[Flashfiction] Rembulan Malang

rembulan malang'

sumber

Perhatian seluruh penghuni zenana Kerajaan Agha purna terisap pada sosok ramping di tengah ruangan. Ia bagaikan purnama:  mata indah bercelak,  bindi merah di dahi, dada penuh dan pinggang ramping. Tapi di atas semua itu, karunia terindah yang dimiliki Jahanara adalah suara merdu serupa buluh perindu. Membuai, membelai, memabukkan.

Jahanara menyelesaikan nyanyiannya, membungkuk lalu mengangkat tangan tiga kali ke dahi. Taslim, salam penghormatan. Selir-selir raja, ibu-ibu dari para selir, dan saudara-saudara perempuan mereka bertepuk tangan.

“Engkau anugerah, Beta.” Seorang perempuan  tua – ibu dari seorang selir- menghampiri. Tangannya menggenggam jemari Jahanara penuh sayang. Perempuan lain datang bergabung. Matanya melirik.

“Banu, pergilah.” Yang diperintah menaati. “Kau seperti bidadari,” pujinya pada Jahanara.

Seketika Jahanara merasa tak nyaman. “Terima kasih, Bibi. Aku pergi dulu. ” Jahanara berjalan keluar zenana.

“Tunggu, Nak!”

Jahanara menghentikan langkah dan berbalik. Matanya bertaut pada Gosini, sepupu jauh permaisuri.

“Kau sudah memiliki kekasih?” tanya Gosini langsung. Jahanara menunduk. “Apa maksudmu, Bi?”

“Kupikir sudah waktunya kau bersuami. Benar tak ada kekasih, kan?”

“A-aku…”

“Aku kenal seseorang.”

**

Jahanara merapikan kain di kepalanya. Matanya melirik liar ke segala arah. Malam mulai renta, tapi yang dinantinya belum juga tiba. Dari jauh terdengar derap ladam kuda menghentak tanah. Jahanara menghela napas lega.

“Naik.” Lelaki di atas kuda berseru pendek sambil mengulurkan tangan. Sejenak Jahanara terpaku. Matanya menyapu sosok berbaju hitam dan berpenutup wajah. Hanya matanya yang terlihat. Suaranya serak teredam.

“Asgar?” Jahanara menyebutkan nama keponakan Bibi Banu yang diberi amanat oleh Banu untuk membawanya pergi.

“Naik!” ulang penunggang kuda tanpa menjawab. Jahanara menyambut uluran tangan si lelaki dan melompat naik. Tanpa menunggu waktu kuda langsung berpacu. Di atas pelana, ingatan Jahanara kembali pada siang hari tadi.

Mata Mirza Murad membulat. Gadis yang dituntun Gosini demikian molek. Gosini sudah mendandaninya dengan ghagara merah, choli, dan selendang. Gelang kakinya bergemerincing tiap melangkah.

“Duduk,” perintahnya.

Gosini dan Jahanara mematuhi.

“Mirza, ini Jahanara, anak sepupuku. Orangtuanya sudah meninggal. Dia…” Kalimat Gosini terputus kala Murad mengangkat tangan.

“Gosini, pergilah.”

“Bibi…” Jahanara memandang Gosini resah. Gosini memberinya tatapan menenangkan. “ Turuti saja maunya Mirza.” Dia lalu keluar dari ruangan bernuansa gading itu. Bayangan harta membuatnya sumringah.

Jahanara gundah. Tatapan Mirza Murad membuatnya merinding.

Lelaki tua itu berkata singkat. “Aku suka kau. Kita menikah besok.”

Ringkikan kuda saat kekang disentakkan mengembalikan diri Jahanara. Mereka telah sampai di halaman sebuah rumah besar yang dikelilingi pepohonan Neem.

“Ini rumah peristirahatan bibi Banu, Asgar?”

Lelaki penunggang kuda tak menyahut. Tangannya membuka kain penutup wajah.

“Mirza!”

(bagian kedua : Malam Berselimut Api)

(bagian keriga : Di Ujung Segala Penghujung)

400 kata tidak termasuk catatan kaki.

Catatan Kaki.

  1. Zenana : Kediaman wanita atau para perempuan yang menghuninya; berisi istri, selir, ibu, saudara perempuan, sepupu, atau perempuan mana saja yang membutuhkan naungan dan berkerabat dengan keluarga kesultanan.
  2. Beta : Panggilan sayang untuk anak.
  3. Mirza : Gelar untuk bangsawan
  4. Ghagara : Rok panjang berlipit
  5. Choli : Baju ketat, blus.
Iklan

20 thoughts on “[Flashfiction] Rembulan Malang

    • Attar Arya berkata:

      Hahaha, memang referensi beberapa nama dan istilah diambil dari trilogi (atau pancalogi kalau dihitung dari 2 buku sebelumnya : Taj Mahal dan Taj) Taj Mahal.
      Iya, ada 4 nama, tapi yang ‘berakting’ cuma 3. Peran Asgar ada di bagian kedua dan ketiga.
      Ini dari puisi ‘Yang Berhasrat untuk Meminangmu’, Dian.
      Terima kasih sudah mampir, yaaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s