Review : Ayah… Kisah Buya Hamka yang Menyentuh Jiwa

buya hamka

Penulis                 : Irfan Hamka

Editor                    : Muh. Iqbal Santosa, Andriyati

Tebal                     : 323++ halaman

Penerbit                : Republika Penerbit

Cetakan VII           : Juni 2014

ISBN                      : 978-602-8997-71-3

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Pesan yang menggetarkan itu datang dari lisan Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia beberapa waktu sebelum ajal menjemput. Ketika pesan itu disampaikan pada Hamka pada tanggal 16 Juni 1970 saat Sang Presiden telah menutup mata, Hamka tanpa berpikir panjang langsung datang memenuhi harapan. Padahal saat itu semua orang tahu bahwa pada periode 1964-1966 Hamka dipenjara atas perintah Soekarno karena dituduh melanggar Undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11 yaitu merencanakan pembunuhan Soekarno. Dakwaan yang tak pernah terbukti benar. Hamka malah bersyukur sebab dalam masa penjara dia bisa menyelesaikan sebuah mahakarya yang akan selalu dikenang : Tafsir Al Qur’an 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al Azhar.

Kebesaran hati sosok bernama lengkap H. Abdul Malik Karim Abdullah yang akrab dipanggil Buya Hamka ini sungguh patut dipuji. Pada orang-orang yang menyakiti hatinya ia tak menyimpan dendam. Selain Soekarno, sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah pula berseberangan dengan Hamka. Awal tahun 1963, Buya Hamka mendapat cobaan berupa fitnah dari dua surat kabar harian ibukota : Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur lewat sisipan ruang seni-budaya bertajuk Lentera yang dipimpin oleh Pramoedya Ananta Toer. Dua koran berbau komunis itu menuding Hamka menjiplak karangan Alvonso Care seorang pujangga Perancis untuk novelnya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Serangan ini terus menerus dilakukan akibat sikap Buya Hamka yang berseberangan dengan PKI. Berbulan-bulan diburuk-burukkan lewat tulisan di koran – yang mengakibatkan kehidupan beliau dan keluarga morat-marit – tak membuat Buya Hamka jatuh benci. Ia tetap tenang seolah tak terjadi apa pun. Ketulusan hati ia buktikan lewat kesediaannya membimbing seorang lelaki bernama Daniel Setiawan ketika akan belajar Islam agar dapat menikah bernama Astuti, yang tak lain adalah anak kandung Pramoedya Ananta Toer.

Buku yang  ini bertabur hikmah diceritakan kembali oleh salah satu putra beliau yang bernama Irfan Hamka. Tentang teguhnya hati dan iman, yang tak goyah oleh keadaan. Bahkan Buya Hamka tak segan meninggalkan jabatan ketika akidahnya coba dilemahkan. Tahun 1981 ketika Majelis Ulama Indonesia yang saat itu diketuai oleh Buya Hamka mengeluarkan fatwa haram hukumnya bagi umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama, pemerintah yang merasa keberatan meminta MUI mencabut fatwa tersebut. Buya Hamka menolak dan menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI Pusat pada tanggal 21 Mei 1981. (Perihal kronologis pengunduran diri Buya Hamka tidak diceritakan secara detil oleh penyusun buku.)

Membaca biografi seorang tokoh besar yang pernah dimiliki republik ini lewat penuturan langsung Irfan Hamka – yang kerap mendampingi sang ayah di banyak kesempatan- saya menangkap kesan yang intim. Terasa akrab seolah saya sedang menyaksikan sendiri jalan hidup Buya Hamka yang berliku. Irfan Hamka membagi buku ini dalam sepuluh bagian;

  1. Bagian satu : Sejenak Mengenang Nasihat Ayah

Ada tiga kisah yang dibagikan di bagian ini, tapi satu yang paling mengesankan buat saya adalah nasihat Buya Hamka terhadap pasangan suami istri yang bermasalah dalam hal ‘hubungan suami-istri’. Terasa menggelitik namun cerdas. Plus manjur!

  1. Bagian dua : Ayah dan Masa Kecil Kami

Irfan bercerita perihal masa kecil dirinya dan sebelas saudaranya yang lain.

  1. Bagian tiga : Ayah Berdamai dengan Jin

Kali ini kisah seram yang hadir dalam kehidupan Buya Hamka sekeluarga. Kehadiran sosok jin yang mengganggu keluarga, keberanian Buya Hamka menantang jin, hingga ‘perdamaian’ di antara keduanya. Oh ya, ada penerjemahan ayat Al Qur’an Surah Adz Zariyat ayat 56 yang tidak lengkap di awal bab. Agak mengganggu mengingat buku yang saya baca adalah cetakan ketujuh.

  1. Bagian empat : Ayah, Ummi, dan Aku Naik Haji

Akhir Desember 1967, Pendjabat (Pd) Presiden Indonesia, Soeharto, menawarkan kesempatan menunaikan ibadah haji atas biaya negara. Buya Hamka mengajak istri tercinta dan Irfan – yang telah dewasa saat itu- untuk menemaninya. Bab ini bercerita soal kejadian-kejadian selama perjalanan dalam kapal yang memakan waktu hingga dua pekan.

  1. Bagian lima : Perjalanan Maut Ayah, Ummi, dan Aku

Masih melanjutkan kisah Buya Hamka, Ummi, dan Irfan Hamka selama menjalankan ibadah haji dan sesudahnya, kali ini cerita yang dihadirkan adalah seputar kejadian-kejadian saat maut terasa sejarak satu jengkal dari kepala. Nyaris digulung badai pasir, lolos dari tabrakan maut, hingga selamat dari terjangan banjir bandang.

  1. Bagian enam : Ayah Seorang Sufi di Mataku

Kecintaan Buya Hamka pada tasawuf dikisahkan secara singkat dalam bagian ini.

  1. Bagian tujuh : Ayah dan Ummi, Teman Hidupnya

Siapakah sosok Ummi yang menjadi pendamping hidup Buya Hamka selama lebih dari 40 tahun? Bagaimanakah peranan di balik layar sosok penyayang ini? Irfan menceritakannya dengan penuh cinta.

Buat saya pribadi, ada satu hal yang ‘mengganggu’ dalam tuturan di bab ini. Irfan mengisahkan bahwa ia dan sang Bunda pada suatu hari mengunjungi sembilan rumah kerabat yang berbeda tempat hanya dalam waktu seharian. Mengingat waktu itu (penulis tidak merinci tahun kejadian) mereka belum memiliki kendaraan pribadi dan bepergian dengan kendaraan umum. Bahkan salah satu alamat hanya bisa digapai dengan menumpang getek untuk menyeberangi sungai.

  1. Bagian delapan : Si Kuning, Kucing Kesayangan Ayah

Kenapa Irfan memutuskan memberi satu bab khusus untuk seekor kucing? Barangkali karena si kucing ini telah menjadi bagian dari keluarga besar Buya Hamka selama hampir 25 tahun. Kucing yang setia dan menjadi kesayangan Buya.

  1. Bagian Sembilan : Ayah, Hasil Karya, dan Beberapa Kisah

Menurut saya separuh awal bagian ini mestinya diletakkan di bagian awal buku. Kenapa? Sebab beberapa sub-judul bagian sembilan ini berisi kisah hidup Buya semasa kecil, perjuangannya dalam merantau, termasuk kisah yang menjadi pemacu semangatnya untuk terus belajar meraup ilmu. Tentang sebuah penolakan yang menggolakkan keinginan untuk terus berdakwah. Memang dalam penceritaan buku ini, Irfan tidak melakukannya secara runtut. Cerita melompat-lompat sesuai keperluan. Tapi jika sejak awal pembaca disuguhi kisah perjuangan Buya Hamka sedari kecil, menurut saya akan lebih baik.

  1. Bagian sepuluh : Ayah Meninggal Dunia

Mengharukan. Dada saya sesak membayangkan saat-saat terakhir tokoh besar ini. Saat lemah tanpa daya ia tak pernah meninggalkan Tuhannya. Buya Hamka sampai meminta salah satu anaknya untuk membawakan sebaskom pasir bersih agar dia dapat bertayammum sebelum shalat. Meskipun kondisinya sangat payah, akidah Buya tak pernah goyah.

Buku ini diawali dengan kata pengantar oleh Taufik Ismail dan diakhiri oleh baris-baris puisi milik Ratih Sang. Karena ini adalah semacam biografi tokoh, maka saya tak berhak menilai isinya. Kritik saya paling seputar kesalahan ketik yang masih banyak bertebaran. Buku yang sangat layak dibaca. Banyak mutiara hikmah di dalamnya.

Iklan

6 thoughts on “Review : Ayah… Kisah Buya Hamka yang Menyentuh Jiwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s