[Small Things] Pelajaran dari Gayung

gayung

sumber

Waktu kecil dahulu, Kakek sering mengajakku ke mushalla dekat rumah untuk shalat wajib. Aku senang bila diajak olehnya. Biasanya selepas shalat, Kakek akan mengajakku ke toko kecil tak jauh dari mushalla untuk beli jajan.

Suatu hari ketika akan wudhu…

“Sifat orang bisa ditebak dari caranya meletakkan gayung,” kata Kakek. Tatapan matanya beralih dariku ke seorang lelaki berumur tigapuluhan yang baru saja selesai wudhu.

“Kok bisa, Kek?” tanyaku tak mengerti.

“Lihat ke mana dia taruh gayung yang dipakainya tadi?” Kakek balas bertanya. Kepalaku berputar ke arah lirikan Kakek. Sebuah bak besar penampung air wudhu. Saat itu bak berlapis keramik biru itu sedang terisi separuh. Gayung yang dipakai bapak tadi ada di sudut jauh bak.

“Ke situ, Kek,” jawabku.

“Sekarang coba ambil!” perintah Kakek. Aku menurut. Duh, susah! Tanganku tak bisa menjangkau gayung. Padahal aku sudah berjinjit.

“Nggak bisa, Kek!” Aku menyerah.

Kakek mengulurkan tangan, menjangkau gayung hijau di sudut bak. “Orang yang melemparkan gayung setelah memakainya cenderung egois, tidak pedulian, dan barangkali sombong.”

Aku melongo.

“Dia hanya memikirkan diri sendiri. Tak peduli orang lain bisa atau tidak menggunakan gayung itu. Tak peduli orang lain akan merasa kesal karena ulahnya. Contohnya kau, tak bisa meraih gayung sebab terlalu jauh dari pinggir bak, kan? Bajumu jadi basah, kan kena pinggiran bak yang berair?”

Aku mengangguk. “Iya, Kek. Jadi kesal baju basah.” Kutepiskan sisa air di baju. Bercak air keburu menyebar di baju koko biru kesayanganku.

“Sementara kalau dia meletakkan gayung seperti ini,” Kakek memberi contoh dengan meletakkan gayung tadi pada posisi terbuka,” Orangnya tergolong biasa saja. Dia tidak egois tapi tidak juga terlalu baik. Dia tergolong sedang-sedang saja.”

Aku mulai mengerti jalan pikiran Kakek. Jadi aku bertanya. “Kalau begitu, yang paling bagus bagaimana, Kek?”

“Seperti ini.” Kakek yang sudah selesai berwudhu meletakkan gayung dengan posisi telungkup, tepat di bagian tengah pinggir bak.

“Gayung mudah diambil oleh orang berikutnya. Tidak ada sisa air bekas pakai di dalamnya. Bersih. Orang seperti ini selain memperhatikan keperluannya juga memperhatikan kepentingan orang lain.”

Aku melongo.

“Eh, ayo cepat wudhu! Iqamah sudah hampir selesai. Sebentar lagi shalat dimulai.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s