[FF] Dilema

menandatangani

sumber

Tatapan Presiden menerawang menembus kaca yang melapisi lukisan besar di dinding kanan ruang kerjanya. Gambar persawahan yang asri : sawah menghijau, dangau kecil, dan keluarga kecil tengah tertawa bahagia.

Presiden menghela napas panjang. Matanya beralih pada berkas-berkas di atas meja. Jemarinya meraih pena.

“Pak, jangan diteken.”

“Siapa itu?!”

“Saya, Pak.”

Presiden mengedarkan pandang. Tak ada orang lain.

“Saya, Pak.” Sekali lagi suara lirih itu terdengar. Presiden terbelalak. Dangau di dalam lukisan telah kosong. Di pinggir bawah pigura empat kepala tersembul.

“Peraturan itu bakal bikin kami susah, Pak!” seru petani lelaki. Istri dan dua anaknya mengangguk-angguk.

“Teken saja, Pak!” Seruan keras terdengar dari sebelah kiri pigura petani. Beberapa sosok berdasi dan bergaun resmi bersedekap dengan jumawa.

“Kita akan menghadapi era pasar bebas, Pak. Kebijakan impor ini tak bisa lagi ditunda,” seru seorang perempuan berblazer merah tua.

“Jangan, Pak Presiden,” panggil istri si Petani. “Kami dulu yang memilih Bapak karena kami percaya. Jangan turuti mereka yang hanya mementingkan diri sendiri, Pak.” Matanya sayu.

“Dan kami yang mendukung Bapak dengan dana dan media yang kami miliki. Tanpa kami, Bapak bukan siapa-siapa,” sosok berjanggut tebal dalam pigura mengingatkan.

Jemari Presiden gemetar di atas kertas. Berikutnya hanya ada tangisan lirih, bahak puas, dan penyesalan mendalam.

200 kata

Iklan

20 thoughts on “[FF] Dilema

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s