Aku Benci (Jadi yang Kedua)

banner mff 2 tahun

Semuanya terbayang lagi.

Decitan ban menggigit aspal, teriakan orang-orang di trotoar, suara benturan logam dengan benda lunak, dan – yang menggiriskan- sesosok tubuh melayang di udara diiringi jerit kematian menggedor jantung. Tubuh itu menghantam aspal setelah gravitasi berhasil menariknya. Darah mengalir. Sebuah kehidupan telah pergi.

Khanza mengeratkan kelopak matanya. Tidak! Tidak!

“Khanza.” Sebuah tepukan mendarat di bahu. Khanza mengerang.

“Pergi!” Khanza meradang. Penepuknya mundur tapi tak pergi. Perempuan muda berbaju putih itu mengeluarkan selembar foto.

“Lihat,” tunjuknya. “Ini kamu, adikmu, dan mamamu.” Khanza masih abai.

“Siapa lelaki di samping kalian?”

Perempuan muda itu menunduk, memainkan ujung baju.

“Dia Amir, kekasih adikmu,” si perawat memberitahu.

Mulut Khanza terbuka tapi segera mengatup. Matanya kembali menerawang.

“Tampan, yah?” Perawat tersenyum kecil. “Kalau aku belum menikah, pasti sudah kupacari.”

Khanza memandang ke luar jendela kamarnya yang dicat putih.

“Mereka serasi. Tampan dan cantik.”

Khanza memeluk kakinya. Menggigit bibir.

“Pasangan sempurna. Anak-anak mereka harusnya jadi anak-anak yang manis, menggemaskan. Mereka…”

“Tidaaak!”

“Tidak?”

Mata Khanza membara. “Nayla merebut Amir dariku!” Dia menjerit-jerit.

Perawat itu bergeming.

“Amir mencintai Nayla.”

“Nayla mengguna-gunai Amir! Dan mama mendukung perbuatannya. Karena aku cuma anak tirinya!”

“Kau dendam?”

“Dendam? Aku benci mereka! Mereka pengkhianat!”

“Karena itu kau menabrak mereka?”

Khanza mendadak diam. Dia mulai mengisak. Pelan. Lalu berubah menjadi raungan.

“Aku cemburu, marah. Aku tak bermaksud untuk…”

Peristiwa itu kembali berkelebat; Amir dan Nayla terjatuh di trotoar; tubuh mama melambung, matanya membelalak; tubuh mama menghantam jalan; mama mati.

Perawat bangkit meninggalkan Khanza. Dia mengetuk pintu kamar, seorang penjaga membukakan. “Dia sudah mengaku. Siapkan pengadilan.”

251 kata

Iklan

14 thoughts on “Aku Benci (Jadi yang Kedua)

    • Attar Arya berkata:

      Iya, semacam itu Dika. Agak kurang penjelasan, memang. Sementara yang kumaksud adalah si (siapa sih namanya, aku kok lupa, haha) yang nabrak ini pura-pura terguncang jiwanya, supaya lolos dari hukuman. 🙂

  1. Just Neid berkata:

    Kalau ga salah, kalau udah kentara gejala psikis yg begitu, pasien ga bakal ditangkap dan diadili, kak. Trus yg menguji kondisi kejiwaan pasien bukan perawat. 😉

    • Attar Arya berkata:

      Betul, jika kondisinya memang labil/psikis terganggu. Hanya saja dalam cerita ini yang kumaksud, dia pura-pura terpukul. Ada kalimat yang menyatakan bahwa si Khanza ini seperti akan keceplosan bicara, tapi masih bisa menahan diri. Dan yang nanya-nanya ini maksudnya bukan perawat, tapi dokter yang berpakaian seperti perawat biar si Khanza nggak merasa diinterogasi. Halah, panjang amat yah ngelesnya. 😀 Singkat cerita : aku masih belum pas menyampaikan maksudku. Makasih yah udah mampir kemari. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s