[Flashfiction] Malam Berselimut Api

malam berselimut api

sumber

(bagian pertama : Rembulan Malang)

Banu hilir mudik di ruangan depan rumah peristirahatannya. Sesekali nyeri menyerang tulangnya, memaksa dia sejenak beristirahat. Batinnya diremas cemas. Berkali-kali ia mengintip keluar.

Derap langkah kuda melegakan hatinya. Itu mereka! Banu membuka pintu. Keheranan.

“Mana Jahanara?” tuntut Banu melihat Asgar datang sendiri.

Lelaki muda itu menggeleng tak paham. “Dia tak ada, Bibi.”

“Bagaimana bisa? Sudah kuberitahu tempatnya.”

Asgar duduk di gaddi beralas satin. “Seharusnya bibi yang membawanya kemari.”

“Tidak! Akan ketahuan jika dia pergi denganku siang tadi.”

Keduanya bisu. Hening merajut kalut. Hingga terdengar sayup suara debum langkah gajah diikuti getaran halus. Sebentar kemudian pintu diketuk kasar.

“Bibi saja.” Banu beranjak membuka pintu. Dia terperanjat.

“Gosini! Ada apa kau datang malam begini?”

“Kaget?” ejek Gosini sinis. Dia masuk tanpa dipersilakan. Dua pengawalnya menunggu di beranda.

“Aku tahu yang kalian lakukan.” Gosini tersenyum licik ketika mengatakan kalimat itu. Bibir merahnya mengerucut. “Aku mendengar rencanamu.”

Wajah Banu memucat. Gosini tertawa puas. “Sultan akan menghukum kalian. Kalian akan dibuang!”

“Kau bicara apa, Gosini? Ah, pasti kau lelah. Mari minum chai di dalam.” Banu berseru memanggil pelayan. Tangannya menyilakan Gosini menuju ruang santai.

“Kau licik, Banu!” tuding Gosini. Matanya membara. “Kau menjodohkan Jahanara keponakanku dengan Asgar. Untung aku segera tahu.”

Banu tak jadi menuangkan teh. Tangannya yang memegang gelas mengambang di udara. Wajahnya berubah kaku. “Mereka saling cinta. Tak boleh ada yang memisahkan!”

“Banu!” Gosini meradang. “Mirza Murad adalah orang kepercayaan Sultan. Jika Jahanara jadi istrinya, kehidupannya akan terjamin.”

Banu mencibir. “Maksudnya kehidupanmu, Gosini? Sejak anakmu, selir kedua puluh Sultan, meninggal, kau kehilangan segala kemewahan. Dan kau bermaksud meraihnya lagi lewat Jahanara. Begitu, kan?”

“Lancang!” Gosini menjerit. Pekiknya sayup hinggap ke telinga dua pengawalnya. Mereka bergerak.

Asgar tegak menghalangi. “Mereka hanya sedikit bertengkar. Tak perlu risau.”

Dua lelaki tinggi besar itu menurut. Kembali duduk menikmati chai dan chappati.

Di dalam kamar, api amarah telah berkobar. Banu mengusap pipinya yang memerah. Rambutnya meriap di dahi. Di lantai, Gosini terbaring : pakaian berantakan, napasnya pendek-pendek, matanya mendelik.

Asgar tiba di ambang pintu. Dia tercekat. “Bibi, apa yang terjadi?”

Banu merapikan sari dan rambutnya. “Gosini jatuh. Kau awasi dia dulu.”

Di beranda, Banu memerintahkan dua pengawal Gosini untuk pulang. Keduanya menolak. Banu berang.

“Kau tahu aku, pengawal? Aku Banu Begam, selir Sultan Khan, ayah dari Sultan Agha. Kalian berani menolak perintahku?”

Dua pengawal enggan membantah, bergegas menuju gajah dan berlalu membawa howdah kosong.

Banu kembali ke dalam kamar. “Bagaimana Gosini?”

Asgar menolehkan kepala. Wajahnya pucat.

“Dia mati.”

(bersambung ke bagian ketiga : Di Ujung Segala Penghujung)

400 kata tidak termasuk catatan kaki.

  1. Gaddi : tempat duduk atau bantal duduk
  2. Chai : teh rempah-rempah
  3. Chappati : jenis roti
  4. Begam : julukan hormat bagi wanita, baik yang sudah atau belum menikah
  5. Howdah : alas duduk beratap, biasanya diletakkan di atas punggung gajah.
Iklan

10 thoughts on “[Flashfiction] Malam Berselimut Api

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s