Anak untuk Suamiku

ayah dan anak

sumber

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Perhatianku sesaat teralih dari deretan angka di layar monitor. Kulirik ponsel yang bergetar di samping setumpuk berkas. Pada pagi sibuk begini biasanya ponsel kumatikan, tapi karena Armada, suamiku, berjanji akan menelepon, ponsel kusetel dalam mode getar. Getaran ponsel berhenti beberapa saat kemudian. Jika memang penting, orang itu pasti akan menghubungiku lagi.

Ponsel bergetar lagi; ada pesan masuk. Kutekan tombol save di papan ketik dan meraih ponsel.

Mbak Bulan, ya?

Begitu isi pesan dari nomor tak dikenal. Hmm. Benakku mereka-reka siapa pengirim pesan ini. Semenit berlalu tak menghasilkan tebakan apa pun. Kuketikkan ‘ya’ dan menekan tombol ‘send’. Belum sempat kuletakkan benda berwarna hitam mengilat ini, sebuah pesan kembali datang.

Ini Amanda. Bisa kita ketemu, Mbak?

Amanda!

Nama itu menyeret ingatanku kembali ke masa yang belum terlalu jauh. Hanya berselang setahun lalu. Waktu itu…

Sebuah miscall menyentakku dari lamunan singkat. Heran, jika memang penting mengapa tak langsung menelepon saja, sih? Kutekan redial. Terdengar nada sambung sebelum langsung dimatikan.

Maaf, Mbak, aku lagi repot. Jika bisa ketemu, aku tunggu di Cafe D’Armour jam tujuh malam, ya.

Amanda kembali mengirim pesan.

Baiklah. Kuketikkan kata itu cepat-cepat. Benakku sibuk memilah-milah aneka kemungkinan yang akan dikatakan Amanda nanti. Suamiku hanya mengirim sms, dia akan pulang dengan pesawat malam. Barangkali dia masih sibuk dengan rekan bisnisnya.

***

Cafe D’Armour yang terletak di lantai dasar sebuah pusat perbelanjaan yang berdekatan dengan gedung kantorku malam itu mulai ramai. Para eksekutif muda yang bersantai seusai hari kerja yang padat memenuhi meja-meja; asyik mengobrol atau mencicipi hidangan. Musik lembut mengalun. Aku bertanya pada resepsionis, dan wanita ramah itu menunjuk ke sebuah meja di pinggir pagar pembatas. Ah, itu dia orangnya.

Ketika kami duduk berhadapan, sebuah perasaan aneh menyelinap ke kisi-kisi hati. Mungkin cemburu atau minder. Amanda perempuan yang cantik. Rambutnya tergerai, kulitnya putih, dan tubuhnya langsing. Sebuah kereta bayi ada di sampingnya. Oh..

“Saya Amanda, Mbak Bulan,” perempuan cantik itu berdiri dan mengulurkan tangan. Aku menyambutnya.

“Bulan,” balasku pendek.

Amanda menyibakkan rambut panjangnya yang ikut terurai saat dia sedikit menunduk untuk menyalamiku. Wangi sampo meruap. Kembali rasa iri menghampiri. Mas Armada tidak pernah cerita kalau Amanda secantik ini.

“Saya tahu nomor kontak Mbak dari teman Mas Armada, Pak Dino. Mungkin Mbak juga kenal.” Suara Amanda mengalun di telinga. Lembut dan empuk seperti gula-gula kapas. Tak heran dulu Mas Armada begitu tergila-gila padanya. Dulu. Atau masih?

“Ya, saya tahu,” balasku. “Jadi ada maksud apa Mbak Amanda minta bertemu saya?” Aku tak ingin dikuasai cemburu lebih lama. Aku harus tahu niat perempuan cantik ini secepatnya.

“Sebelumnya saya minta maaf, barangkali yang akan saya katakan ini menyakiti hati Mbak.”

Cepatlah katakan! Sekarang saja kau sudah menyakiti aku, gusar hatiku.

Amanda menunduk. Menggigit bibir ranumnya yang merah. Oh, Tuhan. Berapa kali bibirnya dan bibir Mas Armada pernah saling bertaut? Lalu rambut indahnya, berapa kali sudah tangan kokoh Mas Armada pernah membelainya? Tubuh itu? Aah, aku bisa gila jika memikirkannya.

“Selamat malam, Mbak, Ibu. Silakan mau pesan apa?” suara seorang waiter menyela kami. Aku meremas sofa lembut yang kududuki. Panggilan “ibu” pasti dia tujukan buatku. Sedangkan “mbak”..

“Saya pesan ice cappucino saja, Mbak. Kalau Mbak Bulan?”tanya Amanda. Kuatur napasku agar normal kembali, mengangkat wajah dan mencoba mengulas senyum.

“Sama.”

Waiter itu pasti merasakan aura kemarahan di wajahku. Senyumnya mendadak lenyap ketika kami bertatapan. Bukan salahnya karena memanggilku ‘ibu’. Dan bukan salahku jika saat ini aku merasa terganggu dengan sebutan itu. Dia berlalu dan kembali lima menit kemudian dengan dua gelas minuman.

“Jadi, katakan apa maunya Mbak Amanda ingin ketemu saya?” Kuulangi lagi pertanyaanku setelah waiter pergi. Dengan nada yang lebih tegas. Dan emosi yang makin sulit kutahan.

Amanda mengulurkan tangannya dan meraih kereta bayi di sampingnya mendekat. Sekarang terlihat jelas seorang bayi perempuan cantik sedang tidur lelap. Wajahnya bulat telur. Kulitnya putih merona. Kepalanya yang belum banyak ditumbuhi rambut, dihiasi bando merah. Bayi yang sangat cantik. Rahimku bergejolak. Tanpa sadar tanganku hinggap di perut.

“Ini Marsya. Umurnya enam bulan.”

Pikiranku sibuk mengalkulasi. Enam bulan ditambah sembilan bulan sama dengan setahun tiga bulan. Usia pernikahanku dan Mas Armada baru setahun. Apakah…

“Ini anak Mas Armada.” Bibir cantik itu menjatuhkan bom tepat di samping telingaku. Anak Mas Armada? Kecemasanku menemukan jawaban. Aku meraih gelas minuman di meja dan meneguknya tandas. Semoga dingin es bisa membekukan otakku yang mendadak panas.

Apa yang harus kulakukan saat ini? Apa yang bisa kukatakan? Marah-marah? Menuduh perempuan cantik ini berdusta? Atau dia ingin merebut Mas Armada? Atau….

“Mbak Bulan,” Amanda memanggilku. Tangannya meraih tanganku yang berpegangan erat pada tepi meja.

“Jangan pegang!” sentakku. Entah dari mana kemarahan itu berasal. Perasaan dikhianati? Tapi Mas Armada tidak berkhianat. Perbuatan itu mereka lakukan sebelum kami menikah. Dan bayi itu sama sekali tak berdosa.

Amanda melepaskan tangannya. Wajahnya menyiratkan takut.

Tiba-tiba aku merasakan dorongan untuk bangkit. Aku akan berdiri, menudingnya sebagai perusak kedamaian keluargaku, memakinya. Tapi justru kakiku lemah tak berdaya. Aku menahan isak dengan dua tanganku. Kubiarkan sebuah panggilan singgah di ponsel. Ketika benda persegi itu berdering untuk kedua kalinya, terpaksa kuangkat.

Dokter Rusdi!

Tanpa permisi aku bangkit perlahan dan menjauh menuju restroom. Kututup pintu dan menerima panggilan.

“Bagaimana hasil labnya, Dok?” Aku diam mendengarkan. Bersiap dengan segala kemungkinan.

Bisa datang saja ke klinik saya? Dokter Rusdi menawarkan. Aku menolak.

“Sama saja, Dok. Silakan beritahu hasilnya. Saya siap.”

Baiklah.

Dokter Rusdi lalu bicara. Dia sudah berusaha menyampaikan dengan kalimat yang ditata sehalus mungkin. Tapi tetap saja, bagiku seperti mendengarkan bom meledak di samping telingaku untuk yang kedua kali.

“Baik, Dok. Terima kasih. Nanti saya mampir ke situ.” Kututup telepon dan mengambil sehelai tisu di kotak dekat wastafel. Hidungku tiba-tiba mampet dan berair. Sesudah membersihkan diri, aku kembali pada Amanda.

“Sampai di mana kita tadi?” tanyaku menegarkan suara.

“Aku ingin menyerahkan Marsya pada Mas Armada dan Mbak Bulan. Sebagai ayahnya, dia berhak… Ahh…”

Amanda mengaduh ketika kurenggut tangannya kasar. Bibirku siap menyemburkan makian. Pembohong! Perempuan pengacau! Tapi tak jadi. Bayangan wajah Mas Armada menepiskan amarah. Sebuah pikiran melintas.

“Maaf.”

Amanda masih meringis, tapi tak balas marah. Dia tersedu. “Saat tahu aku hamil, Papa marah besar. Dia mengirimku ke Amerika hingga melahirkan di sana. Lalu aku diminta menyerahkan Marsya ke panti asuhan. Dia bilang, ada anak kenalannya yang ingin menikahiku, tapi aku harus menyimpan rahasia; meninggalkan anakku di panti adalah jalan yang termudah.”

Aku terperangah.

Amanda melanjutkan ceritanya. “Aku nggak mau anakku diasuh orang asing, Mbak. Lebih baik kuserahkan pada Mas Armada, sebab dia bapak bayi ini.”

Kemarahanku nyaris mencuat ke ubun-ubun mendengar kalimat ‘bapak bayi ini’, tapi bisa kutahan. Aku sayang Mas Armada. Barangkali bayi ini bisa membuatnya sayang padaku.

Kuhela napas panjang sebelum bicara.

“Aku akan membawa bayi ini. Dengan satu syarat.”

“Apa, Mbak?” Mata indah itu berbinar.

“Enyah dari kehidupan Mas Armada. Jangan pernah menghubungi dia.”

Aneh. Sekilas kulihat sinar kegembiraan di mata Amanda ketika dia menjawab, “Baik, Mbak. Aku setuju.”

Amanda bangkit dari kursi, membereskan tas, melirik sekilas pada Marsya dan berlalu. Ibu macam apa kau, Amanda? Membuang anakmu, meninggalkannya begitu saja? Tak ada pelukan sayang, tak ada air mata? Padahal kalau kau tahu seperti apa aku merindukan anak, kau pasti akan berpikiran lain!

“Aku pamit, Mbak.” Tanpa menunggu jawaban Amanda berlalu. Mungkin dia takut aku berubah pikiran.

Aku merenung lama sekali. Sepuluh jam lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Dan sepuluh jam kemudian aku ‘mendapat’ seorang anak? Tangisan Marsya membuyarkan lamunan. Gegas kuangkat dia. Mata indahnya yang tampak mengantuk membuatku terpana. Aku jatuh cinta. Tak peduli dia bukan anakku.

***

“Mas sudah pulang,” sambutku di depan pintu. Aku sedang menggendong Marsya yang tertidur.

“Anak siapa itu?” tanyanya keheranan. Aku ber-ssst- sambil beranjak ke kamar. Meletakkan Marsya di ranjang. Kuajak suamiku duduk.

“Begini, Mas..” Kuceritakan pertemuanku dengan Amanda tiga jam lalu. Kuperhatikan raut wajahnya yang berubah-ubah. Kecemasan menyelimuti pikiranku.

“Jadi aku punya anak!” soraknya. Aku ikut gembira meski tetap cemas. “Kau sempat bertanya di mana Amanda sekarang tinggal? Nomor teleponnya mana?”

“Bu-buat apa, Mas? Kau berniat kembali?” Gemetar suaraku saat mengucapkan kalimat itu. Hatiku sakit.

Mas Armada terdiam. Aku merasa bom ketiga akan meledak lagi. Di sekujur tubuhku.

“Bulan,” lirih suara Mas Armada,” kautahu kita menikah karena terpaksa, kan?”

Aku tak kuasa mengangguk.

“Kita berdua terpaksa. Kau dipaksa ayahmu karena masalah usia. Maaf, aku menyinggung hal itu. Dan aku karena patah hati kehilangan Amanda.”

Aku mulai menangis.

“Selama ini aku bersikap baik padamu. Aku mencoba setahun ini untuk mencintaimu, tapi aku tak bisa. Hatiku untuk Amanda. Ditambah lagi ternyata kami memiliki anak.”

Mataku buram.

“Bulan,” dia menarik tanganku, menggenggamnya erat.” Apa kauingin terus bersama lelaki yang tak bisa mencintaimu?” Matanya menatapku lekat. Aku ingin mengangguk, tapi tak sanggup.

“Ini demi kebaikanmu juga. Kebaikan kita semua,” katanya lembut. Aku terisak. Hancur. Suamiku, yang kupuja-puja ternyata tega berkata seperti itu. Kupikir adanya anak bisa membuatnya berusaha mencintaiku, meski anak itu lahir bukan dari rahimku. Aku bangkit menuju lemari ruang tamu. Kubuka laci atasnya dan menarik sebuah amplop. Kuserahkan kertas itu pada Mas Armada.

“Klinik Dr. Rusdi?”

Aku mengangguk. Mas Armada menelusuri hasi pemeriksaan lab. Matanya terantuk pada kesimpulan akhir : azoospermia. Dia mendongak, matanya berkaca.

“Amanda bohong, Mas. Marsya bukan anakmu. Kau yang mandul. Bukan aku.”

1500 kata tidak termasuk keterangan

Keterangan : Azoospermia adalah suatu keadaan dimana air mani (semen) tidak mengandung sperma.

Iklan

45 thoughts on “Anak untuk Suamiku

    • Attar Arya berkata:

      Hai, Nella.. Marsya itu anaknya…… :p | Makasih udah mampir, yah. Bulan kemarin (Maret) aku bener-bener males nulis. Setelah lebih sebulan vakum, akhirnya nulis juga. Itu pun cuma 100 kata. 🙂

  1. Ryan berkata:

    Uih. Kirain endingnya Bulan memang gak bisa hamil. Ternyata… Terus. Itu Amanda napa bohong? Atau dia gak tahu juga siapa si ayah sebenarnya? Atau ini berkah dariNya buat Bulan? Atau…. Ah kebanyakan atau nih saya.

    Keren mas Attar. As always.

  2. Dicko Andika berkata:

    Entah kenapa dalam bayanganku Bulan wanita solehah dan berjilbab. Kayaknya Bulan datang ke klinik untuk buat laporan palsu tentang kemandulan mas Armada :D.
    Gambaran tokohnya kurang jelas, tumben. Biasanya kamu detail bang masalah lekuk tubuh.. #eehhh

  3. linda berkata:

    ini kalo diubah dikit misal si bulan cintanya ke anak itu karena dia belum punya anak juga (walau nikahnya baru setahun) bakal oke juga tuh. jadi inget juno. keren, sayang di syarat GA ga boleh ya. bikin lagi! :))

    • Attar Arya berkata:

      kan emang Bulan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama Marsya. 🙂 | Jadi, walau baru nikah setahunan, Bulan tahu, Armada nggak cinta dia. Makanya dia khawatir, kok belum hamil juga. Ternyata masalahnya ada di Armada. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s