[Flashfiction] Garba Ibu

twins-julian-b

sketsa oleh Julian

Tempat ini hangat. Nyaman juga menenangkan. Sejak mampu merasakan keadaan sekitar aku sudah tahu di sini adalah tempat terbaik buatku. Juga buat sosok lain di sebelahku. Berdua kami mencoba banyak hal. Kadang berenang, kadang menendang. Sesekali mengetuk dinding garba sekadar ingin tahu apa yang ada di luar sana. Dan ketika hal itu kami lakukan, biasanya akan ada getaran halus merambati tali pusar, menghangatkan pori-pori kulit.

“Itu Ayah.”

“Oya? Dari mana kau tahu?”

“Tangan Ayah lebih kasar dari tangan Bunda. Usapannya terasa lebih kuat.”

Aku tersenyum. Benar juga. Kuraih tangannya dan mengajaknya berenang.

Suatu hari dia bertanya padaku, “Apa kau merasakan sesuatu yang berbeda?”

Aku menggeleng. Memang aku tidak terlalu peka pada hal-hal baru. Berbeda dengan dia.

“Usapan Ayah jarang terasa.”

“Benarkah? Kautahu kenapa?”

Dia diam. Ketika kuajak bermain dia menolak. “Kau saja.”

Aku tak berminat main sendiri. Aku memilih ikut diam.

Kali berikutnya kami merasakan kegelisahan. Bukan usapan Ayah yang terasa melainkan guncangan. Aku mencoba meraba-raba dinding, mencari usapan tangan Ibu yang menenangkan. Tapi tidak ada.

“Apa yang terjadi?”

Dia tertunduk dalam. Wajahnya muram.

Guncangan itu terasa lagi. Lalu senyap. Garba ini seperti berisi angin mati yang menyesakkan dada. Sayup kudengar suara tangis Ibu. Pilunya meresap ke dalam garba. Kenyamananku terganggu.

“Ibu sedih?”

Seharusnya aku tak perlu bertanya. Tapi dia mengangguk.

“Apa yang harus kita lakukan?”

Kali ini aku harus bertanya. Aku tak mau melakukan sesuatu yang akan membuat Ibu semakin sedih.

“Jangan lakukan apa-apa.”

Aku ingin menyanggah, tapi bibirku terkatup.

“Baiklah.” Aku menyanggupi lalu berbaring diam-diam. Dia juga. Kami tertidur entah berapa lama.

Dug!

“Bangun!”

“Hah? Ada apa?” Masih dengan kantuk menggayuti kelopak aku bertanya. Wajah dia dibaluri kecemasan.

Dug!

Guncangan itu terasa lagi. Kini lebih keras. Lalu suara-suara keras menembus dinding dan menyentak telinga kami.

“Aduh!”

“Aduh!”

Suara-suara itu terdengar jahat. Suara yang menyakiti hati. Suara Ibu bercampur suara Ayah dan suara perempuan lain. Siapa dia?

Dug!

Garba Ibu berguncang hebat. Gemetar membungkus tubuh kami. Sekejap kemudian kurasakan sesuatu yang mengerikan. Dinding garba mulai menghitam. Pengap menyekap. Menyesakkan. Tangis dan erangan Ibu sayup terdengar. Lalu suara teriakan-teriakan. Suara Ayah juga perempuan itu.

Kami terguncang sekali lagi lalu diam. Dia menatapku sayu.

“Selamat tinggal.”

“Tidak! Tidak! Apa maksudmu?”

Kami belum mampu menitikkan air mata tapi kutahu dia sedang menangis.

“Lihat ke bawah.”

Aku menurut. Kengerian menyelimutiku. Ruangan garba mulai kehilangan isi. Cairan untuk kami berenang kian susut. Mengalir deras ke luar seolah disedot oleh kekuatan mahadahsyat. Aku tercekat.

399 kata

Iklan

11 thoughts on “[Flashfiction] Garba Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s