Review Kumpulan Cerpen : Tentang Kita

foto tentang kita

Penulis : Reda Gaudiamo

Editor : Herlina P. Dewi

Tebal : 205++ halaman

Penerbit : Stiletto Book

Cetakan I : April 2015

ISBN : 978-602-7572-37-9

Warna dari masa ke masa cukup terasa pada beberapa cerpen. tetapi ada satu hal penting yang mengikat satu cerpen dengan cerpen yang lain : semua berkisah tentang keseharian, tentang hati, dan cinta manusia biasa.

Jujur, sebelumnya saya tidak mengenal nama Reda Gaudiamo sebagai salah satu penulis handal di Indonesia. Di tahun 90-an saat minat baca saya mulai tumbuh dan gemar menyantap beraneka cerita, nama penulis beken yang saya kenal berkisar pada Hilman Hariwijaya, Boim Lebon, Gola Gong dan beberapa nama lain yang karya-karyanya saya baca di beberapa majalah remaja. Barangkali ada satu atau beberapa cerpen buatan Reda Gaudiamo yang saya baca, tapi saya lupa. Karena itu ketika menerima buku kumpulan cerpen Tentang Kita saya tidak memiliki gambaran khusus mengenai cerita-cerita yang akan saya baca. Dan beruntungnya saya, disebabkan ketidaktahuan ini saya jadi lebih ‘jujur’ dalam menikmati kisah, tanpa ada ‘beban’.

Menikmati 17 cerita milik lulusan Sastra Perancis & Magister Komunikasi FISIP UI yang pernah bekerja di berbagai biro iklan dan media ini saya seperti terhanyut oleh jalinan kisah sederhana dan jauh dari ‘drama yang tak diperlukan’. Seperti yang dikatakan dalam pengantar di bagian belakang buku, cerita-cerita Reda berkisah tentang keseharian, tentang hati, dan cinta manusia biasa. Kisah-kisah yang terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin pernah kita alami sendiri.

Saya akan tuliskan satu per satu kesan saya terhadap tiap-tiap cerpen yang ditulis dari akhir 1980-an hingga 2014 dalam ulasan berikut:

  1. Ayah, Dini, dan Dia.

Bertutur tentang hubungan seorang ayah dengan putri tunggalnya yang mulai mengenal cinta laki-laki. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, tiga tokoh menceritakan kisah mereka masing-masing. Cerita tentang Ayah yang khawatir soal masa depan putri kesayangan, tentang kenangan masa silam, tentang ‘perjuangan’ seorang anak dan kekasihnya dalam meyakinkan sang Ayah agar merestui kisah cinta mereka berpadu dengan manis. Tak ada konflik meledak-ledak yang dipaksakan. Semua mengalir dengan penghujung kisah yang manis.

  1. Mungkin Bib Benar

Dan mungkin ini adalah cerita yang paling ‘tak menarik’ dalam kumpulan cerpen ini. Cerita kehilangan yang dikisahkan lewat penuturan dua ekor anjing terasa agak datar.

  1. Anak Ibu

Ini cerita yang sangat ‘panjang’ rentang waktunya : 28 tahun! Berkisah tentang seorang Ibu yang sangat penuntut pada anak perempuannya. Dimulai sejak tahun 1978 saat si anak masih bocah hingga tahun 2006 ketika bocah tadi telah dewasa. Si Ibu selalu berusaha menyetir hidup anaknya. Dengan gaya bahasa yang ringan dan mengalir lancar, saya terhanyut oleh kisahnya. Tanpa narasi, hanya kalimat-kalimat percakapan yang lugas. Kisah yang mungkin sering kita temukan di sekitar kita.

  1. Potret Keluarga

Kali ini Reda bicara soal jodoh. Tentang seorang Ibu yang tak suka dengan lelaki pilihan putrinya, Kanya. Si calon mantu berkulit legam sementara keluarga mereka berkulit putih. Lewat penuturan tokoh Dito, adik bungsu Kanya, pembaca diajak menyelami karakter tiap tokoh dalam keluarga. Satu hal yang mengganggu adalah nama tokoh putra sulung yang semula bernama Addo tiba-tiba berganti menjadi Tino sejak pertengahan cerita.

  1. Tentang Kita

Cerita yang dijadikan sebagai judul kumpulan cerpen ini membuatku menghela napas berkali-kali seusai membacanya. Kisah hidup sepasang manusia yang terentang panjang diceritakan dengan penuh rasa. Kebahagiaan, rasa sakit, pengharapan, dan kekecewaan mengaduk-aduk perasaan tokohnya –juga perasaan pembaca. Saya seolah bisa ikut merasakan kegembiraan sepasang suami istri tak bernama – Reda tak menamai keduanya- saat sebentuk kehidupan hadir di antara mereka; ikut menyesap getir kala sebentuk kehidupan itu tak sanggup bertahan digerus lelah; hingga terbawa suasana hambar yang mengambang di antara keduanya. Dua insan yang mencoba bertahan dalam kerinduan menimang penerus kehidupan.

  1. 24 x 60 x 60

Semula saya mengerutkan kening membaca judul cerita. Apa sih maksudnya? Lama-lama saya paham itu adalah pertanda waktu : 24 jam x 60 menit x 60 detik. Sesuai judul, Reda bercerita tentang pergumulan sepasang suami istri menyiasati waktu. Bagaimana mereka berjibaku untuk mengurus anak semata wayang, pekerjaan yang seolah tak pernah surut, dan kemacetan.

  1. Si Kecil

Menurut saya cerpen ini memiliki muatan kritik sosial yang lugas. Fokus cerita adalah seorang anak gelandangan cacat yang memancing iba seorang suami yang kemudian menularkannya pada si istri. Seperti lazimnya perilaku penghuni wilayah perkotaan yang selalu ‘waspada’, si istri menentang keinginan suaminya yang berniat membawa si bocah pulang ke rumah mereka. Apalagi si istri menduga bocah malang itu adalah bagian dari jaringan bisnis pengemis yang telah memakan banyak korban. Akhirnya setelah melalui sebuah pertengkaran, si suami mengurungkan niatnya mengadopsi si bocah. Lewat satu peristiwa pencopetan, si istri mendapati bahwa bocah malang itu tak seburuk yang dia bayangkan. Ketika keinginan untuk melaksanakan niat awal suaminya muncul, saat itulah kenyataan menghempas. Kali ini aku merasakan ada yang berdesir di kepala, ada sesak di dada ketika sampai di akhir cerita. Ah, Reda…

  1. Perjalanan

Pada cerita ini aku merasa sedikit ‘tertipu’. Dalam bayanganku, dua perempuan yang sedang bercakap-cakap dalam perjalanan dengan kereta api adalah dua orang sahabat berbeda usia. Perempuan yang lebih tua mengisahkan perjalanan hidupnya, pun dengan perempuan muda. Siapa sangka status mereka berdua sebenarnya lebih dari sekedar teman biasa?

  1. Bayi

Lagi-lagi Reda berkisah tentang sepasang suami-istri. Kali ini bayi –tetangga- yang jadi pengikat cerita. Jika baru-baru ini kita dihenyakkan dengan peristiwa pembunuhan bocah perempuan oleh ibu angkatnya, Reda sudah lebih dulu menyentil sikap tak pedulian sebagian kita. Tangis bayi yang kerap terdengar, semula diabaikan begitu saja oleh sang suami. Ajakan si istri untuk menjenguk tak digubris dengan beragam alasan. Mirip dengan kisah Si Kecil, saat niat berbuat baik itu datang, semuanya sudah terlambat.

  1. Menantu

Membaca cerita ini saya teringat cerita sebelumnya: Potret Keluarga. Fokusnya sama yaitu tentang pilih-pilih menantu.

  1. Taksi

Kejadian dalam cerita ini pernah saya alami sendiri. Tentang pengemudi taksi yang mengarang cerita (sedih) untuk menarik simpati. Yang dilakukan tokoh ‘korban’ sama seperti yang saya buat : memberi ongkos lebih.

  1. Minggu Dini Hari

Sedikit ‘di luar kebiasaan’ kali ini cerita yang diketengahkan adalah persoalan remaja. Si tokoh yang gemar kebut-kebutan, rencana nge-trek di tempat baru, juga taruhan. Hingga sebuah peristiwa bernuansa magis menghentikan total perilakunya. Buatku cerita ini kurang berkesan.

  1. Aku : Laki-laki

Setelah ‘bermuka datar’ usai membaca cerita sebelumnya, Aku Laki-laki membuat saya tersenyum gemas. Aduh! Bahkan hal ‘sesederhana’ yang diceritakan Reda bisa membuat senyum simpul mengembang. Padahal ini ‘hanya’ cerita soal seorang lelaki yang menyukai seorang perempuan. Itu saja! Tapi tetap saya terbuai, dan menjelang akhir cerita, pikiran amatir saya sudah membayangkan ‘hal-hal heboh’ sebagai pamungkas kata. Eh, tidak tahunya ‘cuma seperti itu’ akhirnya. Tapi begitu mengena. Apalagi kata-kata terakhir cerita sungguh bermakna : Repot sekali jadi laki-laki!

  1. Maaf

Jujur ini cerita yang membingungkan. Asmara manusia dan makhluk halus? Tak ada penjelasan bagaimana dua insan berlainan dunia ini bisa bertemu, bersahabat, lalu ada yang jatuh cinta. Lebih tak ada penjelasan lagi apa sebabnya satu ciuman bisa bikin nyawa melayang. Dan, hei! Apa memang manusia bisa berciuman dengan makhluk halus? Menurutku, cerita ini melenceng dari ‘garis’ cerita-cerita sebelumnya.

  1. Cik Giok

Suka sekali dengan cerita ini! Meski nuansanya muram ditandai dengan peristiwa kematian, ini cerita yang sarat detil. Adat istiadat keluarga Tionghoa Pontianak dikisahkan dengan menarik, membungkus misteri yang baru terungkap di akhir. Buat pembaca yang sudah sering membaca cerita keluarga berbalut rahasia, mestinya bisa menebak hubungan antara Cik Giok dengan tokoh Aku. Meski begitu, kenikmatan menyesap tiap kata dalam cerita ini sungguh terasa! Suka!

  1. Dunia Kami

Cerita paling panjang di antara semua cerita. Dalam rentang 32 halaman Reda dengan lihai mengurai kisah pergumulan batin seorang ABG yang mulai mencari tempatnya di sekolah baru juga hubungannya dengan keluarga, ibu dan seorang kakak perempuan. Saya sempat terharu dan nyaris berkaca-kaca pada bagian tokoh yang bercerita soal pesan almarhum ayah saat si tokoh lahir. Si ayah bilang bahwa sang penjaga ibu telah lahir, anak lelaki yang diharapkan menjadi kebanggaan keluarga. – kalau sudah menyangkut urusan beginian, saya memang jadi sentimentil-. Mirip alur cerita dalam film : setelah bagian awal hingga tengah dipenuhi konflik panas, bagian terakhir adalah bagian ‘pendinginan’. Kehidupan tokoh utama berubah drastis  menjadi lebih tenang.

  1. Pada Suatu Pagi

Sebagai penutup, cerita ini kurang terasa gregetnya. Kali ini Reda menjadikan seorang nenek yang terkena stroke sebagai tokoh utama. Lewat ujaran-ujarannya, pembaca mendapat gambaran seperti apa kehidupan yang dijalani tokoh, serta keinginannya yang terpendam tak sempat terkabul.

Secara umum Reda berhasil membingkai tema-tema sederhana menjadi cerita yang bermakna. Pilihan kata yang ‘biasa’ menjauhkan kerutan dari dahi pembaca. Tak pula berhias kata-kata ala pujangga yang kadang justru bikin sakit kepala. Cerita Reda sederhana, tapi mengena. Selamat membaca. 🙂

Iklan

12 thoughts on “Review Kumpulan Cerpen : Tentang Kita

  1. liannyhendrawati berkata:

    Sudah buat reviewnya juga di blog. Samaaa, di cerita “Perjalanan” aku juga merasa “tertipu” endingnya wow, ternyataaaa ….. 🙂 Aku suka sih buku ini, sederhana tapi penuh makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s