[Cerita Hati] Kabur Saat Akan Disunat

sunat

sumber

Pernahkah kalian merasa sebuah cerita (fiksi) amat mirip dengan kisah hidup kalian sendiri? Apa yang kalian rasakan?

Sabtu kemarin, saat libur dan santai di rumah, kuhabiskan dengan membaca novel Amelia bikinan Tere Liye. Buku terakhir dari serial Anak-anak Mamak ini kupinjam dari seorang teman kantor. Seperti biasa, pengarang menyajikan kisah sederhana yang menyentuh perihal keteguhan hati seorang anak dalam menghadapi keterbatasan hidup (di kampung). Kejadian-kejadian sederhana disajikan dengan memikat. kok malah kayak jadi baser, ya? hehe.

Ketika tiba di bab 21 bertajuk Melarikan Diri aku tercenung. Awalnya sedikit ‘berdebar’ lalu akhirnya tertawa terpingkal-pingkal (dalam hati). Betapa tidak, kejadian yang diceritakan dalam bab itu mirip sekali dengan yang pernah kualami : melarikan diri saat akan disunat. Hahaha

Diceritakan bahwa pada saat liburan sekolah, tokoh Burlian dan Pukat, dua kakak beradik akan disunat. Awalnya mereka merasa takut, tapi setelah dinasehati oleh banyak orang termasuk guru mengaji mereka, Nek Kiba, keduanya merasa tenang. Tapi ketenangan itu buyar pada hari pelaksanaan. Keduanya kompak kabur dari dalam rumah saat mantri sunat tiba. Terbayang benar kelucuan yang terjadi saat itu.

Kalau ceritaku sendiri tentu tak seheboh itu. Dulu saat berumur sekira 10 tahun, aku disunat. Sunatnya pun nebeng abang sepupu yang berumur sekitar 13 tahun. Saat itu sudah jamak, seorang anak lelaki disunat setelah masuk SMP sedangkan aku masih duduk di kelas 5. Jalan pikiran orang tua pada saat itu barangkali untuk menghemat biaya. Pelaksanaan ‘pesta sunat’ dibiayai oleh orangtua abang sepupu, jadi orangtua hanya membayar biaya mantri dan obat-obatan.

Setelah seharian nampang di pelaminan – dan hanya mendapat sedikit kado, hiks..– akhirnya malam pun tiba. Abang sepupu mendapat giliran terlebih dahulu. Sementara menunggu, aku duduk di ruang tamu. Entahlah rasa apa yang ada dalam dadaku saat itu, yang jelas ketika tidak ada orang yang melihat, aku memilih kabur dari rumah. πŸ˜€

Kaburnya tentu tidak dengan berlari kencang ke sana ke mari, melainkan mengendap-endap di samping rumah, lalu pergi. Barangkali ada sedikit ‘keributan’ di rumah ketika menyadari aku telah hilang. Sekitar setengah jam kabur, ayah berhasil menemukanku di depan sebuah gang. Dia tidak marah, bahkan berusaha menenangkanku bahwa prosesnya tidak ‘sehoror’ yang kubayangkan. Aku menurut dan pulang bersama ayah.

Mirip dengan kisah bab 21 Amelia, sedikit cemas yang menggelayuti dada perlahan sirna saat melihat abang sepupu baik-baik saja. Dia sedang duduk santai di sofa. Singkat cerita, proses ‘pemotongan’ berjalan lancar. Dan berakhir sudah kecemasanku.

Hah! Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kuingat-ingat kejadian itu. Dan cerita novel Amelia berhasil membuatku menggali kembali ingatan lama, lalu mengajakku tertawa bersama. Hahahahaha.

Iklan

10 thoughts on “[Cerita Hati] Kabur Saat Akan Disunat

  1. @_menikdp berkata:

    hahaha πŸ˜†
    setidaknya gak nangis seperti keponakan saya bang πŸ˜› yang akhirnya gak jadi sunat bareng ama kakaknya (padahal udah di tempat mantrinya lo ckckckck) :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s