Review Novel : Kembar Keempat

kembar-keempat

Penulis                                  : Sekar Ayu Asmara

Editor                                    : Atmanani

Tebal                                     : 271 halaman

Penerbit                                : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama                 : Juli 2010

ISBN                                    : 978-979-22-5929-2

“Anak yang terlahir kembar tak boleh terpisahkan oleh apa pun, oleh siapa pun.”

Sebelum “Kembar Keempat”, novel karya Sekar Ayu Asmara yang saya baca adalah Pintu Terlarang. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal nuansa cerita yang serius dan cenderung gelap. Mirip dengan Pintu Terlarang, Kembar Keempat mendasarkan cerita pada rahasia kelam masa lalu yang mempengaruhi kejadian-kejadian di masa depan.

Dibuka dengan tiga fragmen yang senada : peristiwa bunuh diri tiga orang perempuan cantik pada saat yang sama di tiga belahan dunia berbeda. Peristiwa-peristiwa ini bukanlah pemicu cerita melainkan akhir dari rentetan kejadian sebelumnya.

Lokasi cerita membentang di empat kota di tiga benua : New York, Paris, Istambul, dan Bali. Mengisahkan cerita kembar tiga lelaki yang ditampikan sempurna nyaris tanpa cela. Bhajra, Bhara, dan Bhadra berusia 25 tahun, tinggi 182 sentimeter, tegap atletis, berhidung mancung, mata elang, bibir padat. Kurang sempurna? Tambahkan lagi kelebihan-kelebihan mereka. Bhara si sulung adalah seorang penyanyi bersuara dahsyat yang kelak mendapatkan peran utama dalam sebuah drama musikal berjudul Prince of Bali yang diadakan di New York; Bhadra si tengah adalah pencipta lagu yang memenangi kompetisi International Song Festival 2004; dan si bungsu Bhajra adalah sutradara film dokumenter yang sedang mengerjakan proyek film dokumenter bertajuk Forgotten Kingdoms, serial yang menggali kejayaan keraton-keraton Nusantara masa lalu atas sponsor Asian Heritage. Sudah cukup sempurna? Ternyata belum. Penulis masih melengkapi tokoh kembar tiga dengan kelebihan-kelebihan lain semisal pintar bermain piano, biola, cello, dan bikin lagu. Ditambah lagi dengan mereka tinggal bersama orangtua yang kaya (raya). Sang ayah adalah seorang pemilik perusahan perkapalan dan sang bunda ibu rumah tangga biasa. Baru ketika sang ayah meninggal, Bunda mengambil alih semuanya.

Sudah bisa membayangkan betapa sempurnanya sang kembar tiga?

Oke. Itu tadi tokoh utama laki-laki. Beralih ke tokoh-tokoh utama perempuan. Selain sosok Bunda yang juga ditampilkan sempurna – cantik, cerdas, disiplin, perhatian pada anak-anaknya meski sibuk, mampu mengurus perusahaan mendiang suami – ada dua karakter perempuan yang mewarnai nyaris keseluruhan cerita. Ada Axena, model internasional yang berasal dari Indonesia dengan masa kecil yang buruk. Tinggal di panti asuhan, diadopsi wanita Belanda bernama Mama Bella, kembali lagi ke panti ketika berusia delapan tahun, dan menjadi model saat berusia empat belas tahun. Fisik Axena juga sempurna, hal yang mengantarkannya menjadi model. Tapi kenangan buruk saat diadopsi Mama Bella tampak berbekas dalam hidup Axena. Berikutnya hadir Havana, perempuan cantik yang berprofesi sebagai fotografer khusus korban bunuh diri. Fisiknya pun sempurna rupawan, berkepala plontos dan karakter yang tangguh. Apalagi? Havana punya kecerdasan di atas rata-rata hingga kedua orangtua memasukkannya ke Bloomenberg Institute for Gifted Children. (Institut untuk anak-anak berbakat benar-benar ada, hanya saja namanya adalah Bloomberg Institute for Gifted Children.)

Semakin jauh saya membaca dan mengenali para tokoh (utama ataupun figuran), saya sadari ada satu hal yang sama: nyaris semuanya memiliki fisik mendekati sempurna. Tinggi, tampan, jelita, mancung, tegap, langsing, semampai, bla bla bla. Mirip dengan tokoh-tokoh dalam cerita telenovela, yah?

Lalu apa yang diceritakan Sekar Ayu Asmara dalam novel setebal 271 halaman ini? Dan apa hubungannya judul Kembar Keempat dengan keseluruhan cerita. Sejak awal saya sudah menduga bahwa sebenarnya ada kembaran lain selain kembar tiga lelaki tampan nan sempurna itu. Tebakan saya salah satu dari tokoh utama perempuan adalah kembar keempat. Yah, saya hanya benar 50%. Benar ada kembar keempat, tapi bukan Axena atau Havana. Karena sebenarnya mereka berdua adalah…..upss.. hampir keceplosan. :p Jadi, siapakah kembar keempat itu? Saya tak punya petunjuk hingga penuturan seorang lelaki tua dari Bali menjelaskan semuanya. Sebenarnya saya agak sebal jika seluruh misteri yang dibeberkan dari awal hingga menjelang cerita bisa tuntas tas tass  ‘hanya’ dengan pengakuan satu tokoh saja. Sementara dalam rangkaian kisah sebelumnya tak ada petunjuk sama sekali.

Jadi, diceritakanlah kisah ‘sepak terjang’ masing-masing tokoh kembar tiga (kecuali Bhajra yang mendapat porsi cerita lebih sedikit ketimbang saudara-saudaranya) serta Axena dan Havana. Dunia modeling, fotografi, serta beragam ‘pernak-pernik’ luar negeri seperti makanan, minuman, adat, tempat bersejarah diceritakan dengan lancar. Sesekali saya merasa agak ‘eneg’ karena nyaris di tiap adegan ada deskripsi. Mau makan, ada deskripsi soal sejarah tempat makan; mau minum sesuatu, ada penjelasan nama minuman dan bahan pembuatannya; berkunjung ke kebun binatang pun serupa. Kadang saya berseru dalam hati, “Huh, pamer!” (Padahal sirik karena nggak mampu, hehe.) Meski begitu saya mesti acung jempol buat kefasihan penulis menceritakan hal-hal mewah dalam kisah ini. Saya jadi punya gambaran sendiri mengenai tempat, tatacara, atau hal-hal unik di lokasi-lokasi cerita. Penulis berkisah seolah dia sendiri yang menjalani pengalaman-pengalaman itu. (Barangkali memang benar mengalami, sih.)

Cerita seperti berjalan sendiri-sendiri. Bhara. Bhadra. Bhajra. Axena. Havana. Tiap tokoh menguasai’ bab cerita masing-masing dengan permasalahan sendiri. Baru kemudian kisah hidup tokoh perlahan saling mengait : Bhadra + Havana, Bhara dan Axena, dan Bhajra….hmm, tokoh kembar yang satu ini agak ‘terpinggirkan’. Kisahnya baru diulas setelah pertengahan novel. Itu pun bukan kisah cinta, melainkan soal pekerjaan dan sedikit misteri. Bhajra-lah yang menemukan kunci misteri hidup kembar tiga ketika tengah menyelesaikan film dokumenter di Bali. Kisah dua pasang sejoli ini (plus Bhajra) terhubung hanya melalui panggilan-panggilan telepon. Saat Bunda meregang nyawa, Bhara dan Bhadra gegas meninggalkan pacar-pacar mereka di belahan bumi berbeda untuk mendampingi. Bunda membisikkan sebuah rahasia. Bukan rahasia kelam sih sebenarnya, tapi membawa implikasi pada kehidupan kembar tiga. Isinya tentu saja bahwa mereka bukan hanya tiga bersaudara. Tapi Bunda tak sempat menjelaskan semuanya, keburu maut menjemput. Telepon dari Bhajra (yang herannya seperti tak terlalu sedih) menuntun mereka pada tokoh bernama Made Wiyata. Dialah kunci segala misteri.

Intermesso.

Siapkan KBBI saat membaca novel ini ya. Dijamin, di tiap halaman ada kosakata bahasa Indonesia yang barangkali belum pernah kalian temui sebelumnya. Pernah dengar kata menggelimuni, gelakak, kecundang, rutup, belintang, kepam, gayang, menggelugut, langkisan, keropeng, gelebah, mencelang, melangah, cemani, melanjar, geleser, gemeletap, melutu, gementam? Deretan kata itu saya temukan hanya dalam enam halaman pertama. Halaman sisanya? Perkirakan saja sendiri. Hehe. Pemakaian kosakata yang jarang dipakai ini punya dua sisi : memperkaya khazanah kata pembaca, atau justru membuat pembaca bosan/frustasi. Jujur, awal-awal membaca, saya siaga dengan aplikasi KBBI di ponsel. Tapi lama kelamaan nggak lagi. Kalau nggak mengerti artinya, ya dikira-kira saja. 😀

Tiga setengah bintang untuk Kembar Keempat.

Iklan

21 thoughts on “Review Novel : Kembar Keempat

    • Attar Arya berkata:

      Hahahaha. Spoilernya masih kentara ya? Padahal ada dua paragraf yang dihapus dari draft sebelumnya. Pasti gara-gara ada ‘kata berulang’ yang belum diedit. 😀

  1. Fadilla Sukraina berkata:

    Walaupun suka ribet sendiri sama kkbi kalo lagi baca novel yg banyak kosataka yg jarang dipake gitu, tapi aku suka kok bacanya. Lumayan lah ya nambah perbendaharaan kata. Jadi tertarik sama bukunya hmm😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s