The Cuckoo’s Calling : Dekut Burung Kukuk

DekutBurungkukukCover

Penulis: Robert Galbraith 
Alih bahasa: Siska Yuanita 
Desain sampul: Marcel A.W
ISBN: 9786020300627 
Halaman: 520 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

The Cuckoo’s Calling (TCC) adalah karya tulis kesembilan dari pengarang Inggris kenamaan J.K Rowling yang menggunakan nama Robert Galbraith sebagai nama samaran. Robert Galbraith dideskripsikan sebagai seorang mantan perwira kepolisian yang bekerja sebagai pengawal pribadi. Awalnya –meski mendapat ulasan positif- karya ini disambut biasa saja oleh penikmat novel. Di Inggris  terjual hanya sekitar 1500 eksemplar. Lalu, sebuah ‘petunjuk rahasia’ dari akun anonim Twitter yang diterima harian The Sunday Times of London mengungkapkan bahwa “Robert Galbraith” adalah nama samaran dari J.K Rowling. Setelah melakukan penyelidikan, The Times memastikan bahwa TCC benar-benar ditulis oleh J.K Rowling. Selanjutnya tinggal sejarah. TCC laris manis bak kacang goreng. Novel ini melejit ke puncak penjualan daring Amazon dan 300,000 eksemplar segera dicetak.

(Intermesso)

Saya jadi teringat satu ‘kasus’ di dunia literasi Indonesia yang serupa tapi tak sama. Seorang pengarang anonim yang karyanya laku keras akhirnya ‘terpaksa’ muncul setelah melalui sebuah drama yang menggelikan. Masalah bermula saat novel si pengarang yang bertema hantu-hantuan akan difilmkan. Pasti sangat tak lucu jika si pengarang yang memakai nama salah satu tokoh hantu ‘lokal’ Indonesia muncul di depan publik dengan dandanan ala hantu. Sementara kalau ‘ujug-ujug’ muncul ke hadapan publik juga tak seru. Karena itu muncullah drama pengungkapan identitas oleh seorang ‘blogger’ anonim. Lewat ‘penyelidikan mendalam’ dan lakon berbalas pesan, ‘blogger’ tersebut berhasil mengungkap identitas asli si pengarang. Akhirnya si pengarang ‘terdesak’ dan hadir ke depan publik. Jadilah dia muncul di sana-sini untuk memberi penjelasan. Lalu, proyek film pun mulus dijalankan.

Oke, cukup dengan drama picisannya. Balik lagi ke TCC.

Kenapa J. K Rowling merasa perlu menulis cerita dengan nama samaran? Berikut alasannya.

Rowling explains that she “was yearning to go back to the beginning of a writing career in this new genre, to work without hype or expectation and to receive totally unvarnished feedback.”

Kurang lebih artinya ia ingin rindu kembali ke masa-masa awal menulis, bekerja tanpa publisitas atau harapan berlebih dan bahwa ia ingin mendapatkan umpan balik yang benar-benar jujur.

Barangkali pula J.K Rowling terinspirasi dari Nora Roberts, pengarang kisah-kisah romansa Amerika yang punya tiga nama samaran : JD Robb, Jill March, dan Sarah Hardesty. Dengan empat nama pengarang (menurut pihak penerbit ) otomatis karya-karya Nora Roberts bisa lebih sering diterbitkan. Dan hasilnya luar biasa! Sejak tahun 1991 hingga saat ini Nora Roberts sudah menghasilkan lebih dari 209 novel romansa! (wikipedia)

Jadi, seperti apa The Cuckoo’s Calling yang dibesut Robert Galbraith alias J.K Rowling ini?

Cerita ini berpusar pada Cormoran Strike, seorang veteran perang Afganistan yang menderita luka fisik (kehilangan sebelah tungkai kaki) dan luka batin akibat dicampakkan oleh Charlotte, tunangannya yang menderita mythomania atau kecenderungan berbohong. Keadaan finansial yang tak menguntungkan juga memaksa Strike untuk benar-benar menghemat pengeluaran dengan tidur di kantor dan menggunakan kamar mandi milik kampus di sebelah kantornya. Sementara kasus-kasus yang ia tangani tak memberi cukup materi.

Suatu hari kehidupan Strike berubah. Seorang lelaki bernama John Bristow menyewa jasanya untuk menyelidiki kasus kematian sang adik angkat, seorang supermodel kenamaan bernama Lula Landry. Lula tewas setelah jatuh dari balkon apartemennya di sebuah malam bersalju. Polisi yang menyelidiki berkesimpulan bahwa peristiwa itu murni bunuh diri. John Bristow tak terima. Ia memilih Strike yang juga merupakan sahabat masa kecil Charlie, adiknya yang lain untuk menyelidiki.

Meski awalnya sama sekali tak tertarik, kesulitan uang dan usaha keras melupakan buruknya hubungan asmara dengan Charlotte tunangannya membuat Strike menerima tawaran John Bristow . Apalagi John menawarkan bayaran ganda. Merasa kondisi keuangannya mulai membaik, Strike memutuskan untuk memakai jasa pegawai temporer Robin Ellacott untuk membantunya menangani kasus. Keberadaan Robin ternyata sangat membantu penyelidikan Strike dengan ide-idenya yang kadang tak terpikirkan sama sekali oleh bosnya. Berdua mereka menelusuri misteri kematian Lula Landry.

Jadi, siapa pembunuh Lula Landry? Tanpa bermaksud spoiler, tentu saja pembunuhnya adalah tokoh yang sering sekali muncul selama cerita berjalan. Di halaman 485 identitas sang pembunuh dikuakkan oleh Strike.

Hmm…

Jujur saya suka dengan cerita detektif. Salah satu contoh terbaik yang bisa saya bagikan adalah kisah-kisah novel Jeffery Deaver. Ingat film The Bone Collector yang dibintangi Angelina Jolie dan Denzel Washington? Film itu dibuat berdasarkan novel berjudul sama milik Deaver. Saat membaca novel tersebut saya merasa terhanyut, ikut tegang, dan berharap-harap cemas. Semua detil petunjuk diungkap perlahan tanpa membuat pembaca (khususnya saya) merasa bosan. Ada bagian novel yang berderu cepat, memacu adrenalin, ada pula bagian yang ‘santai’.

Bedanya dengan TCC adalah alur cerita berjalan sangat lambat. Saking bosannya saya sering melompati halaman demi halaman untuk mempercepat bacaan. Bayangkan jika ada sepuluh tersangka dalam novel ini. Robert Galbraith membuat pembaca harus mengikuti penyelidikan satu per satu tanpa memberi indikasi bahwa terhadap tiap tersangka ada keterangan atau petunjuk berguna yang bisa dipakai merumuskan kesimpulan. Pembaca dibiarkan menyerap sendiri informasi yang tersaji. Strike baru mengungkap semua petunjuk mulai halaman 485 saat berkonfrontasi dengan pelaku pembunuhan.

Mungkin juga sih hal ini – penyelidikan para saksi dan tersangka yang bergulir lambat- dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan fakta bahwa kasus kematian Lula sudah ditangani polisi dan menghasilkan kesimpulan bunuh diri. Sehingga hasil penyelidikan Strike haruslah berupa ‘remah-remah’ yang mungkin sepele tapi ternyata di kemudian hari memiliki keterkaitan yang kuat. Tapi tetap saja menyelesaikan novel ini butuh ‘perjuangan’.

Satu hal lagi yang mengganggu pikiran saya : Apa sih arti Dekut Burung Kukuk dalam novel ini? Jangan bayangkan suatu hal yang bikin kening berkerut sebab hubungan antara judul dengan keseluruhan kisah adalah : “Cuckoo” merupakan panggilan kesayangan Lula Landry semasa hidup. Hanya itu? Yup, hanya itu. Kalau saya bandingkan, judul  The Bone Collector buatan Jeffery Deaver jelas jauh lebih bermakna dan menjiwai keseluruhan kisah.

Saat membuka halaman awal buku ini dan mendapati bahwa J.K Rowling adalah nama besar di baliknya, harapan saya sedikit melambung. Tapi akhirnya saya harus ‘terima kenyataan’. Tiga bintang buat The Cuckoo’s Calling : Dekut Burung Kukuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s