[Small Things] Cedera Janji

keep-calm-and-pay-your-utang

sumber

Suatu sore yang tenang, saat volume kerja sudah jauh berkurang, seorang ‘konsultan’ wajib pajak datang mendekat dan menegurku yang sedang menatap layar monitor.

“Sibuk, Pak?” sapa ibu itu.

“Nggak, Bu Ida,” jawabku. “Gimana, sudah beres urusannya?”

“Oh, belum. Tinggal tanda tangan kepala kantor saja.”

Lalu dia bercerita soal utang pajak perusahaan yang dia tangani.

“Kasihan Pak X. Utang pajaknya banyak, padahal bukan dia yang dapat proyeknya. Nama perusahaannya dipinjam temannya.”

Aku cuma bisa manggut-manggut. Kesalahan umum pemilik perusahaan yang tidak terlalu mikir panjang. Asal dapat fee, bendera perusahaan dipakai ke sana ke mari dia cuek saja. Baru bingung pontang panting ketika terbit teguran atas pajak yang tak disetorkan hingga menjadi utang pajak.
Mungkin bosan bercerita tanpa tanggapan berarti (dia sudah sering sih cerita yang sama, jadi malas menanggapi terlalu banyak), si Ibu bercerita tentang dirinya.

“Saya juga ada diutangin sama saudara, Pak,” kata dia dengan nada miris. “Lima juta. Janjinya dalam jangka waktu sebulan bakal dipulangin. Udah lewat sekian bulan belum dibayar juga. Padahal duit itu saya kumpulin buat biaya kuliah anak nanti.”

Aku terdiam.

“Padahal apa salahnya dicicil, kan, Pak. Dua ratus tiga ratus sebulan pun jadi. Ini udah nggak nyicil, pas ditagih pun marah-marah. Sampai berantam kami,” tutur Bu Ida dengan nada jengkel.

“Padahal kita yang punya uang ya, Bu. Eh, pas mau minta hak kok kayak jadi penagih utang,” timpalku.

“Sampai sekarang nggak saya cakapin, Pak. Nanti kalau dia mau pinjam lagi, sambil nangis darah pun nggak bakal saya kasih.”

Ingatanku lalu melayang pada seorang sepupu yang bulan lalu menelepon untuk meminjam sejumlah uang. Aku teringat sebuah ‘nasihat’ soal pinjam-meminjam ini : Jika teman atau saudaramu meminjam uang, jika ada, berikanlah separuhnya saja.

“Wah, sekarang adanya cuma segini, kak.” Aku menyebut sejumlah nominal kala itu. Dia setuju, dan berjanji akan datang esok pagi.

Saat datang mengambil uang, dia berjanji dengan yakin, “Akhir bulan pas abang gajian langsung kakak bayar.” Abang yang dimaksud adalah suaminya. Oke, pikirku. Akhir bulan tinggal seminggu lagi. Nominal yang dia pinjam pun cuma ‘sedikit’. Sekalian ngetes saja.

Dan seperti sudah kuduga, dia tak lulus tes. Sebulan berlalu dan tak ada kabar sedikit pun. Sekedar bilang, “Uangnya belum ada, nih. Minggu depan, ya.” pun tak ada. Yah, ternyata kakak sama aja sifatnya dengan beberapa yang lain. Mungkin dia menganggap uang sekian yang dia pinjam adalah jumlah yang kecil. Mungkin dia beranggapan, “Ah, dia kan PNS. Uang segini kecil lah.” Tapi buatku ini adalah soal kepercayaan, soal janji. Jika untuk hal ‘kecil’ saja sudah gampang dicederai, konon untuk hal besar? Jika berikutnya dia mau pinjam lagi, barangkali aku akan enggan memberikan.

“Eh, Pak, saya permisi dulu. Ada urusan lain,” tegur bu Ida menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum. “Iya, Bu. Hati-hati di jalan, ya.”

Iklan

8 thoughts on “[Small Things] Cedera Janji

  1. @_menikdp berkata:

    ahahaha lebih nylekit lagi kalo ditawarin buat ngutang (pas kantong emang lagi butuh juga), eh abis itu diumbar ke tetangga kalo lagi ngutang ama dia *curcol. padahal udah dibalikin juga -.-

  2. Latree berkata:

    emang paling berat kalau ditembungi utang oleh teman ato sodara. ga ngasih dibilang pelit. ngasih ga jaminan balik. tapi kalau ngasih trus setelah itu ribut soal tagih menagih, hubungan juga jadi ga enak….

    • Attar Arya berkata:

      dan yang lebih parah, La, udah ngambekan karena ribut, utang juga belum tentu dibayar. serba salah memang… makanya sebisa mungkin aku nggak ngasih penuh. kubilang saja adanya cuma ‘segini’, jadi nggak terlalu sakit hati kalau nggak/lama dibayar.

  3. Ie berkata:

    ha ha ha ha… begitulah yang biasa terjadi…
    saya heran banget sama beberapa orang yang berhutang (ke saya), meski jumlahnya ga banyak sih mas… ga sampe jutaan, milyardan atau trilyunan… paling seratus-dua ratus… e’ tapi kok ya sante2 aja ya… mereka itu pada lupa atau nglupa?

    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s