[Small Things] Etika Dagang

etika

sumber

Nggak usah mikir yang ribet-ribet deh kalau baca judul postingan ini. Nggak ada hubungannya dengan segala macam ilmu dagang yang bisa bikin kening berkerut. Cuma hal kecil tapi barangkali penting buat sebagian orang.

Sambil cerita aja, ya.

Suatu pagi beberapa hari yang lalu, karena warung sarapan langganan belum buka (mungkin hari itu tutup atau terlambat buka) aku mencari di tempat lain. Ketemu satu penjual menu sarapan di dekat pasar. Tak terlalu jauh memang, hanya sekitar 100 meter dari warung langganan. Dengan motor tentu sama sekali tak melelahkan.

“Bu, lontong pakai telur bulat, berapa?” tanyaku.

“Tujuh ribu,” sahut ibu penjual sarapan yang kutaksir berusia empat puluhan. Kuserahkan uang sepuluh ribu. Sigap dia menyiapkan pesananku. Semenit kemudian dia menyerahkan sebungkus lontong, uang dua ribu, dan segelas air minum kemasan.

“Nggak ada duit seribuan. Ini aja,” ujarnya singkat.

Aku menerima pemberiannya tanpa menjawab. Hari itu aku berjanji pada diri sendiri nggak beli sarapan lagi di situ.

Lho? Cuma seribu aja dipermasalahkan?

Buatku bukan soal seribuan, sih. Lebih pada etika saja. Namanya orang berjualan, harus siap dengan uang kembalian. Oke, kadang kehabisan. Maklum. Tapi bukankah lebih baik dikomunikasikan pada pembeli dengan mengatakan, misalnya :

“Maaf, dek. Nggak ada seribuan. Seribunya akua aja, yah?”

Nggak mungkin lah aku lalu menjawab, “Nggak mau tahu! Pokoknya balikin seribu lagi!” Paling aku senyum lalu bilang, “Ya udah. Buat Ibu aja kembalian seribunya.”

Beberapa tempat sarapan lain saat tidak punya uang receh, penjualnya akan menawarkan : mau diganti perkedel? Atau dibanyakin empingnya? Atau ditambahin nasinya? Atau besok/nanti siang ambil sisa uangnya? Intinya sih nggak memaksa pembeli mengambil barang yang bukan pilihannya.

Etika.

Mirip dengan minimarket-minimarket yang seenaknya memberi kembalian berupa permen. Biasanya aku diam saja kalau diberikan permen. Tapi kejadian waktu itu bikin aku geram.

“Bang, tiga ratusnya permen aja, ya?” kata kasir, perempuan muda cantik.

Aku mengangguk, senyum. tapi senyumku hilang saat menerima ‘tiga ratus’ yang berubah jadi sebutir permen.

“Permen sebiji ini tiga ratus?” tanyaku dengan nada agak tinggi. Berapa sih harga permen ‘standar’ itu? Paling seratus perak.

“Oh, mau tambah lagi, ya?” kelitnya sambil berusaha senyum. Sebutir permen tambahan dia angsurkan. Kuambil permen itu.

“Jadi kalau aku nanti belanja pakai permen ini, bisa, kan?” Pandanganku lurus ke matanya. Dia salah tingkah dan menjawab gugup. “Boleh, bang. Boleh.”

“Oke, aku simpan permennya. Pasti nanti kupakai,” jawabku sambil berlalu.

Sayang, niatku belum kesampaian. Karena kesal, permen itu kumakan.

Iklan

14 thoughts on “[Small Things] Etika Dagang

  1. Ie berkata:

    pindah kota dan nge-kost membuatku akrab dengan ‘beli makan’…
    dan menemui beberapa tempat yang ‘ga mau ku datangi lagi’ meski aku suka makanannya, karena mereka melakukan ini! (catat) :p

    – si mbak kasir ga punya kembalian lalu nyari tukeran sana sini… terus ngasih kembaliannya receh logam sambil dihitung satu persatu di depanku … sambil matanya dan mulutnya ga senyum

    – si mbak pelayan ngasih gelas wedangnya kasar sekali (cuma karena aku saja yang datang ke warung sendirian)… kurang ajar banget yak!

    huh :/

    • Attar Arya berkata:

      Kadang mereka nggak paham, hal kecil macam senyum aja bisa bikin kita balik lagi ke tempat dia, bisa juga bikin males.
      Di tempat aku biasa beli lauk, Ie, ibu-
      ibu yang jual kadang menyapa dengan : ‘Beli apa, sayang?’. Kadang geli dengarnya, tapi paling nggak dia ada perhatian. :p

    • Attar Arya berkata:

      Makanya aku kalau isi bensin nggak lagi bilang ‘isi penuh’ tapi bilang langsung nominalnya : sepuluh ribu, atau angka lain. Sebal juga sih kalau meteran nunjuk angka 14.150, tapi dihitung 15.000, tanpa ada komentar apa pun. :p

    • Attar Arya berkata:

      Rencananya gitu, Cit. Beli sebungkus, terus bayar sebagian pake permen. Sayang, niat itu datang cuma pas kesel. Udah hilang sebal, hilang juga niatnya. πŸ˜€

  2. Emaknya Benjamin br. Silaen berkata:

    Klo yg kasih kembalian dg permen sih kelewatan tuh 😦 apalagi satu permen dihargai 300 perak parahhh πŸ˜€ . Bang Rigaaa knapa permennya kau makan, harusnya coba ngetes dulu bisa ga jadi alat pembayaran tuh permen hihi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s