[Cerita Pendek] Beta

prompt 66

sumber

“Aku tak mengira hal mengerikan itu terjadi padaku. Rasanya aku ingin segera pergi jauh dari sini.”

Aastha, anak gadisku terus mengulang-ulang kalimat itu. Wajahnya tertelungkup di atas meja makan, ditingkahi isak yang mengiris hati. Ibu mana yang tak remuk hati melihat putrinya seperti ini. Tadi dia tiba di rumah lebih cepat. Biasanya setelah hari gelap baru Aastha tiba dari rumah majikannya. Aku resah di hadapannya. Kubiarkan Aastha merengkuh tenang sebelum kembali bertanya. Di luar senja kian tua, matahari semakin renta. Aku beranjak untuk menyalakan lampu lalu kembali menghadapi Aastha.

Beta, apa yang terjadi?” Kuusap rambut Aastha yang tebal dan panjang. Kini rambut itu terurai, tak lagi rapi terkepang. “Katakan padaku.”

“Mama..”

Gadisku mengangkat wajahnya yang pias berbalur air mata. Matanya yang besar memerah, sapuan kohl di bawah mata lenyap entah ke mana. “Aku diperkosa.”

Oh, Dewa! Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Beta”

[Cerita Pendek] Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Prompt 64

sumber foto : dok. pribadi Rinrin Indrianie

Akhirnya kutemukan kau, Pak Tua!

Aku mendesiskan nama lelaki itu dengan geram. Dari balik tanaman pot penghias sebuah rumah makan kuamati lelaki itu. Dia sedang berteduh dari hujan di sebuah kios kecil yang menjual perabot dari gerabah. Di bawah kanopi kulihat dia berulang kali mengusap wajah yang terkena air hujan. Sepedanya terparkir  di bawah sebatang pohon mangga, dimuati seikat penuh rumput gajah. Berkali-kali dia menengadah menentang langit yang terus menjatuhkan jarum-jarum air. Langit masih pekat, hujan mungkin masih lama.

Ternyata tidak. Hanya berselang sekian menit, hujan deras berganti gerimis. Lelaki tua itu bersiap pergi. Topi caping dia kenakan. Setelah mengucapkan sesuatu pada pemilik kios, dia berjalan menuju sepedanya dan mulai mengayuh.

Kau tak akan lolos dariku! Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Lelaki Tua di Tengah Gerimis”

[Cerita Pendek] Dahlia

saying_goodbye2

Dahlia bergegas ke luar dari kamarnya, menyeberangi ruangan lengang berlantai kayu oak yang disikat hingga mengilat menuju ruang duduk. Bertha, pembantunya memberitahu bahwa ada telepon menunggu.

Frank!

Dahlia merasakan debaran keras menghantam dadanya. Berulang kali dia hirup hangat udara petang di akhir musim panas. Ketika debar jantungnya mereda, diangkatnya gagang telepon berbentuk corong dari kotak kayu di dinding.

“Frank?”

Suara gemerisik terdengar dari kejauhan. Lalu suara seorang lelaki merasuki pendengaran Dahlia. “Sayangku? Itu kau?

Dahlia merasa bunga-bunga mekar di dadanya. “Ini aku, Cinta. Bagaimana keadaanmu?”

Aku baik-baik saja.”

Ada jeda mengapung di udara. Begitu banyak yang ingin diutarakan Dahlia. Begitu banyak cerita yang ingin dia bagi. Tapi semua mengental di ujung lidah, tersekat di sana tak mampu cair menjadi kata-kata.

“Kapan kau pulang, Frank?” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Dahlia”

[Cerita Pendek] Kamar Ibu

foto : rumahsewajogja.net
foto : rumahsewajogja.net

“Jangan dibongkar!” jerit Ranti panik. Dadanya sesak oleh kesedihan melihat dinding kamar ibunya mulai dihantam godam. Serpihan-serpihan semen dan bata bertebaran di lantai. Udara dipenuhi debu yang memerihkan mata. Dua lelaki pekerja itu hanya menatapnya sejenak lalu melanjutkan tugas mereka.

“Sudah, sudah, Ranti. Relakan saja. Sudah nasib kita begini,” di sebelah gadis remaja itu seorang lelaki berdiri kaku. Tangan kanan pria bernama Dany itu memegang erat tangan adiknya agar tidak menghambur menghalangi proses perubuhan itu. Matanya disaput kegeraman, dan kekalahan. Seandainya saja mereka memiliki pembela. Tapi tidak…kali ini tak ada yang membela.

“Jadi kan kalian bisa lihat kalau rumah Uwak sudah nggak muat lagi. Itu cucu-cucu tiap malam tidurnya berdesak-desakan. Kasihan,” dua hari lalu Wak Bari berbicara empat mata dengan Dany. Pria muda itu terkesiap mencoba menebak arah pembicaraan Uwak.

“Uwak punya rencana mengambil kamar ibumu buat Uwak,” kata Wak Bari datar. Dany tertegun. Mengambil? Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Kamar Ibu”

[Cerita Pendek] Menepis Jejak Luka

images22

sumber

Apa yang harus kau lakukan, jika tempat terindah yang mampu kau bayangkan tetap tak mampu redakan resah?
Alea menengadah, mengalihkan pandang dari layar Blackberry putih miliknya. Satu ‘klik’ dan cuitan itu akan terkirim ke dunia maya. Alea mendesah gundah. Jemarinya menekan tombol ‘delete’ hingga kalimat tadi lenyap. Sebuah cuitan baru dia ketikkan.

I’m in heaven!

Alea mengarahkan ponselnya ke arah pantai. Lensa kamera segera menangkap sebentuk keindahan yang mampu belalakkan mata. Hamparan pasir putih dan biru laut berpadu sempurna. Deretan cemara yang tumbuh rapi di belakang garis pantai menambah harmoni. Semilir angin dan debur ombak menyempurnakan suasana siang yang teduh sebab segumpal awan menyelubungi matahari.

Klik. Lansekap istimewa itu telah tersimpan di ponsel. Send.Tak menunggu lama, denting-denting kecil terdengar. Deretan pertanyaan dan komentar berhamburan di grup BBM Alea. Dia memilih untuk tidak menanggapi semua pesan yang masuk. Hanya sebuah smiley yang dia sematkan sebelum menon-aktifkan ponselnya. Alea membaringkan tubuh rampingnya di kursi santai yang dinaungi payung peneduh. Topi caping lebar dia turunkan lebih dalam, menutupi nyaris seluruh wajah. Dia datang kemari hanya ingin menyepi, menenangkan diri dan membersihkan pikiran. Dari segala hal tentang Frans.

Ah, Frans. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Menepis Jejak Luka”