[Flashfiction] Mengaku Nabi

Coming Home Compressed

sumber

Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung. Joko sudah mengirim sms pada Nunik, sahabat almarhumah ibunya. Joko yakin, apa pun yang disampaikan pada Nunik akan segera diketahui semua orang.

Puluhan sms dan panggilan dari berbagai nomor singgah di ponsel Joko. Semuanya bernada sama : Kapan pulang?

Joko abai pada semua kecuali sms Nunik. Pesan dari perempuan lajang berumur empat puluhan dia balas singkat : tanggal 5 bulan depan.

Balasan Nunik justru membuatnya cemas.

“Kami akan menunggu.” Kami?

***

“Jokoooo!” Perempuan gemuk dengan dandanan penuh gaya menyongsong Joko di halaman. Tangannya terentang membentuk pelukan. Joko rikuh, menghindar dengan halus.

“Mbak sehat?”

“Sehaaat! Ayo!” Joko pasrah ditarik Nunik ke dalam rumah.

“Naah, lihat, orang-orang kampung udah nungguin kamu, Jok,” beritahu Nunik. Joko mengedarkan pandang. Ada Pak Lurah,  tetua kampung bahkan aparat desa. Senyum mereka mengembang seolah menyambut tamu gedongan. Mana Pak Imam?

Pak Lurah bangkit. “Ayo, masuk Jok. Jangan malu-malu.”

Joko mengangguk. Semua keramahan ini terasa begitu…palsu.

“Niiiing,” suara Nunik menggelegar. “Bawakan minum buat mas Joko-mu.”

Tak sampai semenit, seorang gadis cantik datang membawa segelas jus jeruk di atas nampan.

“Diminum, Mas.” Ning tersipu lalu gegas surut ke belakang. Joko segera menandaskan isi gelas.

“Bapak ibu semua, sebelumnya saya mohon maaf. Perbuatan saya lima tahun itu…” Joko menghentikan lidahnya. Matanya memindai semua wajah.

“Saya sungguh tidak menyangka, mimpi saya bikin riuh. Tapi saya memang benar-benar mimpi ketemu Kanjeng Nabi.”

Joko memejam, menanti reaksi semua orang. Lima tahun lalu, orang-orang yang sama di ruangan ini menghujatnya. Menuduhnya sekadar mencari sensasi. Pak Imam yang paling keras waktu itu.

“Kau membual, Joko!” tudingnya. “Kaupikir kau siapa? Cuma pemuda kampung! Kerjamu gitaran melulu di pos ronda. Sesekali malingin ayam warga. Lalu kaubilang Kanjeng Nabi datang di mimpimu?”

“Tapi, Pak…”

“Shalatmu masih bolong-bolong, kan? Ngajimu kacau, kan?”

Joko mengangguk. Pasrah.

“Jadi kenapa kau? Aku sudah haji, shalatku bagus, ngajiku fasih. Kurang apa? Kenapa bukan aku?” Pak Imam meradang. Musyawarah kampung bulat : Joko harus pergi.

Sebuah tepukan menyadarkan Joko. “Soal yang lalu, lupakan saja.” Kali ini Nunik yang bicara. Semua mengangguk-angguk.

“Joko,” Pak Lurah bicara. Sekilas Joko melihat wajahnya tersipu. “Kautahu, sewaktu kau mengaku memimpikan Kanjeng Nabi, ada wartawan lokal yang mendengar ceritamu lalu menuliskannya di koran. Lalu entah bagaimana koran besar pun ikut tertarik. Mereka semua ingin mendengar langsung darimu : seperti apa wajah Kanjeng Nabi? Seperti apa perawakannya? Suaranya? Semacam itulah.

“Lalu kampung kita jadi ramai. Wartawan koran, televisi, penduduk kampung lain, bahkan pejabat propinsi ikut datang. Warga kampung kecipratan rejeki. Memang saat itu kau sudah pergi. Kami katakan kau akan segera kembali. Awalnya mereka percaya, tapi lama-lama mereka bosan. Mereka pergi dan kampung kita jadi sepi lagi.”

Nunik menyela. “Kalau kau mau bantu kampung kita, aku restui hubunganmu dengan Ning. Keponakanku itu juga suka denganmu. Kamu pulang karena kangen dia, kan?”

Joko melirik ke balik tirai dapur. Dia yakin ada Ning di situ. Senyumnya mengembang.

“Bantu apa, Mbak? Ngaku ketemu Nabi?”

Nunik tersenyum melecehkan. “Jangan, itu ide basi. Kali ini, mengakulah sebagai Nabi.”

**

499 kata, untuk Prompt Quiz #6 – Kepulangan Joko

Iklan

26 thoughts on “[Flashfiction] Mengaku Nabi

  1. aulia berkata:

    Ini menggelitik. Dari judul aku mencoba menebak jalan cerita, tapi nggak berhasil, hehe. Pesannya yang paling aku suka.

    • Attar Arya berkata:

      Terima kasih sudah mampir, Aulia. Ide cerita ini sebenarnya dari ff 100 kata buat ikutan MFF Idol 1. Tapi waktu itu nggak ngerti ‘aturan main’, jadi yah hasilnya ‘nggak jelas’. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s