[Flashfiction] Timun Mas & Raksasa Sakit Hati

foto : folktalesnusantara.blogspot.com
foto : folktalesnusantara.blogspot.com

Jaka dan istrinya Dara duduk di beranda rumahnya dengan perasaan gelisah bukan kepalang. Janji tujuh belas tahun silam harus ditunaikan. Jaka menatap wajah jelita istrinya.

“Bagaimana ini, Bu?” keluhnya.

Dara menunduk. “Raksasa itu akan datang mengambil Timun Mas. Lalu pasti dia akan marah besar.”

Jaka meremas rambutnya. Bingung.

“Semua ini salahmu, Pak!” tiba-tiba Dara menuding.

Jaka tergeragap. “Ta..tapi…”

“Nggak sengaja?” Dara meradang.” Sudah kubilang, jangan terlalu banyak minum tuak. Nanti….”

Belum usai Dara mengomel, dia menyadari sesuatu. Kendi air yang diletakkan di atas meja bergetar. Awalnya hanya getaran kecil lama kelamaan berubah kian besar.

Raksasa! Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Timun Mas & Raksasa Sakit Hati”

[Cerita Anak] Putri Ochna dan Pengkhianatan Menteri Lutea

peri

sumber

Penduduk Kerajaan Myria sedang bersedih hati. Ratu kesayangan mereka, Ratu Gladiola sedang terbaring lemah di peraduan. Sudah dua minggu sakit yang mendera membuat tubuhnya tak mampu beranjak untuk mengurus negeri. Tabib kerajaan, Peri Rugosa telah berusaha mencari obat ke seluruh penjuru kerajaan, tapi belum berhasil mengobati penyakit misterius Sang Ratu.

Pagi ini Ochna bersama dua pengawal pribadinya sedang terbang menuju ujung kerajaan mereka yang berbatasan dengan Kerajaan Hopper yang dihuni para belalang. Satu-dua pengaduan tentang gangguan Kerajaan Hopper telah sampai ke telinga Ochna yang mengambil alih sebagian tugas Ratu untuk mengurus negeri. Dia sendiri yang akan mencari tahu kebenaran kabar itu. Dengan memakai pakaian rakyat biasa, tiga peri itu mengangkasa.

Selagi terbang Ochna teringat keadaan Ratu. Terbayang kembali ucapan Rugosa sebelum berangkat.

“Sang Ratu diracun, Putri.”

Oleh siapa? Lanjutkan membaca “[Cerita Anak] Putri Ochna dan Pengkhianatan Menteri Lutea”

[Berani Cerita #26] Kejutan di Dalam Gudang

gudang

“Rattyyy! Kau di manaaa?”

Itu suara Micel. Dia pasti sedang kebingungan mencariku. Hihihihi, biarkan saja. Permainan petak umpet ini sungguh menyenangkan. Kami sedang bermain di sebuah rumah besar yang tak terawat. Bukan, ini bukan rumah tak berpenghuni. Hanya saja, seperti kataku tadi, tak terawat. Bagian terasnya dipenuhi dedaunan kering, ruang tamu diselimuti debu, dapurnya berantakan. Hanya bagian gudang yang tampaknya lebih rapi meski disesaki barang bekas.

Di sinilah aku sekarang. Gudang. Pintu ruangan berukuran sekira 6 x 7 meter ini sebenarnya terkunci rapat. Tapi tidak dengan jendela kecil di sebelahnya. Tubuh mungilku dapat dengan leluasa menyelinap masuk. Ketika sudah berada di dalam, aku terperangah. Sepertinya ini bukan sembarang gudang. Di dalamnya kulihat puluhan kanvas dengan lukisan indah terpasang. Meski dengan penerangan minim, mataku masih bisa menangkap keindahan mereka. Aku terus berjalan menjelajah ruangan luas ini. Di sudut kananku tergeletak beberapa kardus berwarna putih. Aku tergelitik untuk menelisik.

“Wah! Kristal!”

Di dalam salah satu kotak kutemukan sebuah hiasan berbentuk angsa yang sangat anggun terbuat dari jalinan kristal indah. Apa ini yang mereka sebut Swarovski? Ternyata benar-benar indah! Meski aku masih ingin mengetahui isi kardus lain, rasa ingin tahu telah membimbing langkahku beranjak lebih jauh ke dalam gudang. Hidungku mengendus. Ada bau-bauan aneh menguar dari bagian dalam. Pelan-pelan aku mendekat ke sumber bau.

“Wah!” Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #26] Kejutan di Dalam Gudang”

[Flashfiction] Menuju Ovum

foto : bisnisonlinenews.blogspot.com
foto : bisnisonlinenews.blogspot.com

Ledakan besar! Sebuah semburan dahsyat! Kami beramai-ramai melompat, berlari cepat seolah jarak bisa dilipat. Di kanan kiri kulihat teman-temanku saling berlomba. Gerakan mereka begitu gesit. Tangkas! Sebentar saja aku sudah tertinggal.

“Hei, ayo bergegas!”

Kutolehkan pandangan pada teman yang menegurku sambil berusaha berlari secepat-cepatnya. Tapi cacat kecil di ekornya membuat larinya sedikit tersendat. Kulirik ekorku, bentuknya juga tak sempurna. Sebagian besar kawan lain memiliki ekor sempurna sehingga mereka lebih kuat dan mampu berlari secepat kilat.

“Hosh..hosh..” sebentar kemudian kudengar napasnya mulai sesak. Dia berhenti, aku menjajari langkahnya.

“Sudahlah, tak usah dipaksakan. Kita tak akan sampai duluan. Biarkan saja mereka yang mendapat gadis cantik bertubuh bulat itu,” kataku pada si kawan.

Dia mengangguk. Berdua kami berjalan santai menyusuri lorong panjang. Sebagian besar temanku sudah tak kelihatan.

“Apa kau tahu dimana kita sekarang?”

Si Kawan mengendus-endus. Sniff…sniff…

“Aku tak tahu. Di sini tak wangi, juga tak bau.”

“Wangi? Bau?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Menuju Ovum”

[Flashfiction] Lila

foto : diopuisiblogspot.blogspot.com
foto : diopuisiblogspot.blogspot.com

“Rentangkan sayapmu, Lila.”

Lila mengembangkan perlahan sayap kecilnya. Ia terperangah. “Ibu Peri, cantik sekali!”

Sepasang sayap tumbuh dari punggung Lila. Ungu, warna kesayangan. Helai-helai bulu halusnya melambai ditiup angin.

Ibu Peri tersenyum. “Kamu anak baik, Sayang. Sudah sepantasnya mendapat kebahagiaan. Penderitaan harus menjauh dari hidupmu.”

Ibu Peri menggenggam tangan mungil Lila. “Tutup matamu sebentar, Sayang. Jangan takut, ada aku di sebelahmu.”

Lila menurut. Matanya memejam, sementara sayap mungilnya mengepak pelan. Perlahan dia rasakan kakinya terangkat dari tanah. Lalu tubuhnya terasa ringan. Semakin ringan.

“Aku terbang, Ibu Peri!” jeritnya senang. Lila membuka matanya. Takjub. Melihat daratan dari ketinggian ternyata sangat mengasyikkan. Jalur sungai yang berkelok. Sawah-sawah yang hijau kuning. Rumah-rumah mungil.

“Cobalah terbang sendiri, Lila.” Perlahan Ibu Peri melepaskan genggaman tangannya.

Lila mengangguk. Mencoba menyeimbangkan tubuh. Awalnya masih canggung, tapi sebentar kemudian dia mulai terbiasa. Lila dan Ibu Peri terbang melintasi pucuk-pucuk cemara, bercengkerama dengan rama-rama, dan menyapa burung dara.

“Kita mau kemana, Ibu Peri?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Lila”