencintaiku, kau pasti datang menjemputku.” Ucapan Kayla terngiang lagi di telingaku. Kayla, jangan pergi! Aku mencintaimu!

Mobil kupacu kian kencang menuju bandara.

Terlambat. Ketika langkahku sampai di ruang tunggu, pesawat yang ditumpangi Kayla telah berangkat. Aku terduduk lemas. Kubayangkan sebuah cerita romantis. Sang kekasih hati ternyata tak jadi pergi. Ia menunggu pangerannya datang. Sayang, itu cuma cerita dalam film.

Sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku menoleh.

“Kayla! Kamu menungguku!”

“Nggak juga, Mas. Aku terlambat datang.”

[Flashfiction] Tiket Menuju Surga

menuju surga

“Jadi nanti bisa masuk surga, Pak?” Lelaki berkopiah putih itu mengangguk. Senyumnya hangat mengembang.

“Terus, di surga nanti bisa ketemu orang-orang yang kita sayang?”

“Asalkan mereka ikut jalan yang sama dengan kita.” Kembali lelaki itu menepuk akrab bahuku.

“Kalau mereka nggak ikut, gimana Pak?”

“Yah, asalkan Bapak  mau menebus mereka, pasti dibolehkan kumpul sama-sama.”

Aku mengangguk seolah mengerti.

“Jadi, Bapak mau nyumbang berapa buat tiket menuju surga?” Lelaki itu tersenyum, mengeluarkan buku kuitansi.

“Anu…sebenarnya…” Aku merasa ragu.

“Bilang saja, Pak. Berapapun akan kita terima.”

“Saya nggak punya duit. Sebenarnya ini bukan rumah saya. Saya cuma tukang kebun di sini.”

Wajah itu mendadak cemberut. Tergesa ia bangkit dan keluar tanpa memberi salam.

[Flashfiction] Sepi

pipis

Mataku memandang tak berkedip pada jam yang menempel di dinding ruangan rapat. Lengan-lengan jarum jam seolah enggan beranjak. Aku semakin gelisah. Di ujung meja, Pak Broto masih memuntahkan kemarahannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu.

“Percuma kalian semua saya gaji besar kalau kinerjanya seperti ini! Target kita bulan ini dan bulan lalu tidak tercapai! Apa saja kerja kalian, hah?”

Kami semua terdiam. Tak ada yang berani bersuara. Aku kian gelisah. Mestinya rapat ini selesai pukul lima tadi. Tapi sudah lewat lima belas menit dan tak ada tanda-tanda Pak Broto akan menuntaskan marahnya.

“Sudah! Pulang semuanya! Besok kerja lebih keras!”

Aku menghela napas. Bergegas keluar dari ruangan rapat dan menuju toilet.

Currrrrrrr…….

“Aaaah, legaaaaaaa.”

*SePi = Sesak Pipis