[Cerita Pendek] Di Ujung Segala Penghujung

di ujung segala penghujung

sumber

bagian pertama : Rembulan Malang

bagian kedua    : Malam Berselimut Api

Dinding-dinding penjara lembab dan kotor. Kecoa berlarian ke sana kemari. Seekor sedang merayapi kaki Banu, selir dari sultan terdahulu.

“Hii…”

Asgar di sel sebelahnya mengangkat kepala. “Bibi, kau baik-baik saja?”

Pertanyaannya disambut isakan. “Bibi tak sengaja, Asgar. Ketika Gosini menampar bibi, serta-merta bibi mendorongnya. Dia jatuh menghantam ujung meja.”

Asgar diam. Dia seharusnya menghibur bibinya. Tapi apa gunanya?

Gegas langkah kaki menyentakkan mereka.

“Jahanara!” Banu dan Asgar sigap mendekat.

“Bibi!” Pipi jelita basah air mata. Sengguknya membuat iba. “Maafkan aku. Semua jadi berantakan karena aku.”

“Beta, beta. Ini takdir Mahakuasa.” Banu mencoba bijaksana, meski hatinya menjeritkan luka. “Semoga Sultan mengampuni kita.”

“Sultan tak akan mengampuni kalian!” Suara berat dan kering seorang lelaki menyahut. Semua orang terkesiap, menyadari siapa yang datang.

Mirza Murad, Tuanku, beri kami ampun,” pinta Banu. Dia bersimpuh di depan jeruji, tangannya terulur memohon.

Murad meludah. “Kalian bersekongkol membawa kabur calon istriku. Bahkan kalian membunuh Gosini.”

“Tidaak!” Asgar meradang. “Jahanara calon istriku. Hanya karena kau berkuasa dan kaya, kau tak bisa seenaknya merenggut milik orang lain!” Banu menggeleng-gelengkan kepala. Berulang kali bibirnya berucap, “Tak sengaja, tak sengaja.”

Murad bergeser ke sel Asgar. Jahanara mundur ke dinding. Tak sanggup melakukan apa pun.

“Oh, ya?” ejek Murad. “Kau tahu aku bisa melakukan apa saja, kan? Termasuk pada dia.” Murad melirik ke arah Jahanara. Tawanya membahana.

Asgar dicekam amarah. Dua tangannya terulur melewati jeruji, merenggut kerah jubah Murad. Tinju Asgar  melayang mengenai pelipis lelaki tua kepercayaan sultan, menjatuhkan surban di kepalanya. Murad terjajar ke dinding, di sebelah Jahanara. Murka. Murad memanggil penjaga.

“Buka selnya! Dan pegangi dia!”

Asgar tak berdaya. Dua penjaga memegangi tangannya sementara Murad melampiaskan amarah. Bertubi-tubi pukulan dan tendangan hinggap di tubuh Asgar. Darah. Darah mengucur di sekujur wajah. Jahanara dan Banu hanya bisa menjerit-jerit memohon ampun.

“Tuanku…. maafkan dia,” raung Banu. Jahanara mengisak. “Asgar… Asgar…”

Murad menghentikan amukannya. Bibirnya tersenyum puas. Dia beranjak meninggalkan tubuh Asgar tergeletak di lantai dingin. Sebelum berlalu, Murad menghampiri Banu.”Kalian sudah melecehkan martabat seorang Mirza Murad, diwan kerajaan. Kalian tak akan diampuni.”

Di ambang pintu Murad berhenti, lalu kembali menghampiri sel Asgar. Pada Jahanara dia berkata. “Dan kau Jahanara. Aku akan menikahimu tepat pada saat mereka mendapat hukuman.” Murad kembali berlalu tanpa menoleh.

Banu menatap kosong pada sosok yang menjauhi sel mereka. Lalu tatapannya beralih pada Jahanara sedang menangisi Asgar.

“Jahan…” suara Asgar lemah. “Jangan… menangis.”

Tangis Jahanara menghebat. Diangkatnya kepala Asgar ke pangkuan; bibirnya mengecup dahi pemuda yang dicintainya. Tetes-tetes bening mengaliri pipi.

“Jahan.” Gemetaran, tangan Asgar yang lebam meraih sesuatu dari saku : sebentuk kalung perak bermata batu safir merah.

“Simpanlah, kenang-kenangan dariku,” Asgar berbisik payah. Lalu matanya mengatup. Pingsan.

Dua orang penjaga kembali mendekat, mengusir Jahanara keluar dari sel. Mengunci barisan jeruji lalu menarik paksa tangan si dara.

“Aku tidak mau!” jerit Jahanara sambil meronta-ronta memegangi jeruji. Percuma. Mereka lebih kuasa. Salah satu dari mereka berkata pelan pada temannya.

“Liar juga calon istri keempat Mirza Murad ini.”

Temannya terbahak. Jahanara memucat.

**

Hukuman mati bagi para terdakwa selalu diadakan setelah Sang Sultan selesai melakukan dengar pendapat dengan rakyat. Sultan akan duduk di jharoka sementara satu demi satu rakyatnya menyampaikan keluh kesah juga permohonan. Kadang-kadang sultan menghadiri prosesi mengerikan itu, kadang tidak.

Seperti hari ini. Sultan sedang melakukan kunjungan ke negara sahabat. Menurut rencana, pekan depan baru dia kembali tiba. Urusan kerajaan dikendalikan dari negeri seberang, dibantu para menteri yang tinggal di kerajaan.

Eksekusi dilakukan di maidan, sebuah lapangan terbuka di bagian belakang istana. Di sebuah bangunan beratap dibariskan gaddi beralas satin sebagai baithak, area duduk para pejabat saat menyaksikan eksekusi. Di pinggir lapangan, rakyat berkerumun menyaksikan. Sultan sengaja membiarkan mereka hadir, sebagai pelajaran agar tak ada yang berani berbuat kejahatan. Di anak tangga terbawah, seorang hakim akan membacakan kesalahan tiap terhukum.

“Hukuman penggal akan dilaksanakan!” seorang penjaga berteriak. Seorang algojo berwajah keras dengan sebilah golok mengilat bersiaga.

Seorang terhukum, memakai pakaian putih dan mata ditutupi kain hitam digiring mendekati area penjagalan. Chappal yang diseret di kakinya menimbulkan bunyi getas. Hakim mengangkat catatannya.

“Najabat, bersalah karena melakukan pengkhianatan pada kerajaan. Menjual rahasia kerajaan pada musuh.”

Bahu terhukum gemetar. Sengguknya terdengar pilu. Algojo mendekat, goloknya terayun. Seutas nyawa lepas dari badan.

Satu demi satu terdakwa mendapatkan giliran. Terkadang, lebih dari satu orang dibariskan bersama-sama jika terbukti mereka bersekongkol melakukan kejahatan.

Sementara prosesi mengerikan itu berlangsung, kediaman Mirza Murad diliputi kepanikan.

“Calon pengantin menghilang!” teriak seorang ibu. Tangannya masih memegang sebuah ghagara bersulam zari emas, batu mulia, dan renda. Seorang lagi yang memegang kotak perhiasan juga terlihat bingung.

Murad tergopoh tiba di kamar rias. “Bagaimana bisa?” hardiknya. Jubah putihnya telah terpasang sempurna. Tinggal menyematkan sehra berhias permata di kepala.

Dua perempuan yang dihardik tak tahu hendak berkata-kata. Keduanya menggelengkan kepala.

“Semalam setelah hinabandi, dia mengeluh pusing. Setelah itu dia pamit hendak tidur.”

Murad semakin gusar.

“Pengawal!”

Murad memberi perintah agar seluruh pengawal mencari Jahanara ke seluruh penjuru. Murad duduk di gaddi kamarnya dengan hati panas.

“Gadis pembawa sial!” umpatnya. “Kau akan membuatku malu. Setelah kau kutemukan, kau akan kubuat menyesal telah mempermainkan seorang mirza.”

Lalu sebuah pikiran melintas di kepalanya. “Kau pasti hendak menemui kekasihmu sebelum dia dihukum mati, kan?”

Bibirnya mengilas senyum. “Ya, akan kuberi kau kesempatan itu. Lalu kau akan kunikahi.” Murad tertawa puas dengan pikirannya sendiri. Dia lalu beranjak menemui pelayannya dan minta disiapkan kendaraan.

Di maidan sendiri kini telah berbaris tiga terhukum. Dua perempuan dan seorang lelaki. Hakim membacakan catatannya. Sejenak dia mengernyit. Kertas catatannya sedikit buram. Seingatnya semua lembaran itu putih bersih. “Aku harus memarahi pelayanku karena lalai mengurusi kertas catatanku,” gumam hakim. Kemudian dia kembali membaca.

“Satti, bersalah karena telah membunuh menantunya sendiri.”

Ada sedikit suara berisik di belakangnya. Hakim menoleh, lalu bibirnya tersenyum. “Mirza Murad rupanya.”

Murad duduk di gaddi yang diambilkan penjaga. Tatapannya puas. Jahanara pasti ada di antara kerumunan orang itu. Dia akan menyaksikan kekasihnya mati. Tanpa sadar Murad tertawa kecil.

“Oh, maaf. Aku teringat sesuatu tadi,” katanya pada pejabat lain yang meliriknya.

Algojo kembali melakukan tugasnya. Selembar nyawa dia hantarkan ke akhirat.

“Bibi,” terdengar desahan putus asa dari lelaki yang sedang menanti ajal. Dia tak sanggup lagi menangis. Dia pasrah.

Giliran terhukum kedua yang akan dieksekusi. Kembali suara hakim bergema.

“Satti, bersalah karena membantu ibunya membunuh saudara ipar perempuannya.”

Isakan kencang terdengar dari sang terhukum. Bahunya berguncang hebat. Lelaki di sebelahnya menoleh dan terpaku. Suara itu! Hatinya berdebar kencang. Apalagi saat melihat ke arah bawah, dengan susah payah dia melihat kilatan sebuah benda yang diterpa cahaya. Sementara di atas gaddi, Mirza Murad tersentak. Tangisan perempuan di maidan menarik perhatiannya. Bukan, bukan tangisan itu yang mengagetkannya,  tapi kaki dan tangan si perempuan. Penuh hiasan inai.

“Jahanara!” serempak dua bibir mendesiskan satu nama : bibir Asgar dan Murad. Satu bisikan terkejut, satu lagi bisikan duka. Murad sontak berdiri hendak mencegah algojo beraksi. Tapi dia menyadari satu hal : itu akan menarik perhatian semua orang. Kasus ‘kejahatan’ Banu dan Asgar bisa saja ditinjau ulang. Apalagi jika sultan sampai mendengar hal ini.

“Setidaknya aku sudah mengganti nama-nama mereka. Mereka mati, tapi nama mereka tetap terjaga,” gumam Murad menghibur diri. Tak urung matanya memejam ketika suara desing golok membelah udara; terayun lalu menembus benda lunak;  membuatnya dicekam ngeri. Wajah jelita itu kembali terbayang.

Asgar gemetaran. Jahanara tak bersalah! Siapa yang membuatnya dihukum? Kenapa dia bisa ada di sini? Atau…Jahan, apa yang kau lakukan!? Asgar menangis menyesali nasib. Tapi dia tak punya banyak waktu. Hakim telah selesai membacakan catatannya; algojo siap menunaikan tugas.

Golok tajam itu berdesing sekali lagi. Lalu derak kecil. Lalu semua selesai.

**

Catatan Kaki

  1. Zari                     : Benang emas atau perak yang digunakan untuk membordir
  2. Gaddi                  : tempat duduk
  3. Mirza                   : gelar untuk bangsawan
  4. Beta                    : panggilan sayang untuk anak
  5. Jharoka              : balkon yang terjulur ke luar, digunakan sultan saat dengar pendapat   dengan rakyat.
  6. Diwan                  : bendahara
  7. Chappal              : sandal
  8. Ghagara              : rok panjang berlipit
  9. Sehra                 : hiasan kepala yang dikenakan pengantin laki-laki pada upacara pernikahan
  10. Hinabandi           : upacara, bagian dari pesta pernikahan; pada saat inilah pacar dibubuhkan ke tangan dan kaki                                      pengantin perempuan.
Iklan

8 thoughts on “[Cerita Pendek] Di Ujung Segala Penghujung

    • Attar Arya berkata:

      Aku suka kak, cerita kerajaan India zaman dahulu. Sejak ‘keracunan’ cerita Taj Mahal, nih.. hehe.
      Istilah-istilah itu juga aku ‘kutip’ dari buku-buku serial Taj Mahal. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s