Prompt #90 : Kekasih Hati

Cahaya

sumber

Kekasih, ke mana lagi rindu ini mesti kulabuhkan. Aku menanti, terus di sini. Berharap kita akan bertemu. Kau dan aku dalam istana bercahaya.

***

Aku bisa mendengar isak tangis di sekitarku. Siapa? Mengapa menangis? Benakku tak mampu mencerna. Pikiranku berkelana. Kelebatan peristiwa singgah di pelupuk.

“Dia adalah lelaki paling baik sedunia.”

Itu kata Bunda suatu malam. Aku terpana. Benarkah? Lalu Bunda mulai bercerita. Aku hanya bisa takjub. Batinku bersuka mendengar ia bahagia. Jiwaku merana mengetahui ia terluka. Dan di atas segalanya, perilakunya membuatku jatuh cinta.

“Irma juga mau jadi kekasihnya, Bunda.”

Bunda tersenyum mengelus rambutku. “Semua orang juga begitu, Sayang.”

Aku merasa ada yang mengalir di sudut mata. “Ya, Tuhanku. Berapa lama lagi?”

Kudengar ada isak. Lalu sesuatu yang lembut mengusap mataku.

“Mungkin Nenek teringat Kakek.”

Entah suara siapa itu. Aku ingin tersenyum dan bilang, “Bukan, bukan suamiku. Dia lelaki yang sangat baik. Tapi bukan dia.”

Sayang otot wajahku telah kaku.

Ya, Tuhan. Aku rindu.”

Aku gelisah menerima keputusan. Sejak tadi kaki dan tanganku mati rasa. Perlahan dingin merambati wajah. Aku bersorak.

“Nenek! Nenek!”

Suara kepanikan. Tapi aku justru gembira.

“Talqinkan!” seru seseorang lainnya. Lalu kudengar barisan kalimat mulia itu. Berulang-ulang. Kuikuti dalam diam. Kusebut namanya berkali-kali penuh kerinduan.

“Muhammad.”

200 Kata

Iklan

6 thoughts on “Prompt #90 : Kekasih Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s