[Flashfiction] Elegi Pagi

ilustrasi-vita

sumber

Aku berjingkat merapat di tembok. Sigap merunduk ketika sorot sinar senter menerangi. Setelah tak terdengar suara langkah, aku kembali bergerak menuju pintu besi  dengan gembok besar terpasang.

Tapi kini gembok itu terbuka. “Terima kasih, Martina,” gumamku. Terbayang kembali wajah teduhnya siang tadi.

“Jangan lupa,” pesannya singkat. Tangannya menggenggam jemariku, dan berlalu tanpa menoleh lagi. Di tanganku ada beberapa lembar uang.

Derit pintu terdengar samar saat kubuka. Martina pasti sudah meminyaki engsel-engselnya. Kebebasan untukku terbentang dalam kegelapan malam.

**

“Kalionya hampir empuk, Kak.” Kutekan-tekan daging sapi yang digenangi kuah dengan sendok kayu. Kuambil sejumput dengan sendok, mencecapnya. “Sudah pas,”gumamku pada diri sendiri.

Kak Imah menatapku. “Tidak dibikin kering saja?”

“Kak,” aku menatapnya dengan sayu.”Itu akan makan banyak waktu.” Sejenak perempuan yang rambutnya dibaluri warna keperakan itu terdiam.

“Andai kau tak kenal sama si Rudi. Pasti….” Kak Imah menggantung kalimatnya. Dia memberi penekanan pada nama itu. Aku tak ingin ikut larut dalam emosi.

“Sudah, tak usah dibahas lagi,” putusku.

Kak Imah berbalik menghadapku dengan mata basah. Rupanya dia belum selesai.  “Hartamu dikurasnya. Lalu dia pergi meninggalkan hutang besar. Atas namamu!”

Aku bergegas menghampiri dan langsung memeluknya. Aneh. Seharusnya aku yang diberi kata-kata penghiburan, tapi ini malah sebaliknya.

“Aku tahu kakak sayang aku. Sudahlah, aku akan baik-baik saja.”

Suara piring kaleng yang jatuh ke lantai mengejutkan kami berdua. Sepasang kaki keriput muncul dari bawah kain pembatas pintu.

“Imah? Siapa itu?” suara lemah terdengar.

Aku bergegas menyambut. “Aini, Mak.” Kupeluk tubuh tua itu hangat. Mata kelabunya basah, bibirnya bergetar. “Kau pulang, Ni.”

Aku membimbing Mak menuju dipan dan duduk di situ. “Iya, Mak.”

Tangan Mak terulur memegang pipiku. Mata kami bertemu. Aku melihat dia. Dia tak bisa melihatku.

“Kenapa kau selalu pulang sebentar saja, Ni? Kau tak mau dekat-dekat mamakmu?”

Pilu terbit di dasar hatiku.

“Aku….”

Hening. Kak Imah memilih memindahkan kalio ke wadah besar dari kaca ketimbang ikut menyahut. Tak ada yang bicara, hingga ketukan keras terdengar dari pintu depan. Kami bertiga terperanjat. Kak Imah menyongsong pintu depan. Aku mengikuti.

Seorang sipir penjara berseragam cokelat tegak di depan pintu. Dua orang mengiringi di belakangnya. Salah satunya adalah Martina. Wajahnya lesu.

“Kau, Aini, segera kembali ke sel,” perintah sipir.

Tanpa suara bibir Martina membentuk kata, ‘sidak’, lalu kembali mengatup.

Aku terdiam. Sebelum naik ke mobil penjemput, kupeluk Kak Imah yang terisak. “Pamitkan aku pada Mak, Kak.”

Mobil mulai menderum. Dari arah belakang masih kudengar sayup suara Mak memanggil namaku.

Iklan

8 thoughts on “[Flashfiction] Elegi Pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s