[Flashfiction] Elegi Senja

Prompt 78 Ryan

foto : koleksi Febriyan Lukito

Kauucapkan sebuah permintaan. Lelaki berwajah bijak di balik meja tinggi mengangguk. Kata dia,”Baiklah.” Senyummu mengembang getir.

***

Senja itu di atap gedung yang kau diami selama sepuluh tahun ini telah tertata rapi sebuah meja bundar. Sebotol wine, dua gelas tinggi, dan dua potong tart telah siap. Angin berdesir mengirimkan dingin. Kautertatih melangkah menuju salah satu kursi. Meski telah berlalu sepuluh tahun, lubang bekas peluru di kakimu masih saja mendatangkan ngilu.

“Dia jadi datang?” tanyamu pada lelaki berseragam yang siaga tak jauh dari meja. Dia mengedik.

Kau tertunduk. Matamu memerah menahan duka. “Dia belum memaafkan aku.” Lelaki berseragam hanya melirikmu sekilas lalu pandangannya kembali lurus ke cakrawala.

Sepuluh menit berlalu dalam hening. Merah di langit kini serupa matamu. Bola raksasa di angkasa kian tersungkur di balik awan gelap. Senja hampir musnah. Kauhela napas panjang, teramat panjang. Kau telah memutuskan.

“Aku tak lagi ingin semua ini. Bawa aku kembali,” pintamu. Lelaki berseragam kembali mengedik tak peduli. Dia bergerak mendekat. Tepat saat dia akan meraih tanganmu, pintu di ujung sana terbuka. Sesosok perempuan semampai ada di ambangnya.

“Alia,” bisikmu. Mendung di matamu sirna seketika bagai disapu badai. Kau berdiri gelisah menunggu. Lelaki berseragam tahu diri dan kembali ke tempatnya semula.

Perempuan semampai melangkah ragu mendekatimu. Wajahnya kering senyuman. Matanya bergerak gelisah.

“Duduklah, Alia,” pintamu. Tanganmu menarik kursi, mempersilakan tamu yang dinanti sedari tadi. Perempuan semampai duduk, wajahnya muram.

“Buat apa kau mau ketemu aku?” tukas perempuan semampai dengan pedas. Kauterhenyak meski sudah bisa menduga reaksinya.

“Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, Alia,” desahmu pilu. “Aku ingin meminta maaf untuk apapun kesalahanku padamu.”

Perempuan semampai berpaling, mengalihkan pandangan pada senja yang semakin tua. “Aku tak sudi.”

Lalu isak tertahan meningkahi kesunyian. Kautertunduk dalam. “Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

“Cinta?” perempuan semampai terusik. “Karena cinta kaubisa membunuh? Merenggut kebahagiaan orang yang kaubilang kaucintai?” Ada bara di mata perempuan semampai. Kau tak berani menantang tatapannya. Kauingat sepasang mata itu; mampu pancarkan cinta yang memabukkan pun api yang membakar jantung.

“Aku tak bisa biarkan kaumenderita bersamanya, Al,” kaucoba memberi alasan. Perempuan semampai kian murka. Dia melompat dari kursinya hingga benda itu terbanting ke lantai. Jemari kurusnya menudingmu.

“Dan menurutmu aku bahagia saat jadi istrimu? Begitu?” Dadanya naik turun menahan amarah. Lelaki berseragam masih diam, namun siaga.

“Kau dan dia sama saja : mengaku mencintaiku tapi gemar menyakiti hati dan tubuhku. Bedanya dia memenuhi segala kebutuhanku juga anakku. Asal anakku bisa tumbuh baik, aku rela menderita. Tapi kau membunuhnya! Kau menganggap dirimu lebih baik, hah? Kau lebih busuk!” Sambil mengumpat, perempuan semampai melemparkan gelas dan piring berisi tart ke arahmu. Kau tak mengelak. Dahimu tergores dan berdarah. Tapi luka hatimu jauh lebih parah.

“Alia… sayang,” panggilmu memelas.

“Cih! Jangan panggil aku sayang,” perempuan semampai mencibir jijik. “Kau tak pantas. Dan seharusnya aku tak datang kemari. Buang-buang waktu!” Dia bergegas berlalu ke arah pintu. Kauterisak di kursimu. Harapan mendapat ampunan punah sudah. Lima langkah, dan perempuan semampai tiba-tiba berbalik.

“Jam berapa kau dieksekusi? Aku mau hadir menyaksikan kaumeregang nyawa.”

490 kata.

Iklan

20 thoughts on “[Flashfiction] Elegi Senja

  1. onix berkata:

    Huaduh… jadi lelaki yang siaga itu, polisi? apa penembak jitu gitu, mas?
    lah, knp si istri mau nikah sm si pembunuh? :/

    *maap yak banyak nanya* wkkwk

    • Attar Arya berkata:

      hmm,.
      jadi gini ceritanya…
      si lelaki adalah terpidana mati yang akan dieksekusi malam harinya. permintaan terakhirnya adalah makan bersama mantan istrinya.
      saat mereka menikah, si lelaki bukan pembunuh.
      lelaki yang siaga adalah penjaga.
      demikian.
      🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s