[Small Things] Deal or No Deal

salaman

sumber

Deal or No Deal? Bukan, ini bukan cerita tentang kuis yang berhadiah gila-gilaan itu. Ini tentang keputusan kecil yang kita buat/dan tidak buat dan barangkali mempengaruhi perasaan/mood untuk beberapa waktu.

Rabu kemarin…

“Bang, ke Komplek Sakinah, ya,” kataku pada seorang tukang becak berusia empat puluhan yang mangkal di Simpang Komodor. Nyaris setiap Jumat malam aku memakai jasa becak di tempat ini. Pekerjaan dan domisili yang berbeda kota mengharuskanku pulang pergi setiap pekan. Jadi, kuanggap bahwa tarif jasa mereka sama saja. Apalagi saat itu masih sore – agak gerimis memang- di mana umumnya tarif becak sore lebih murah ketimbang malam meski untuk tujuan yang sama.

“Komplek yang di mana?” tanya si abang becak. Memang, ada tiga komplek bernama sama yang dibedakan dengan nomor urut saja : Komplek Sakinah 1,2, dan 3.

“Yang di Paya Bujuk Tunong,” jawabku menjelaskan. Dia mengangguk paham dan mulai menjalankan becaknya.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, kami tiba di depan rumah. Kusodorkan uang limabelas ribu rupiah. Dia menerimanya dengan kening berkerut.

“Masih kurang. Tambah lima ribu lagi,” tukasnya. Aku tersentak.

“Bang jangan macam-macam lah.”

Aku sedikit menyesali pilihan kata-kataku kali ini. Keningnya makin berkerut. Raut wajahnya tak enak.

“Biasanya juga limabelas ribu,“ lanjutku. “Itu pun kalau malam. Ini kan masih sore.”

“Mana ada! Sampai depan lorong itu saja sudah limabelas ribu. Abang nggak nanya tadi!” sentaknya.

Aku terdiam. Tak mau ribut di depan rumah, kusodorkan lima ribu seraya ‘mengancam’.

“Aku ingat muka abang. Aku tiap minggu pulang ke Langsa.”

Kuamati lekat wajah dan rupa becaknya. Terbetik niat untuk menghindari menggunakan jasa becaknya dan memilih becak lain saja.

Sebelum masuk rumah, aku menarik napas panjang. Lebih dari sekali. Semua kekesalan ini sebenarnya bisa dihindari jika sedari awal aku dan abang becak itu mencapai kesepakatan soal ongkos.

“Berapa, Bang?”

“Duapuluh.”

“Bisa limabelas?”

“Bisa.”

Berangkat.

“Berapa, Bang?”

“Duapuluh.”

“Bisa limabelas?”

“Nggak.”

Cari becak lain.

Gampang sekali sebenarnya. Jadi pelajaran juga sih. Jangan mentang-mentang sudah ‘biasa’ lalu menganggap semua orang (tukang becak) menerapkan tarif yang sama. Sama seperti kejadian suatu hari ketika aku memesan makanan di sebuah warung. Waktu itu masih kuliah, belum punya penghasilan.

“Kak, nasi sama ayam gulai tambah perkedel satu. Minumnya teh manis dingin,” kataku pada si penjual. Ada uang duapuluh ribu di dompet saat itu. Cukuplah untuk bayar makanan dan minuman. Sisanya untuk naik angkot ke ATM terdekat (yang tak cukup dekat bila dengan berjalan kaki).

Pesanan diantarkan, aku makan dengan lahap.

Tiba saatnya membayar. “Berapa, Kak?”

“Duapuluh tiga ribu,”jawabnya sambil lalu. Aku berkeringat. Mencoba bertanya, dengan harapan dia salah menghitung.

“Memang ayamnya berapa, Kak?” tanyaku pelan.

Si Kakak membeberkan harga tiap bagian makanan yang kupesan. Ayam sekian, nasi seporsi sekian, sayur sekian, teh manis dingin sekian.

Kuaduk tas, berharap menemukan recehan di situ. Alhamdulillah, terkumpul juga tiga ribu. Kubayar dan segera berlalu.

“Terpaksa olahraga lagi deh,” sungutku.

Iklan

2 thoughts on “[Small Things] Deal or No Deal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s