[Cerita Pendek] Arti Hidup Dalam Secangkir Kopi

life-is-like-a-cup

sumber

Life is like a cup of coffee.

Kalimat bernada filosofis itu aku temukan di sebuah warung kopi di tepi jalan kecil yang dirindangi dahan  pohon mangga. Ditulis dengan huruf besar-besar berwarna merah tua di atas kertas karton dan dipajang di bagian belakang meja racik. Di bawah tulisan itu, si penjual kopi menyiapkan minuman racikannya. Ada pula deretan kopi instan sachet bergantung rapi di dinding. Di sebelah kanan lelaki muda itu sebuah kompor terus menyala dengan api kecil, sementara di depannya terdapat penyaring bubuk kopi, dan gelas-gelas bersusun rapi.

“Pesan apa, Bang?” seorang remaja pria mendekat. Aku mengalihkan pandangan dari slogan di dinding dan kesibukan di bawahnya.

“Kopi. Tanpa gula.”

Remaja itu mengangguk lalu berlalu. Aku melangkah menuju meja di dekat jendela. Tak sampai semenit kemudian remaja berambut ikal itu telah kembali dengan sepiring kue. “Kopinya sebentar lagi, Bang.”

Aku mengangguk.

Mataku mengembara. Menjelajahi sudut-sudut warung kopi sederhana ini. Dindingnya masih tampak baik, meski warna hijaunya mulai pudar. Beberapa gambar artis tahun 90-an terpampang. Sebagian besar tak kukenali namanya. Meja dan kursi terlihat masih baru, mungkin belum setahun diganti. Meja-meja terisi dengan dua atau tiga lelaki setengah baya yang mengobrol akrab sambil menyesap secangkir kopi atau mengunyah kue.

Jadi seperti inilah tempat favorit Ayah.

Ah, Ayah.

Benakku mengeluh. Ingatanku terbang pada sosok kebapakan yang sangat kurindukan. Pada senyum dan tawanya yang hangat. Pada sorot matanya yang lembut.

“Ada sebuah tempat yang menyediakan kopi terenak sedunia,” kata Ayah suatu hari ketika kami sedang berkendara dengan sepeda motor menuju sekolahku. “Tempat itu ada di kota kelahiran Ayah. Suatu saat Ayah akan bawa kau ke sana dan kita nikmati kopi itu bersama.”

Kopi terenak sedunia?

Dia mengangguk mantap. “Paling enak sedunia,” jawabnya menegaskan. Pikiran mudaku hendak menyanggah, tapi tak jadi. Aku belum banyak mencicipi kopi. Jadi belum bisa kubandingkan rasa masing-masing racikan.

“Kapan Ayah ajak aku ke sana?”

Ayah tak langsung menjawab. Tangannya cekatan mengendalikan arah motor. Sebuah tikungan tajam ada di depan.

“Nanti waktu kau libur sekolah kita pergi ke kota itu.”

Dia menghentikan motor miliknya tepat di depan sekolahku. Motorku sedang rusak. Berhubung sekolahku searah dengan kantor tempatnya bekerja, aku memilih berangkat bersama. Pulang nanti aku bisa naik angkot.

Aku turun lalu merapikan seragam putih abu-abuku. Kuraih tangan Ayah dan menciumnya. Sebelum melajukan kendaraannya, Ayah menatapku sekali lagi. Lalu bibirnya tersenyum. Aku membalas senyumannya.

“Bang, ini kopinya,” remaja pelayan warung datang dengan secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap. “Maaf, agak lama. Pesanan sedang banyak.” Dia bergegas menyambut seorang tamu yang baru datang, meninggalkanku yang sedikit kaget karena tegurannya. Kualihkan pandanganku pada cangkir di atas meja. Di tengah pusaran air masih tersisa buih-buih putih. Aroma menyegarkan menyerbu penciuman. Memaksaku kembali lagi ke masa lalu.

“Kopi yang enak adalah kopi yang diperlakukan dengan penuh cinta,” kata Ayah di sebuah sore yang mendung. Aku yang sedang meniup kopi panas di cangkir menghentikan perbuatanku.

“Maksud Ayah?”

Ayah menyeruput kopi panasnya. Suara decak bibirnya menandakan kepuasan. “Sejak proses penanaman tanaman kopi segalanya sudah harus diperhitungkan. Kondisi tanah, curah hujan, kelembaban, hama harus diperhatikan baik-baik.”

Aku mengangguk-angguk.

“Setelah menghasilkan biji berkualitas, proses penuh cinta terus berlanjut. Biji kopi dikupas kulitnya, dijemur lalu disangrai. Proses sangrai ini sangat penting karena memiliki pengaruh kuat terhadap kualitas aroma bubuk kopi sebelum dan sesudah diseduh.”

Guntur meledak di langit. Bersahutan seolah bertindak sebagai pemberitahuan bahwa hujan sebentar lagi akan datang. Teras rumah terasa sejuk ketika angin mulai berhembus bersamaan dengan tetes-tetes hujan menyentuh tanah dan mengusir udara panas. Beberapa percikannya menyentuh wajahku.

“Bagaimana sekolahmu?” Ayah mengalihkan topik pembicaraan. Aku mengedik.

“Biasa aja. Nggak ada yang menarik.”

“Kau baik-baik saja?”

Aku mengedik dan memasang raut wajah datar. Ayah menatapku lekat. Kubuang pandangan ke arah jalan yang bertirai hujan. Mendadak ada sesak yang memenuhi dada. Aku tahu akan ke mana arah pembicaraan ini.

“Ayah minta maaf. Semua yang terjadi di luar kekuasaan Ayah,” akhirnya Ayah menyinggung luka itu lagi.

Aku mengembalikan pandangan padanya. “Aku nggak menyalahkan siapa-siapa, Yah. Itu urusan Ayah dengan Ibu.” Sesak di dada mulai hadir lagi.

Ayah harap kejadian ini tidak membuat konsentrasimu di sekolah buyar.”

Aku menarik napas dalam. Menunduk sambil mengaduk-aduk kopi di cangkir.

“Hidup itu mirip dengan kopi.” Ayah kembali berfilosofi. Aku mengangkat wajah.

“Maksud Ayah?”

Ayah tak langsung menjawab. Tangannya kembali mengangkat cangkir dan menyesap isinya penuh hikmat. Terlihat jelas kalau Ayah sangat menikmati prosesi minum kopinya.

“Yah…” tegurku tak sabar.

Ayah hanya tertawa kecil. “Dalam secangkir kopi, rasa apa yang bisa kau temukan?” Dia malah bertanya.

Aku menggaruk pelipisku. “Pahit.”

“Lalu?”

“Ya, ada rasa manis juga kalau ditambahi gula,” jawabku sekenanya.

Ayah tersenyum. “Kau benar. Tapi bukan cuma pahit dan manis yang akan kau temukan dalam secangkir kopi. Ada getir, juga asam. Seperti itulah hidup. Tak cuma menawarkan keindahan, tapi juga kepahitan. Seperti yang terjadi antara Ayah dan ibumu.”

Aku tertegun. Pikiranku melesatkan sebuah pertanyaan yang tak sempat kubendung. Meluncur begitu saja dari mulutku. “Ayah masih cinta sama Ibu, kan? Kenapa berpisah?”

Ayah terdiam mendengar pertanyaanku. Aku mengatupkan bibir. Ada hening yang menggantung di udara. Hanya suara hujan mematuki atap rumah yang terdengar. Sesekali guruh berdentum di udara.

“Kau pasti sudah pernah membaca kisah telur, wortel, biji kopi dan air panas, kan?” Ayah akhirnya membuka suara. Pertanyaanku tadi seperti tak ingin dijawabnya. Aku pun tak mengharapkan balasan.

Aku menggeleng. Ayah menarik tubuhnya ke belakang dan bersandar dengan nyaman di kursi teras yang terbuat dari bambu.

“Biar Ayah ceritakan, lalu tariklah sebuah kesimpulan.”

Aku setuju.

“Saat tiga benda tadi dicampurkan dengan air panas, apa yang akan terjadi?” Bukannya bercerita Ayah malah mengajukan pertanyaan. Sejenak aku berpikir sebelum menjawab.

“Wortel jadi lembek, telur jadi keras, dan biji kopi tetap jadi biji kopi.”

Ayah menatapku bangga. “Betul sekali. Lalu apa artinya itu?”

Aku menggaruk-garuk pelipisku sekali lagi. “Memang apa artinya?”

“Artinya adalah,” Ayah menghentikan kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan setelah menarik sarungnya hingga ke dada. “saat kita bertemu dengan permasalahan dalam hidup, jangan seperti wortel yang semula keras berubah menjadi lembek, dan jangan pula seperti telur yang isi dalamnya berubah. Jangan biarkan persoalan hidup mengubah dirimu. Jadilah seperti biji kopi yang tak berubah, justru dia mengeluarkan keharuman dari dalam dirinya.”

Ayah menyeruput sisa kopinya yang tinggal sepertiga. “Kau mengerti yang barusan Ayah katakan?”

“Iya, Yah,” akhirnya aku menjawab.

Kami lalu diam dengan pikiran masing-masing. Pelajaran yang Ayah beri barusan sungguh berkesan di benakku. Aku bertekad menjadi seperti biji kopi yang tetap tegar menghadapi panasnya persoalan hidup. Perpisahan Ayah dan Ibu tak boleh membuatku jadi anak yang lemah. Aku harus bangkit menghadapi setiap masalah. Aku pasti bisa. Pasti bisa!

“Bisa apanya, Bang?” sebuah suara menegurku. Aku menoleh kaget. “Eh, apa?”

Remaja pelayan warung itu tersenyum simpul. “Tadi saya tanya, kopi abang kan sudah habis. Apa mau ditambah lagi? Mumpung di luar sedang hujan. Eh, abang malah jawab ‘bisa’,” dia menjelaskan.

Aku merasa wajahku sedikit memerah. Entah apa saja yang tadi sudah kuigaukan. Kulirik jalan raya di depan warung. Tirai hujan tampak membungkus pemandangan. Jalanan mulai sepi, sementara warung semakin ramai. Pengguna jalan ada yang menumpang berteduh di luar warung dan ada pula yang memutuskan untuk masuk dan menikmati secangkir minuman panas.

“Ya, tambah segelas lagi,” kataku akhirnya. Remaja itu sigap berlalu dan dalam sekejap, secangkir kopi panas tanpa gula hinggap di atas meja. Lama kupandangi cairan kehitaman di dalam cangkir. Warna gelapnya mengingatkanku pada Ayah. Pada wajahnya yang kehitaman sebab aliran oksigen tak mampu menggapai urat-urat di kepalanya. Seutas tali tambang yang disangkutkan pada palang kayu di atas dapur yang jadi penyebab.

“Ayah, mengapa memilih jadi wortel?” gumamku masygul. Setetes air terjun dari mataku. Lalu lenyap ditelan air kehitaman.

***

Iklan

32 thoughts on “[Cerita Pendek] Arti Hidup Dalam Secangkir Kopi

  1. Reffi Dhinar berkata:

    kereen..saya terhanyut dalam ceritanya,,,, saya suka bagian ini,”saat kita bertemu dengan permasalahan dalam hidup, jangan seperti wortel yang menjadi lembek, dan jangan pula seperti telur yang isi dalamnya berubah. Jangan biarkan persoalan hidup mengubah dirimu. Jadilah seperti biji kopi yang tak berubah, justru dia mengeluarkan keharuman dari dalam dirinya”

    • Attar Arya berkata:

      terima kasih sudah mampir, Reffi.. Iya, filosofi tiga benda itu memang bagus. Btw, filosofi 3 benda itu bukan karangan saya. Saya hanya menyusun kata-katanya saja. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s