Ketegaran Hati Bibi Mar

ibu

sumber

Seberapa dalamkah lautan maaf seorang ibu? Saya yakin dan percaya, tak seorang pun bisa menduga. Seberapa tinggi gunung sabarnya? Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang tahu jawabannya. Berkali-kali dia disakiti, tetap saja tangannya terbuka. Dadanya lega menawarkan tempat bersemayam yang nyaman bagi keluarganya.

Perempuan ini yang akan saya bagikan kisahnya ini adalah saudara saya sendiri. Untuk menjaga kehormatannya, nama beliau saya ganti menjadi Ibu Mar. Beliau adalah kakak kandung almarhum Ayah. Meski begitu, kami terbiasa memanggilnya dengan sebutan Bibi Mar. Saya sendiri kurang mengerti mengapa dia tidak dipanggil dengan sebutan Uwak. Tapi itu tidak menjadi masalah.

Bi Mar sudah menjanda sekian tahun. Saya lupa – lebih tepatnya tak pernah tahu- sejak kapan. Saat saya masih duduk di sekolah dasar, yang saya tahu beliau sudah sendiri tanpa suami. Bi Mar membesarkan dua orang anak lelaki dengan bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan kayu lapis. Ketika perusahaan tersebut kolaps sekitar tahun 1995, beliau pindah ke perusahaan lain hingga akhirnya berhenti karena perusahaan melakukan pengurangan pegawai.

Kala itu beliau hanya tersenyum dan berkata,”Nggak usah kuatir. Rezeki Allah yang atur. Kalau DIA memberi, datangnya bisa dari mana saja.”

Untuk menyambung hidup, Bi Mar bekerja apa saja. Menjadi guru mengaji, membantu pekerjaan administrasi di kantor kelurahan, menjadi petugas sensus, dan lain-lain. Apa saja selama halal dan menghasilkan uang.

Awal tahun 90-an barangkali adalah salah satu masa yang menyenangkan buat Bi Mar. Anak tertuanya sedang menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Sumatera Utara sementara anak keduanya duduk di sebuah SMP. Keduanya terbilang anak yang cerdas dan penurut. Beliau masih memiliki pekerjaan yang baik. Kehidupan tampaknya berjalan lancar meski tak berlebihan.

Masalah mulai menghampiri ketika si sulung menamatkan pendidikannya di pesantren tersebut. Kembali ke ‘dunia nyata’ barangkali membuat anak tersebut ‘gegar budaya’. Kehidupan di pesantren yang serbateratur, dengan orang-orang baik di dalamnya membuat anak itu memandang ‘dunia luar’ dengan sudut pandang yang sama. Bahwa semua orang adalah orang baik. Bahwa tak ada orang yang memiliki sifat buruk dalam diri mereka. Ternyata dia salah. Lingkungan tempat keluarga Bi Mar tinggal bisa dikatakan merupakan lingkungan yang bermasalah. Meski masih dalam level ‘kecil-kecilan’, di lingkungan ini sering kedapatan pemuda yang mabuk, mengisap ganja, atau berjudi. Letaknya yang berbatasan dengan aliran sungai membuat kawasan ini menjadi tempat favorit pemuda-pemuda begajulan melakukan kegiatan terlarang mereka, sebab tempat ini sedikit tersembunyi dan gelap. Duduk-duduk di pinggir sungai sambil berjudi dan mengisap ganja sudah biasa.

Dan si sulung yang ‘polos’ ini perlahan mulai larut dalam kehidupan seperti itu. Dimulai dari bertemu teman lama, kumpul-kumpul, mencoba merokok, hingga akhirnya semua dicoba. Bi Mar bukannya tak tahu hal itu. Bukan sekali dua dia menasihati anaknya.

“Abang jangan ikut-ikutan bikin yang nggak baik,” kata Bi Mar pada anak sulungnya. “Boleh saja menasihati mereka, tapi jangan malah abang yang terjerumus.”

Awalnya si sulung mau mendengarkan perkataan ibunya. Tapi lama kelamaan dia merasa terganggu dan menganggap ibunya hanya bermaksud mengekang. Mulailah dia membantah petuah-petuah Bi Mar. Mulai mengacuhkan setiap larangan. Bi Mar sangat cemas akan keadaan anaknya. Dia menyadari anaknya mulai kecanduan. Dia takut suatu saat anaknya akan tertangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Suatu malam, ketakutannya nyaris menjadi nyata. Si sulung hampir tertangkap dalam sebuah razia mendadak yang dilakukan aparat. Hanya keberuntunganlah yang menyelamatkannya. Menjelang terjadinya razia, mendadak dia merasa sangat lapar dan pulang ke rumah. Saat perutnya telah terisi dan akan kembali ke tempat teman-temannya tadi berkumpul, berita penangkapan telah menyebar.

Bi Mar memutuskan untuk melarang anaknya keluar rumah sama sekali. Mulanya si anak memberontak, tapi dengan bantuan beberapa adik lelakinya, Bi Mar berhasil mencegah si sulung keluar rumah. Tapi tindakannya itu berakibat anaknya menjadi sakau. Keinginan untuk menikmati barang haram itu meluap-luap dalam diri si sulung. Si sulung menjadi emosian dan badannya sering gemetaran. Dengan berat hati Bi Mar mengikat kaki dan tangan anaknya itu di tempat tidur agar si sulung tidak meronta-ronta karena sakau. Tiap hari beliau duduk di dekat anaknya sambil membelai dengan penuh sayang.

“Abang, istighfar. Ingat Allah, ingat Allah.” Kalimat itu yang paling sering diucapkan beliau untuk menenangkan anaknya. Hari demi hari berganti. Berkat kesabaran dan doanya, si sulung berhasil mengatasi keinginannya akan barang-barang haram itu. Bi Mar merasa amat lega. Dia memutuskan mengirim si sulung ke rumah keluarga almarhum ayahnya agar dijauhkan dari lingkungan yang tak baik.

Kesabaran dan kebesaran hati Bi Mar mendampingi putra tertuanya melawan barang haram ternyata masih harus diuji sekali lagi. Kali ini si bungsu yang berbuat ulah. Mungkin karena repot mencari nafkah dan mengurus si sulung membuat pengawasannya pada si bungsu mengendur. Anak lelakinya yang satu ini terjebak dalam masalah yang sama : barang haram. Kali ini keadaan menjadi jauh lebih buruk. Nahas menimpa si bungsu. Dalam sebuah razia, dia tertangkap dengan barang bukti lintingan ganja di saku. Vonis penjara sekian belas bulan mesti dia terima.

Entah seperti apa remuknya hati Bi Mar. Anak-anak yang dia besarkan dengan sepenuh jiwa, yang dijaga sebisanya, mesti mengalami hal yang sama. Di depan keluarga Bi Mar terlihat tetap tegar. Setiap hari dia menyempatkan diri menjenguk si bungsu di penjara yang letaknya sekitar 500 meter dari rumah. Karena tak memiliki kendaraan, kadang dia meminjam sepeda saudara yang lain. Bila punya uang lebih dia naik becak, dan saat tak punya uang dia berjalan kaki. Kadang aku melihatnya berjalan kaki di trotoar, lalu kutawarkan boncengan sepeda motorku padanya. Wajahnya terlihat senang. Jika aku punya waktu luang, kutemani Bi Mar ke dalam penjara. Sekalian aku menjenguk abang sepupuku itu, melihat keadaannya. Di dalam penjara tak bosan-bosannya Bi Mar menasihati anaknya agar sabar menjalani hukuman.

“Sudah takdir Allah. Yang penting sekarang kita ikhlas dan berjanji sama Allah, juga sama diri sendiri untuk nggak ngulangin lagi kesalahan yang sama. Setelah dari sini, harus jadi orang yang baik.”

Si bungsu menyimak dengan tekun. Sesekali dia mengangguk-angguk sambil mulutnya mengunyah makanan yang dibawa ibunya.

Waktu terus berganti. Hari kebebasan tiba juga. Wajah Bi Mar sumringah. Dia siap menyambut si bungsu menghirup udara bebas. Di luar pintu penjara dua anak manusia itu berpelukan dan menangis.

Bi Mar sangat berharap kalau kesalahan anaknya ini adalah kesalahan yang pertama dan terakhir. Dia sungguh menginginkan anak bungsunya ini benar-benar tobat dan berusaha menjadi orang yang baik. Mencari pekerjaan halal lalu melanjutkan hidup dengan tenang, jauh dari masalah hukum. Selama beberapa tahun kemudian hidup berjalan tanpa ada gejolak berarti. Si sulung sudah menikah, menyusul adiknya yang sudah menikah duluan dan menghadiahi Bi Mar dua orang cucu. Di masa tuanya Bi Mar merasa masalah sudah berlalu, dia sudah berhasil menyelesaikan bermacam persoalan dengan sebaik-baiknya. Tinggal menikmati masa tua dengan bermain bersama cucu.

Tapi ternyata Bi Mar salah. Si bungsu kembali berulah. Meningkatnya kebutuhan hidup yang tidak dibarengi peningkatan penghasilan membuat si bungsu jatuh kembali pada kesalahan yang sama. Dan kesabaran serta kebesaran hati Bi Mar kembali diuji. Bi Mar hanya bisa pasrah pada Allah. Semoga Allah menganugerahinya kekuatan. Amiiin.

 

Iklan

6 thoughts on “Ketegaran Hati Bibi Mar

  1. Pakde Cholik berkata:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Sebenarnya lebih bagus jika ibu sendiri yang dikisahkan karena akan saya terbitkan menjadi buku
    Salam hangat dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s